Suarapantura.com - Pelaku usaha truk di Jawa Tengah meminta pemerintah daerah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi banjir menjelang datangnya musim hujan. Kekhawatiran itu muncul karena genangan banjir berpotensi melumpuhkan distribusi logistik, terutama di jalur pantai utara (Pantura) yang menjadi urat nadi angkutan barang.
Ketua DPD Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Jawa Tengah-DI Yogyakarta, Bambang Widjanarko, mengingatkan agar pemerintah daerah mengantisipasi saluran air yang tersumbat sampah serta risiko penurunan muka tanah. Menurut dia, pembersihan drainase dan pengoperasian rumah pompa menjadi kunci agar kawasan rawan genangan tidak berulang kali terendam saat hujan deras.
Bambang menyebut sejumlah wilayah pesisir utara, seperti Pekalongan dan Jepara, termasuk daerah yang perlu mendapat perhatian khusus. Jika jalur utama Pantura tergenang dan tidak bisa dilalui, kendaraan logistik terpaksa mencari jalur alternatif.
Pengalihan arus ke jalur pegunungan di wilayah tengah dan selatan Jawa Tengah dinilai bukan solusi yang murah. Rute memutar membuat jarak tempuh bertambah dan konsumsi bahan bakar meningkat, sehingga biaya angkut barang ikut naik. Kondisi tersebut pada akhirnya berpotensi menekan pelaku usaha sekaligus memengaruhi harga barang di pasaran.
Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan bahwa awal musim hujan 2026/2027 di Jawa Tengah tidak datang serentak. Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, Goeroeh Tjiptanto, menjelaskan bahwa sebagian wilayah diperkirakan memasuki musim hujan pada awal November 2026, di antaranya Banjarnegara dan Wonosobo.
Sementara itu, sebagian wilayah lain baru diperkirakan memasuki musim hujan pada pertengahan Desember 2026, meliputi Rembang, Pati bagian utara dan Jepara, serta Wonogiri bagian selatan. Perbedaan waktu tersebut membuat masyarakat tidak bisa menjadikan satu kali hujan sebagai tanda bahwa musim hujan telah benar-benar tiba.
BMKG juga menyebut pengaruh El Nino masih memengaruhi kondisi iklim. Puncak musim hujan diprakirakan berlangsung secara sporadis pada Januari hingga Maret 2027. Pada masa peralihan seperti sekarang, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih dapat terjadi di beberapa tempat, sehingga kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem tetap diperlukan.
Bagi pelaku usaha, ketidakpastian cuaca tersebut menjadi tantangan tersendiri. Selain menjaga kelancaran armada, mereka juga harus memperhitungkan risiko keterlambatan pengiriman dan kerusakan kendaraan akibat menerobos genangan. Karena itu, Aptrindo mendorong pemerintah daerah dan instansi terkait untuk memastikan infrastruktur drainase, pompa air, dan jalur alternatif benar-benar siap sebelum puncak musim hujan tiba.
Persiapan sejak dini dinilai jauh lebih murah dibanding menanggung kerugian ketika banjir sudah terjadi. Dengan drainase yang bersih, pompa yang berfungsi, dan koordinasi yang baik, distribusi logistik diharapkan tetap berjalan meski curah hujan meningkat.
Sumber: Bisnis.com, Lingkar.news