Suarapantura.com - Sebanyak 22 kasus kekerasan yang terjadi di lingkungan pondok pesantren di Jawa Tengah tercatat dalam beberapa bulan terakhir, dengan 85 santri tercatat menjadi korban. Data tersebut dilaporkan sejumlah media dan menjadi sorotan menjelang peringatan Hari Santri Nasional 2026.
Catatan tersebut mendorong pemerintah daerah bergerak. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama pemerintah kabupaten dan kota terus memperkuat langkah pencegahan agar pesantren menjadi ruang yang aman, nyaman, dan ramah anak.
Di Kota Tegal, Wakil Wali Kota Tegal Tazkiyyatul Muthmainnah mengajak para santri berani bersuara atau speak up apabila mengalami maupun mengetahui tindak kekerasan di lingkungan pendidikan, termasuk pondok pesantren. Ajakan itu ia sampaikan saat membuka Sarasehan Santri Tahun 2026 dalam rangka Hari Santri Nasional di Pendopo Ki Gede Sebayu, Kompleks Balai Kota Tegal, Rabu (21/10/2026).
Kegiatan yang mengusung tema "Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Pondok Pesantren" itu menjadi ruang edukasi untuk meningkatkan kesadaran bersama dalam melindungi santri dari segala bentuk kekerasan.
"Santri harus berani speak up dan segera melapor kepada pihak terdekat. Jangan pernah dibodohi dengan modus ketaatan. Sudah banyak kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, jadi jangan takut melapor," kata Tazkiyyatul.
Ia juga mengingatkan agar nilai ketaatan dan penghormatan kepada guru (takzim) tidak disalahartikan untuk membungkam korban. Menurutnya, melaporkan kekerasan adalah langkah mutlak untuk menyelamatkan korban berikutnya.
Sarasehan tersebut menghadirkan narasumber dari Kementerian Agama dengan materi "Pesantren Ramah Anak: Memutus Budaya Diam", serta Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Jawa Tengah yang membawakan materi perlindungan anak dan jalur pelaporan yang aman. Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Tengah Saiful Mujab menyebut pondok pesantren harus menjadi tempat pendidikan yang aman, nyaman, asri, sejuk, dan indah.
Sehari sebelumnya, Selasa (20/10/2026), Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menyampaikan pesan serupa di Pondok Pesantren Roudhatul Mubtadin, Desa Pesantren, Ulujami, Pemalang, dalam momentum Hari Santri Nasional 2026. Di hadapan ratusan santri, ia menekankan pentingnya menolak segala bentuk kekerasan di lingkungan pendidikan serta memastikan lingkungan belajar bebas dari perundungan (bullying).
"Santri hari ini harus hadir memberi solusi. Tidak hanya fasih memahami kitab, tetapi juga terdepan dalam menjaga kebersihan serta memastikan lingkungan belajar bebas dari bullying," ujar Taj Yasin.
Menurutnya, perjuangan santri masa kini tidak lagi mengangkat senjata, melainkan merawat akhlak, memperkuat pendidikan, dan memupuk rasa empati antar sesama.
Plt. Bupati Pemalang Nurkholes yang hadir menegaskan komitmen Pemkab Pemalang menyokong keberlangsungan pesantren, mulai dari pembenahan akses jalan, insentif guru ngaji, jaminan sosial marbot, hingga bantuan operasional pesantren. Dalam kesempatan itu, Baznas Provinsi Jawa Tengah juga menyerahkan bantuan rehabilitasi sarana pesantren dan paket sembako.
Upaya menjadikan pesantren ramah anak di Jawa Tengah sendiri telah digalakkan Pemprov bersama Kanwil Kemenag dan UNICEF, antara lain melalui satgas penanganan kekerasan serta edukasi perlindungan anak di ribuan pondok pesantren.
Sumber: Detik Nasional, Harian Pemalang, RRI.