Suarapantura.com - Kontingen Kota Solo menutup Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah XVII 2026 di posisi kedua. Capaian itu kini dijadikan pijakan oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Solo untuk menyusun pembinaan yang lebih terarah hingga Porprov berikutnya pada 2030.
Dalam klasemen akhir, Solo mengumpulkan 221 medali, yang terdiri dari 79 emas, 72 perak, dan 70 perunggu. Hasil tersebut menempatkan Solo di bawah Kota Semarang sebagai juara umum, yang mengoleksi 177 medali emas, sedangkan Kota Salatiga berada di peringkat ketiga dengan 41 emas.
Ketua Kontingen Surakarta, Supriyanto, menyebut perjuangan para atlet sudah berjalan maksimal sejak tahap persiapan hingga seluruh pertandingan selesai. Menurut dia, capaian itu merupakan hasil kerja bersama atlet, pelatih, manajer, dan jajaran KONI Solo yang terus memantau perkembangan kontingen selama kompetisi berlangsung.
Ia juga menilai hasil di Porprov 2026 melampaui target yang sebelumnya disepakati bersama pelatih dan manajer. Pada Porprov sebelumnya, Solo finis di peringkat ketiga dengan raihan sekitar 73 medali emas, sehingga posisi runner-up kali ini menjadi peningkatan yang cukup berarti.
Selama penyelenggaraan, aspek keselamatan dan kenyamanan atlet disebut menjadi perhatian utama. Pemantauan dilakukan terhadap kondisi kesehatan, asupan konsumsi, hingga tempat tinggal atlet, agar seluruh kontingen dapat bertanding dalam kondisi yang aman dan nyaman.
Ketua Umum KONI Solo, Her Suprabu, mencontohkan sejumlah cabang olahraga yang prestasinya meningkat tajam. Cabang panahan, misalnya, melesat dari target tiga emas menjadi tujuh emas, sementara judo naik dari target satu emas menjadi lima emas.
Meski demikian, ia mengakui masih ada cabang olahraga yang belum mencapai target. Seluruh hasil tersebut akan dievaluasi sebagai bahan persiapan menuju Porprov XVIII yang dijadwalkan berlangsung di wilayah Kedu Raya pada 2030.
Sebagai pedoman jangka panjang, KONI Solo tengah menyiapkan Desain Olahraga Daerah (DOD). Penyusunan konsep itu dilakukan bersama Fakultas Keolahragaan Universitas Sebelas Maret (UNS), dengan menetapkan 20 cabang olahraga unggulan sebagai salah satu fokus pembinaan.
Melalui DOD tersebut, KONI Solo akan menentukan skala prioritas berdasarkan potensi dan perkembangan prestasi setiap cabang. Cabang yang menunjukkan hasil baik akan mendapat perhatian lebih, sementara capaian seluruh cabang tetap dievaluasi secara berkala.
Program Pusat Latihan Kota (Puslatkot) juga akan diselaraskan dengan DOD agar pembinaan berjalan lebih terarah. Keberadaan Sekolah Khusus Olahraga (SKO) dinilai turut mendukung proses pembibitan atlet sejak dini.
Dengan peta pembinaan yang lebih jelas, KONI Solo berharap posisi runner-up di Porprov 2026 bukan sekadar capaian sesaat, melainkan awal dari prestasi yang lebih berkelanjutan hingga Porprov 2030.
Sumber: Espos.id dan Peristiwa Solo.