Geger Isu Reformasi Jilid II, Benarkah Kondisi Indonesia Saat Ini Mirip Krisis 1998?
Sabila JP•
Nasional
Suarapantura.com- Wacana munculnya "Reformasi Jilid II" mendadak menjadi perbincangan hangat setelah mantan Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Immanuel Ebenezer atau Noel, memperingatkan adanya potensi eskalasi politik besar yang dapat mengguncang pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Pernyataan tersebut muncul di tengah tekanan ekonomi yang sedang dihadapi Indonesia, mulai dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat hingga penurunan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Lalu, apakah kondisi saat ini benar-benar menyerupai situasi menjelang Reformasi 1998?
Noel Sebut Konsolidasi Gerakan Sudah Matang
Noel mengklaim telah terjadi konsolidasi besar yang melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari mahasiswa, buruh hingga kelompok masyarakat sipil.
Menurutnya, gerakan tersebut hanya membutuhkan satu pemicu untuk berkembang menjadi gelombang protes besar.
"Saya coba ingatkan Pak Prabowo, dalam bulan Juni-Juli ini akan ada peristiwa besar. Konsolidasi sipil, mahasiswa, buruh dan kelompok masyarakat sipil sudah selesai dan matang. Tinggal satu pemicu," kata Noel usai sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat.
Ia bahkan menyebut potensi munculnya "98 Jilid 2" apabila pemerintah tidak segera merespons berbagai persoalan yang berkembang.
Pelemahan Rupiah dan Ekonomi Jadi Sorotan
Peringatan Noel muncul saat kondisi ekonomi nasional sedang menghadapi tekanan.
Nilai tukar rupiah sempat menyentuh level terendah sepanjang sejarah terhadap dolar AS, sementara IHSG mengalami koreksi tajam dalam beberapa pekan terakhir.
Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran di berbagai kalangan, termasuk mahasiswa yang mulai menyuarakan kritik terhadap pemerintah.
Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) Jawa Tengah bahkan memberikan ultimatum kepada pemerintah untuk memperkuat nilai tukar rupiah.
Dalam aksi yang digelar di depan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah, mahasiswa memberikan tenggat waktu 18 hari bagi pemerintah untuk menunjukkan perbaikan kondisi ekonomi.
Jika tuntutan tersebut tidak terpenuhi, mereka mengancam akan menggelar aksi yang disebut sebagai Reformasi Jilid II.
Aksi tersebut kemudian mendapat respons dari Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi.
Menurutnya, pemerintah menghormati aspirasi mahasiswa dan saat ini terus melakukan koordinasi lintas sektor untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
"Kami yakin langkah-langkah yang dilakukan pemerintah akan mampu mengatasi tantangan ekonomi yang ada," ujarnya.
Golkar: Gejolak Politik Selalu Mungkin Terjadi
Sekretaris Jenderal Partai Golkar, Muhammad Sarmuji, mengakui bahwa dalam politik selalu ada kemungkinan munculnya gejolak.
Namun menurutnya, sebuah gerakan besar hanya akan terjadi jika terdapat alasan mendasar yang kuat.
Ia menyebut tiga faktor utama yang biasanya menjadi pemicu instabilitas politik, yakni daya beli masyarakat, kondisi fundamental ekonomi, dan legitimasi politik pemerintah.
Pada 1998, Indonesia mengalami kontraksi ekonomi hingga lebih dari 10 persen dan inflasi melonjak di atas 80 persen.
Sementara saat ini, meskipun rupiah mengalami tekanan, inflasi masih relatif terkendali dan neraca perdagangan masih mencatat surplus.
"Indonesia sedang mengalami stres ekonomi yang cukup berat, tetapi belum berada pada fase kehancuran ekonomi seperti tahun 1998," jelas Kristian.
Ancaman Terbesar adalah Krisis Kepercayaan
Kristian menilai ancaman yang lebih realistis saat ini bukanlah runtuhnya pemerintahan seperti pada era Reformasi, melainkan menurunnya kepercayaan publik terhadap pemerintah.
Menurutnya, apabila tekanan ekonomi terus memburuk, kebijakan dianggap tidak konsisten, dan saluran aspirasi masyarakat tidak berjalan baik, maka mobilisasi massa dalam skala besar dapat meningkat.
"Indonesia saat ini lebih dekat pada fase erosi kepercayaan publik daripada keruntuhan rezim seperti 1998," katanya.
Reformasi Jilid II Masih Sebatas Wacana?
Meski isu Reformasi Jilid II ramai diperbincangkan, sejumlah pengamat menilai kondisi Indonesia saat ini belum memenuhi syarat terjadinya perubahan politik besar seperti 1998.
Namun demikian, pemerintah tetap dituntut mampu menjaga stabilitas ekonomi, memperkuat komunikasi publik, dan merespons berbagai aspirasi masyarakat agar ketidakpuasan tidak berkembang menjadi gelombang protes yang lebih besar.
Dengan tekanan ekonomi yang masih berlangsung, perkembangan situasi dalam beberapa bulan ke depan akan menjadi faktor penting yang menentukan apakah wacana Reformasi Jilid II hanya menjadi peringatan politik atau berkembang menjadi gerakan yang lebih luas.