Suarapantura.com - IHSG berbalik menguat menjelang pidato Presiden RI Prabowo Subianto di Gedung DPR pada Rabu (20/5/2026). Setelah sempat tertekan sejak pembukaan perdagangan, indeks saham domestik akhirnya melesat sekitar 1 persen ke level 6.430,97.
Pergerakan positif tersebut ditopang kenaikan ratusan saham di bursa. Tercatat sebanyak 382 saham menguat, sementara 260 saham melemah dan 316 saham lainnya stagnan.
Aktivitas perdagangan juga cukup ramai dengan volume mencapai 7,92 miliar lembar saham. Nilai transaksi tercatat menembus Rp4,83 triliun dengan frekuensi perdagangan sekitar 615 ribu kali transaksi.
Sebelumnya, IHSG dibuka di zona merah pada awal perdagangan pagi hari. Indeks sempat turun 0,29 persen atau melemah 18,47 poin ke posisi 6.352,20.
Tak lama setelah pasar dibuka, tekanan jual semakin besar hingga membuat IHSG sempat anjlok lebih dalam sekitar 1,35 persen.
Sejumlah saham yang aktif diperdagangkan pada sesi pagi antara lain Bank Central Asia (BBCA), ASPR, Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bumi Resources (BUMI), dan Chandra Asri Pacific (TPIA).
Pelaku pasar saat ini masih menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan diumumkan pada Rabu siang. Keputusan suku bunga acuan dinilai menjadi faktor utama yang memengaruhi arah pasar keuangan domestik.
Berdasarkan polling yang melibatkan 15 lembaga keuangan, mayoritas memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen. Sementara sebagian lainnya memproyeksikan BI masih mempertahankan suku bunga di level 4,75 persen.
Pasar menilai tekanan terhadap nilai tukar rupiah serta tingginya risiko global membuat peluang kenaikan suku bunga semakin besar.
Pada rapat sebelumnya di April 2026, BI memutuskan mempertahankan BI Rate di level 4,75 persen. Jika kali ini BI benar-benar menaikkan suku bunga, maka hal tersebut akan menjadi kenaikan pertama dalam dua tahun terakhir.
Tekanan terhadap rupiah disebut menjadi salah satu faktor utama. Selain itu, ketidakpastian global akibat konflik geopolitik dan tingginya harga energi dunia juga dinilai meningkatkan risiko inflasi impor bagi Indonesia.