Ketua DPP PSI, Bestari Barus, menanggapi kritik dari sejumlah politikus PDIP terkait rencana Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), yang disebut akan kembali aktif menyapa masyarakat melalui agenda kunjungan ke berbagai daerah.
Menurut Bestari, pernyataan yang meremehkan pengaruh politik Jokowi tidak sesuai dengan realitas politik yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Ia menilai figur Jokowi masih memiliki daya tarik kuat di tengah masyarakat dan pernah memberikan dampak signifikan terhadap perolehan suara partai-partai yang berada di lingkaran politiknya.
Bestari bahkan menyebut bahwa setelah hubungan politik antara Jokowi dan PDIP merenggang, partai tersebut mengalami kesulitan mempertahankan dominasi politik yang sebelumnya kuat.
PSI Soroti Efek Elektoral Jokowi terhadap PDIP
Dalam keterangannya, Bestari menilai keberhasilan PDIP pada sejumlah kontestasi politik sebelumnya tidak bisa dilepaskan dari popularitas Jokowi sebagai tokoh nasional.
Ia berpendapat bahwa selama Jokowi masih menjadi bagian dari PDIP, partai berlambang banteng tersebut memperoleh keuntungan elektoral yang besar. Namun setelah hubungan keduanya tidak lagi sejalan, kondisi politik berubah.
Poin yang Disorot PSI
Jokowi dinilai memiliki pengaruh besar terhadap suara pemilih nasional.
Efek elektoral Jokowi disebut pernah menguntungkan PDIP dalam berbagai pemilu.
PSI menilai hubungan yang memburuk antara Jokowi dan PDIP berdampak pada kekuatan politik partai tersebut.
Ganjar Pranowo dianggap tidak memperoleh dukungan politik yang sama setelah dinamika hubungan Jokowi dan PDIP berubah.
Rencana Safari Politik Jokowi Jadi Perhatian
Belakangan, muncul wacana mengenai agenda Jokowi untuk berkunjung ke sejumlah daerah dan bertemu masyarakat. Rencana tersebut memunculkan berbagai respons dari kalangan politik, termasuk PDIP dan PSI.
Bestari menjelaskan bahwa kunjungan Jokowi bukan semata-mata agenda politik praktis, melainkan bagian dari komunikasi dengan masyarakat yang selama ini masih memiliki kedekatan emosional dengan mantan presiden tersebut.
Ia juga menilai respons negatif yang terus diarahkan kepada Jokowi justru menunjukkan bahwa pengaruh politik mantan kepala negara itu masih menjadi perhatian berbagai pihak.
Pandangan Pengamat: Efek Jokowi Tidak Lagi Mutlak
Di sisi lain, sejumlah pengamat politik memiliki pandangan berbeda. Beberapa analis menilai pengaruh Jokowi terhadap elektabilitas partai tidak lagi sebesar saat dirinya masih menjabat sebagai presiden.
Direktur ABC Riset & Consulting, Erizal, misalnya, menilai safari politik Jokowi belum tentu mampu meningkatkan elektabilitas PSI maupun tokoh politik lain secara signifikan menjelang Pemilu 2029.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa pengaruh Jokowi masih menjadi perdebatan di kalangan pengamat politik, terutama terkait seberapa besar dampaknya terhadap peta kekuatan partai-partai nasional ke depan.
Dinamika Hubungan Jokowi, PDIP, dan PSI Menjelang 2029
Perkembangan hubungan antara Jokowi, PDIP, dan PSI diperkirakan akan terus menjadi salah satu isu penting dalam politik nasional.
PSI saat ini beberapa kali memberikan sinyal kedekatan dengan Jokowi. Bahkan sejumlah petinggi partai menyebut mantan presiden tersebut memiliki posisi khusus dalam arah politik PSI ke depan.
Sementara itu, PDIP masih berupaya memperkuat konsolidasi internal dan menyiapkan strategi menghadapi kontestasi politik berikutnya.
Kesimpulan
Pernyataan Bestari Barus menambah panjang dinamika hubungan politik antara PSI, PDIP, dan Jokowi. PSI meyakini pengaruh Jokowi masih memiliki nilai elektoral yang besar, sedangkan sebagian pengamat menilai efek tersebut mulai berkurang.
Perdebatan mengenai seberapa besar kekuatan politik Jokowi setelah tidak lagi menjabat presiden kemungkinan akan terus menjadi topik penting menjelang Pemilu 2029, terutama ketika berbagai partai mulai memetakan strategi dan figur yang akan diusung.