Suarapantura.com - Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) memulai program perlindungan pesisir berbasis alam atau Nature-Based Solution (NbS) di Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Program ini memadukan pemulihan hutan mangrove dengan pemasangan alat pemecah ombak (APO) HexBRIck, dan menjadikan Timbulsloko sebagai lokasi percontohan.
Desa Timbulsloko dipilih karena tekanan abrasi yang sangat berat. Laju abrasi di desa tersebut mencapai rata-rata 279 meter per tahun, tertinggi di seluruh Pantura Jawa. Kombinasi penurunan muka tanah, perubahan iklim, pembangunan, abrasi, dan banjir rob telah mengubah garis pantai secara signifikan selama beberapa dekade. Dampaknya meluas hingga ribuan hektare tambak, permukiman, dan kawasan mangrove yang tenggelam akibat pengikisan pantai.
HexBRIck merupakan inovasi APO yang dikembangkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Strukturnya berbentuk heksagonal dan dirancang untuk mengurangi energi gelombang sekaligus membantu menahan sedimen. Sedimen yang terperangkap di sekitar struktur tersebut diharapkan membentuk kondisi yang mendukung pertumbuhan mangrove di bagian belakangnya, sehingga perlindungan fisik dan pemulihan ekosistem berjalan bersama.
Warga setempat dilibatkan langsung dalam pencetakan dan pemasangan HexBRIck. Sedikitnya 30 warga Timbulsloko terlibat, sebagian besar nelayan yang penghasilannya tidak selalu tetap. Melalui pekerjaan ini, warga memperoleh upah sekitar Rp120 ribu hingga Rp150 ribu per hari, dan dapat mengatur waktu: pagi bekerja membuat HexBRIck, sore mencari udang atau ikan.
Manfaat ekonomi juga dirasakan Sunarti (53), warga yang berjualan makanan ringan dan minuman di dekat lokasi percontohan. Ia menyebut pendapatannya naik dari sebelumnya yang sulit mencapai Rp20 ribu per hari menjadi lebih dari Rp50 ribu per hari. Suaminya, Suwardi, turut bekerja membuat HexBRIck sehingga tidak lagi harus merantau menjadi kuli bangunan di Kota Semarang. Sunarti juga menyebut lapak dagang dan rumahnya kini tidak lagi diterpa ombak seperti sebelumnya.
Bagi Mat Sairi (53), warga Dusun Wonorejo yang tinggal di Timbulsloko sejak lahir, program ini menjadi jawaban atas penantian panjang. Ia menyaksikan lahan pertanian di desanya perlahan menghilang setelah air asin masuk sejak sekitar 1992. Sebagian sawah dialihkan menjadi tambak yang sempat produktif hingga sekitar 2010, sebelum abrasi semakin parah dan mencapai permukiman. Setelah tahap sosialisasi, warga kini melihat langkah nyata dan berharap perlindungan semacam ini ditambah agar kampung mereka semakin aman.
Sebagai lokasi percontohan, hasil pelaksanaan di Timbulsloko akan menjadi dasar pengembangan pendekatan serupa di sepanjang Pantura Jawa, dengan penyesuaian pada kebutuhan dan kondisi lingkungan masing-masing wilayah. Program ini tidak hanya diarahkan untuk mengurangi dampak gelombang laut, tetapi juga membuka kesempatan ekonomi bagi penduduk yang kehilangan sumber penghidupan akibat kerusakan pesisir.
Sumber: BSI News, LensaHukum (mengutip Detikcom).