Suarapantura.com - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus mempercepat upaya eliminasi tuberkulosis (TB) dengan memperluas skrining, pencegahan, dan pengobatan hingga ke tingkat desa. Hingga 9 Oktober 2026, sebanyak 421 desa dan kelurahan dari total 8.563 desa/kelurahan di Jawa Tengah telah menyandang status Desa/Kelurahan Siaga TB.
Komitmen tersebut ditegaskan dalam Deklarasi Desa Siaga TB di Pendopo Kabupaten Jepara, Selasa (13/10/2026). Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Sumarno hadir mewakili Gubernur Ahmad Luthfi. Dalam kesempatan itu, ia menekankan bahwa pemerintah desa dan masyarakat memegang peran penting dalam mempercepat penemuan kasus sekaligus memastikan pasien TB memperoleh penanganan yang tepat.
Menurut Sumarno, penanggulangan TB tidak bisa berjalan sendiri. Upaya itu membutuhkan sinergi pemerintah pusat, pemerintah provinsi, hingga pemerintah kabupaten dan kota. Ia juga meminta pemerintah kabupaten/kota semakin memprioritaskan penanggulangan TB melalui perencanaan, penganggaran, koordinasi lintas perangkat daerah, serta penguatan dukungan sampai ke desa.
Data hingga 9 Oktober 2026 menunjukkan penemuan kasus TB di Jawa Tengah mencapai 68.617 kasus atau 65,08 persen. Sebanyak 91,76 persen pasien di antaranya telah memulai pengobatan. Tingkat keberhasilan pengobatan TB sensitif obat tercatat 84,07 persen, sedangkan TB resisten obat sebesar 79,54 persen. Sementara itu, pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) baru mencapai 23,31 persen dari target 326.038 kasus.
Sumarno menilai capaian tersebut harus diikuti penguatan pencegahan, terutama bagi masyarakat yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC. Penemuan kasus sejak dini, pemeriksaan diagnostik, dan tindak lanjut pengobatan perlu dilakukan secara terintegrasi. Pemprov Jateng pun mendorong integrasi program Active Case Finding (ACF) TB dengan layanan kesehatan primer agar skrining, rujukan, pencatatan, hingga tindak lanjut pasien berjalan selaras.
Wakil Menteri Kesehatan Benyamin Paulus Oktavianus mengapresiasi pelaksanaan skrining ketat terhadap kontak erat pasien TB di Kabupaten Jepara. Dari target 161 titik skrining, kegiatan tersebut telah berlangsung di 107 titik. Ia menilai program tersebut sudah berjalan sangat baik dan perlu terus dievaluasi setiap tahun agar semakin baik.
Menurut Benyamin, tantangan penanggulangan TB bukan hanya memastikan pasien menjalani pengobatan, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memeriksa diri dan melakukan pencegahan sebelum jatuh sakit. Ia menekankan bahwa kontak erat pasien TB perlu mendapatkan obat pencegahan apabila memenuhi indikasi medis.
Di lapangan, skrining TB dipadukan dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan Dokter Spesialis Keliling (Speling). Hingga 12 Oktober 2026, program CKG di Jawa Tengah telah melayani 18,8 juta orang. Adapun program Speling telah dilaksanakan sebanyak 1.857 kali pelayanan dengan sasaran sekitar 131.500 orang.
Di Desa Sukodono, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, warga tampak antusias mengikuti pemeriksaan kesehatan gratis yang dirangkaikan dengan penelusuran kasus TB. Pemeriksaan yang tersedia meliputi pemeriksaan dahak untuk sputum BTA, rontgen, tekanan darah, tinggi badan, serta pemeriksaan laboratorium sesuai kebutuhan. Pelacakan atau tracing menyasar kontak erat pasien, mulai dari anggota keluarga, teman dekat, hingga rekan kerja, termasuk mereka yang belum menunjukkan gejala.
Kepala Puskesmas Tahunan Pramita Sukti Setyarini menjelaskan, pelacakan penting dilakukan untuk menemukan kasus yang belum terdeteksi, termasuk pada orang tanpa gejala. Melalui rontgen, petugas dapat melihat kondisi paru-paru untuk membantu mendeteksi kemungkinan TB. Skrining di wilayah kerja Puskesmas Tahunan diharapkan menjadi agenda rutin bulanan dengan menyasar sejumlah desa.
Pemprov Jateng juga meminta dukungan Kementerian Kesehatan untuk memperkuat kapasitas tenaga kesehatan, memperluas akses pemeriksaan diagnostik, meningkatkan pemanfaatan teknologi dan sistem informasi, serta mendukung inovasi penemuan kasus aktif yang dikembangkan daerah. Dengan penguatan skrining dan pencegahan, pemerintah berharap angka kesakitan TB dapat ditekan dan usia harapan hidup masyarakat dalam kondisi sehat meningkat.
Sumber: Kurasimedia, Jatengpos, Tempo, Kumparan, Antara.