Memuat...IDR/USD 16.285▼ 0.12%IHSG 7.842,11▲ 0.64%Emas Rp 1.384.000/grJakarta 29°C ☁

Prabowo Geram, Penerimaan Negara RI Kalah dari Kamboja hingga Filipina

Sabila JP•
Nasional

Suarapantura.com - Presiden RI Prabowo Subianto melontarkan kritik keras terhadap lemahnya kemampuan fiskal Indonesia meski memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah. Dalam pidato RAPBN 2027 di rapat paripurna DPR RI, Rabu (20/5/2026), Prabowo mengaku terpukul setelah mengetahui rasio penerimaan negara Indonesia masih kalah dibanding sejumlah negara berkembang, termasuk Kamboja.

Dalam pidatonya, Prabowo menegaskan Indonesia sebenarnya memiliki kekuatan ekonomi besar dengan dukungan komoditas strategis seperti batu bara, nikel, tembaga, sawit hingga logam tanah jarang.

“Pasar kita bisa sebesar Eropa. Dan sungguh sumber daya alam kita melimpah. Kita punya komunitas-komunitas yang sangat berharga. Batu bara kita, nikel kita, tembaga kita, minyak kelapa sawit kita, logam tanah jarang, kekayaan laut yang melimpah,” ujar Prabowo.

Ia memaparkan, sepanjang 2025 devisa dari ekspor sawit mencapai sekitar US$23 miliar atau setara Rp391 triliun. Sementara batu bara menyumbang sekitar US$30 miliar dan ekspor paduan besi menghasilkan sekitar US$16 miliar.

Kebut Kelengkapan Barbuk, Penyidik JAM Pidsus Cecar Anak Buah Dirut CNI Derian Sampetoding
Baca Juga · Nasional
Kebut Kelengkapan Barbuk, Penyidik JAM Pidsus Cecar Anak Buah Dirut CNI Derian Sampetoding

“Tiga komoditas strategis ini menghasilkan devisa lebih dari 65 miliar dolar AS setara dengan Rp 1.100 triliun per tahun,” katanya.

Namun di balik besarnya nilai ekspor tersebut, Prabowo menilai Indonesia gagal mengoptimalkan penerimaan negara dari aktivitas ekonomi nasional.

“Hari ini Indonesia sebagai negara anggota G20 tapi rasio belanja negara kita terhadap produk domestik bruto kita adalah yang paling rendah diantara negara-negara G20. Demikian juga rasio penerimaan negara kita terhadap PDB kita adalah yang paling rendah diantara negara-negara G20,” tegasnya.

BNI Cetak Rekor Rp27,5 Triliun, Kasus Dana Pascatambang Rp112 Miliar Menguji Pengawasan
Baca Juga · Nasional
BNI Cetak Rekor Rp27,5 Triliun, Kasus Dana Pascatambang Rp112 Miliar Menguji Pengawasan

Berdasarkan data IMF 2025 yang dikutip dalam pidato tersebut, rasio penerimaan negara Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) hanya berada di kisaran 11–12 persen.

Angka itu disebut masih tertinggal dibanding Kamboja yang sudah mencapai 15 persen, India sebesar 20 persen, Filipina 21 persen, hingga Meksiko yang telah menyentuh 25 persen.

Prabowo bahkan mempertanyakan penyebab Indonesia tertinggal dari negara-negara tersebut.

5,7 Juta Akun Pelanggan Fore Kopi Bocor, Data Pribadi dan Riwayat Belanja Ikut Terdampak
Baca Juga · Nasional
5,7 Juta Akun Pelanggan Fore Kopi Bocor, Data Pribadi dan Riwayat Belanja Ikut Terdampak

“Kita harus introspeksi dan sadar dan berani bertanya kenapa kita tidak bisa kelola ekonomi kita sehingga pendapatan negara kita bisa setara dengan negara-negara seperti Filipina, Meksiko. Sekarang pun kita masih di bawah Malaysia. Apa yang sebabkan kita tidak mampu? Bedanya apa kita sama orang Malaysia, orang Kamboja? Bedanya apa kita sama orang Filipina?” katanya.

Menurut Prabowo, kondisi itu membuat ruang fiskal pemerintah menjadi terbatas di tengah kebutuhan pembiayaan pembangunan yang terus meningkat, mulai dari hilirisasi industri, subsidi energi, ketahanan pangan hingga pembangunan infrastruktur nasional.

Ia mengaku sangat terpukul saat pertama kali menerima laporan mengenai kondisi tersebut setelah resmi menjabat sebagai presiden.

“Sekali lagi, saya mengajak kita jujur kepada diri kita sendiri dan kepada rakyat kita, ini mungkin menyakitkan bagi kita. Saya merasa setelah saya terima data-data ini, beberapa minggu setelah saya jadi presiden, saya merasa seolah saya dipukul di ulu hati saya,” ujar Prabowo.

Tags:
#prabowo subiannto#kamboja#filipina
Bagikan:Facebook𝕏 / TwitterWhatsApp

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tulis Komentar

Memuat verifikasi keamanan…