GRIB Jaya Cuci Tangan dari Kematian Bambang, Tudingan Kekerasan di Pejompongan Dibantah
Sabila JP•
Hukrim
Ketua Umum GRIB Jaya Hercules ketika konfersi pers di markasnya, Jakarta Barat. Minggu, (24/5/2026).(KOMPAS.com/ SHINTA DWI AYU)
Suarapantura.com - Bantahan keras dilontarkan DPP GRIB Jaya terkait tudingan keterlibatan anggotanya dalam kericuhan demonstrasi 27 Agustus 2026, termasuk kematian Bambang Setiawan, pedagang cermin, serta dugaan penganiayaan terhadap pelajar di kawasan Pejompongan, Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Kuasa Hukum DPP GRIB Jaya Wilson Colling menegaskan, peristiwa di Slipi, Palmerah, Jakarta Barat, yang melibatkan Ketua Umum GRIB Jaya Hercules, tidak bisa begitu saja dikaitkan dengan kerusuhan di Pejompongan.
Menurut Wilson, Hercules bersama sejumlah anggota GRIB Jaya berada di kawasan Slipi sekitar pukul 22.00-23.00 WIB. Mereka disebut turun ke jalan untuk membubarkan massa yang dinilai melakukan tindakan anarkis, bukan untuk menghalangi demonstrasi.
“Harus dipisahkan antara demo di DPR RI yang sudah bubar secara tertib setelah masyarakat menyampaikan aspirasinya, dengan kejadian yang kedua, yaitu tindakan anarkis, pembakaran, dan perusakan fasilitas umum di Slipi dan sekitarnya,” kata Wilson di Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Senin (31/8/2026).
GRIB Jaya: Hercules Tak Sampai Pejompongan
Wilson menegaskan Hercules dan massa GRIB Jaya tidak pernah mencapai kawasan Pejompongan. Rombongan, kata dia, tertahan di kawasan Slipi dan sekitar bekas Polres Jakarta Barat di Jalan S Parman.
“Ketua Umum dan massa tidak bisa tembus sampai ke Pejompongan karena areanya tertahan di Slipi dan Polres Jakarta Barat yang lama,” ujarnya.
Karena itu, GRIB Jaya menilai tudingan yang menghubungkan kelompoknya dengan kematian Bambang Setiawan harus dibuktikan secara terang.
“Mengaitkan kematian itu dengan GRIB sangat salah dan tidak sesuai dengan fakta sebenarnya,” tegas Wilson.
Namun, persoalan tersebut tentu tidak cukup diselesaikan hanya dengan bantahan. Siapa yang berada di lokasi Pejompongan saat kejadian, bagaimana kronologi sebenarnya, serta siapa yang melakukan kekerasan masih menjadi bagian penting yang harus dibuka melalui penyelidikan.
Bantah Pukul Pelajar
GRIB Jaya juga membantah tudingan anggotanya menganiaya pelajar bernama Faturrohman (18) di Pejompongan.
Wilson bahkan meminta publik memperhatikan ciri-ciri massa GRIB Jaya yang disebut menggunakan ikat kepala putih.
“Orang-orang kita (GRIB) itu sudah ada tandanya. Semua orang tahu dari video, ada ikat kepala putih. Sekarang, yang memukul dan menyeret itu pakai ikat kepala putih atau tidak? Kan jauh berbeda,” katanya.
GRIB Jaya meminta masyarakat tidak mencampuradukkan massa demonstran dengan kelompok yang melakukan tindakan anarkis.
Tetapi di tengah derasnya video dan informasi yang beredar di media sosial, identitas pelaku seharusnya tidak ditentukan hanya berdasarkan atribut pakaian. Bukti video, saksi, rekaman CCTV, serta hasil penyelidikan aparat tetap menjadi kunci untuk memastikan siapa yang benar-benar berada di lokasi dan terlibat dalam kekerasan.
Hercules Disebut Turun Tangan Bubarkan Massa
Wilson menjelaskan, tindakan Hercules di Slipi disebut merupakan inisiatif untuk mencegah aksi vandalisme meluas di wilayah Jakarta Barat.
“Ketua Umum punya inisiatif sendiri bersama masyarakat wilayah Jakarta Barat untuk menghalau agar tindakan vandalisme tersebut tidak melebar,” ujarnya.
GRIB Jaya menilai tindakan tersebut tidak berkaitan dengan upaya menghalangi penyampaian aspirasi masyarakat.
Di sisi lain, keterlibatan kelompok masyarakat sipil dalam membubarkan massa di tengah situasi kerusuhan juga tetap menyisakan pertanyaan mengenai batas kewenangan dan potensi terjadinya benturan di lapangan.
Karena itu, seluruh pihak perlu menunggu hasil penyelidikan agar tudingan maupun bantahan tidak berubah menjadi perang narasi semata.
DPP GRIB Jaya kini mengaku tengah mengumpulkan bukti untuk membantah tudingan keterlibatan anggotanya dalam aksi kekerasan.
Wilson menyebut berbagai tudingan yang beredar saat ini sebagai framing yang tidak sesuai fakta.
“Sekarang kita sedang mengumpulkan bukti-bukti, karena isu-isu yang beredar di luar saat ini hanya sekadar framing,” katanya.
Jika bukti telah lengkap dan memenuhi unsur hukum, GRIB Jaya menyatakan siap menempuh jalur hukum terhadap pihak yang dianggap menyebarkan tudingan merugikan organisasi.
“Ke depannya, jika memenuhi unsur, kita akan melakukan upaya hukum karena kita memang sudah dijelek-jelekkan dengan isu yang berkembang saat ini, padahal faktanya tidak sesuai,” ujar Wilson.
Kini publik menunggu bukan sekadar bantahan. Kematian Bambang Setiawan dan dugaan penganiayaan terhadap Faturrohman merupakan perkara serius yang membutuhkan jawaban berbasis bukti.
Jika GRIB Jaya memang tidak terlibat, penyelidikan yang transparan justru dapat menjadi jalan untuk membersihkan nama organisasi. Sebaliknya, apabila ditemukan anggota yang terlibat, proses hukum harus tetap berjalan tanpa pandang bulu.
Yang dibutuhkan publik bukan perang klaim, melainkan bukti: siapa berada di mana, melakukan apa, dan siapa yang harus bertanggung jawab.