Memuat...IDR/USD 16.285▼ 0.12%IHSG 7.842,11▲ 0.64%Emas Rp 1.384.000/grJakarta 29°C ☁

Suhu Jawa Tengah Makin Panas, BMKG Catat Lonjakan Ekstrem September-Oktober

M teguh•
Jateng Pantura

Foto: KBK News

Suarapantura.com - Suhu udara di Jawa Tengah terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, dan lonjakan paling ekstrem tahun ini terjadi pada periode September hingga Oktober. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat tahun 2025 sebagai tahun dengan anomali suhu terpanas dalam sejarah pencatatan iklim.

Pengamat Meteorologi dan Geofisika Ahli Madya BMKG Jawa Tengah, Zauyik Nana Ruslana, menyampaikan bahwa kenaikan suhu global telah berlangsung sejak akhir Perang Dunia II. Namun di Jawa Tengah, khususnya Kota Semarang, kenaikan tersebut menjadi lebih tajam sejak 2010.

Menurut Zauyik, kenaikan satu derajat Celsius mungkin terlihat kecil. Akan tetapi, perubahan sebesar itu dapat mengurangi kenyamanan warga sekaligus meningkatkan frekuensi anomali suhu.

Konser Andrea Bocelli di Borobudur Dipastikan Tetap Digelar 31 Oktober
Baca Juga · Jateng Pantura
Konser Andrea Bocelli di Borobudur Dipastikan Tetap Digelar 31 Oktober

Data terkini BMKG menunjukkan panas yang terasa saat ini bukan sekadar keluhan warga. Pada periode 6 hingga 9 Oktober 2026, suhu maksimum di Jawa Tengah mencapai 38,8 derajat Celsius, tertinggi di antara wilayah Pulau Jawa. Pada periode yang sama, suhu maksimum di Jawa Timur tercatat 37,4 derajat Celsius, sedangkan Banten berada pada kisaran 36 hingga 37 derajat Celsius.

Prakirawan BMKG, Dina Ike, menjelaskan bahwa cuaca panas tersebut dipengaruhi kombinasi sejumlah faktor atmosfer. Salah satunya adalah posisi semu Matahari yang pada September hingga Oktober bergerak dari sekitar ekuator menuju Belahan Bumi Selatan, sehingga Pulau Jawa menerima penyinaran Matahari yang cukup tinggi.

Baca Juga · Jateng Pantura
Kabur ke Hutan, Dua Terduga Pengedar Obat Keras Ditangkap di Purbalingga

Kondisi itu diperkuat atmosfer yang relatif kering dan minimnya tutupan awan, sehingga sinar Matahari langsung mencapai permukaan. Selain itu, fenomena iklim global berupa El Nino dengan intensitas sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif turut memengaruhi cuaca karena dapat menekan pembentukan awan hujan di Indonesia, termasuk Pulau Jawa.

Kenaikan suhu mengubah dinamika iklim mikro perkotaan, menggeser waktu musim, dan menurunkan kenyamanan fisik warga, terutama di permukiman padat. Ancaman panas perkotaan ini dirasakan langsung oleh warga permukiman padat dan rumah susun sederhana sewa di Semarang.

Jaga Integritas APBD 2027, Sekda Jateng Ingatkan Anggaran Bukan Hak Pribadi
Baca Juga · Jateng Pantura
Jaga Integritas APBD 2027, Sekda Jateng Ingatkan Anggaran Bukan Hak Pribadi

Riset Yayasan Kota Kita selama setahun terakhir di Kampung Kalicilik dan Rusunawa Kaligawe menemukan bahwa bentuk dan material bangunan rumah tinggal berperan penting dalam kemampuan warga menghadapi panas. Manajer Program Urban Resilience Kota Kita, Silvania Utami, menyampaikan bahwa temuan tersebut perlu dikaitkan dengan data ilmiah BMKG dan pengalaman hidup warga, sehingga dapat menjadi rekomendasi kebijakan hunian yang lebih inklusif dan tahan iklim.

Zauyik menyampaikan paparan tersebut dalam Lokakarya Validasi dan Diskusi Kelompok Fokus Studi Multi-Kasus Adaptasi Panas Perkotaan yang digelar Yayasan Kota Kita di Semarang pada Senin, 19 Oktober 2026.

BMKG memprediksi cuaca panas masih berpotensi berlangsung sepanjang Oktober 2026, terutama di daerah dengan atmosfer kering dan tutupan awan tipis pada siang hari. Cuaca panas diperkirakan berangsur mereda seiring datangnya masa transisi menuju musim hujan. Masyarakat diimbau menjaga kondisi tubuh, mencukupi kebutuhan cairan, serta mengurangi paparan sinar Matahari langsung ketika suhu terasa sangat terik.

Sumber: Kompas.com, KBK News.

Tags:
#jawa tengah#bmkg#suhu panas#semarang#perubahan iklim#musim kemarau
Bagikan:Facebook𝕏 / TwitterWhatsApp

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tulis Komentar

Memuat verifikasi keamanan…