Suarapantura.com - Penasihat khusus presiden bidang komunikasi Hasan Nasbi angkat bicara terkait pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto mengenai masyarakat desa yang disebut tidak menggunakan dolar Amerika Serikat.
Pernyataan itu sebelumnya disampaikan Prabowo saat menghadiri peresmian Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026), di tengah sorotan terhadap pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Menurut Hasan, ucapan presiden sebenarnya sederhana dan mudah dipahami masyarakat, khususnya warga desa. Ia menilai pernyataan tersebut tidak perlu ditafsirkan secara berlebihan.
“Paham dalam arti dua. Paham bahwa memang mereka secara tidak langsung tidak menggunakan dolar sama sekali. Mereka belanja pakai rupiah, jasa, tenaga, pertukaran barang semua berdagang pakai rupiah. Dan enggak terlalu memikirkan berapa kurs dolar pada saat itu,” kata Hasan dalam video di akun YouTube pribadinya, dikutip Rabu (20/5/2026).
Hasan menjelaskan, masyarakat desa dinilai memahami konteks ucapan Prabowo sebagai bentuk pesan sederhana dari seorang pemimpin kepada rakyatnya.
“Yang kedua, sebenarnya masyarakat desa tuh juga paham bahwa presiden bicara di depan mereka pada saat itu seperti wisdom orang tua berbicara di depan anak-anaknya,” lanjutnya.
Ia juga menegaskan pemerintah tidak tinggal diam menghadapi tekanan nilai tukar rupiah yang belakangan melemah terhadap dolar AS.
Hasan menyebut pada 5 Mei lalu, Presiden Prabowo telah memanggil Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang terdiri dari Menteri Koordinator Perekonomian, Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, hingga Komisioner Otoritas Jasa Keuangan untuk membahas kondisi ekonomi nasional dan tekanan terhadap rupiah.
Menurut Hasan, tidak semua kompleksitas persoalan ekonomi perlu dijelaskan secara detail kepada masyarakat, terutama warga desa.
“Kerumitan-kerumitan ini, kompleksitas persoalan ini enggak harus ditransfer ke masyarakat. Apalagi masyarakat desa. Nah, ini kan wisdom, wisdom dari orang tua terhadap anak-anaknya, wisdom dari pemerintah terhadap warga negaranya,” ujar Hasan.
Pernyataan Prabowo sebelumnya sempat memicu perdebatan publik dan kritik dari sejumlah ekonom yang menilai pelemahan rupiah tetap berdampak terhadap masyarakat desa melalui kenaikan harga barang dan kebutuhan pokok.