Memuat...IDR/USD 16.285▼ 0.12%IHSG 7.842,11▲ 0.64%Emas Rp 1.384.000/grJakarta 29°C ☁

Pemecah Ombak HexBRIck dan Mangrove Jadi Pelindung Baru Pesisir Timbulsloko Demak

M teguh•

Suarapantura.com - Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) memulai program perlindungan pesisir berbasis alam atau Nature-Based Solution (NbS) di Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Program ini memadukan pemulihan hutan mangrove dengan pemasangan alat pemecah ombak (APO) HexBRIck, dan menjadikan Timbulsloko sebagai lokasi percontohan.

Desa Timbulsloko dipilih karena tekanan abrasi yang sangat berat. Laju abrasi di desa tersebut mencapai rata-rata 279 meter per tahun, tertinggi di seluruh Pantura Jawa. Kombinasi penurunan muka tanah, perubahan iklim, pembangunan, abrasi, dan banjir rob telah mengubah garis pantai secara signifikan selama beberapa dekade. Dampaknya meluas hingga ribuan hektare tambak, permukiman, dan kawasan mangrove yang tenggelam akibat pengikisan pantai.

HexBRIck merupakan inovasi APO yang dikembangkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Strukturnya berbentuk heksagonal dan dirancang untuk mengurangi energi gelombang sekaligus membantu menahan sedimen. Sedimen yang terperangkap di sekitar struktur tersebut diharapkan membentuk kondisi yang mendukung pertumbuhan mangrove di bagian belakangnya, sehingga perlindungan fisik dan pemulihan ekosistem berjalan bersama.

Konser Andrea Bocelli di Borobudur Dipastikan Tetap Digelar 31 Oktober
Baca Juga · Jateng Pantura
Konser Andrea Bocelli di Borobudur Dipastikan Tetap Digelar 31 Oktober

Warga setempat dilibatkan langsung dalam pencetakan dan pemasangan HexBRIck. Sedikitnya 30 warga Timbulsloko terlibat, sebagian besar nelayan yang penghasilannya tidak selalu tetap. Melalui pekerjaan ini, warga memperoleh upah sekitar Rp120 ribu hingga Rp150 ribu per hari, dan dapat mengatur waktu: pagi bekerja membuat HexBRIck, sore mencari udang atau ikan.

Manfaat ekonomi juga dirasakan Sunarti (53), warga yang berjualan makanan ringan dan minuman di dekat lokasi percontohan. Ia menyebut pendapatannya naik dari sebelumnya yang sulit mencapai Rp20 ribu per hari menjadi lebih dari Rp50 ribu per hari. Suaminya, Suwardi, turut bekerja membuat HexBRIck sehingga tidak lagi harus merantau menjadi kuli bangunan di Kota Semarang. Sunarti juga menyebut lapak dagang dan rumahnya kini tidak lagi diterpa ombak seperti sebelumnya.

Baca Juga · Jateng Pantura
Kabur ke Hutan, Dua Terduga Pengedar Obat Keras Ditangkap di Purbalingga

Bagi Mat Sairi (53), warga Dusun Wonorejo yang tinggal di Timbulsloko sejak lahir, program ini menjadi jawaban atas penantian panjang. Ia menyaksikan lahan pertanian di desanya perlahan menghilang setelah air asin masuk sejak sekitar 1992. Sebagian sawah dialihkan menjadi tambak yang sempat produktif hingga sekitar 2010, sebelum abrasi semakin parah dan mencapai permukiman. Setelah tahap sosialisasi, warga kini melihat langkah nyata dan berharap perlindungan semacam ini ditambah agar kampung mereka semakin aman.

Sebagai lokasi percontohan, hasil pelaksanaan di Timbulsloko akan menjadi dasar pengembangan pendekatan serupa di sepanjang Pantura Jawa, dengan penyesuaian pada kebutuhan dan kondisi lingkungan masing-masing wilayah. Program ini tidak hanya diarahkan untuk mengurangi dampak gelombang laut, tetapi juga membuka kesempatan ekonomi bagi penduduk yang kehilangan sumber penghidupan akibat kerusakan pesisir.

Jaga Integritas APBD 2027, Sekda Jateng Ingatkan Anggaran Bukan Hak Pribadi
Baca Juga · Jateng Pantura
Jaga Integritas APBD 2027, Sekda Jateng Ingatkan Anggaran Bukan Hak Pribadi

Sumber: BSI News, LensaHukum (mengutip Detikcom).

Tags:
#demak#timbulsloko#pemecah ombak#mangrove#boppj#giant sea wall
Bagikan:Facebook𝕏 / TwitterWhatsApp

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tulis Komentar

Memuat verifikasi keamanan…