Suarapantura.com - Pemerintah melakukan penyesuaian terhadap program pelatihan bagi calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes) dan Koperasi Nelayan Merah Putih. Kepala Staf Kepresidenan, Dudung Abdurachman, menyampaikan bahwa durasi pelatihan yang semula dirancang selama dua bulan kini dipersingkat menjadi satu setengah bulan. Kebijakan tersebut diambil setelah dilakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program yang sedang berjalan.
Alasan Durasi Pelatihan Dipersingkat
Menurut Dudung, perubahan waktu pelatihan dilakukan untuk menyesuaikan kebutuhan peserta yang nantinya akan bertugas sebagai pengelola koperasi di berbagai daerah.
Evaluasi pemerintah menunjukkan bahwa materi pelatihan perlu lebih berorientasi pada kemampuan manajerial dan tata kelola koperasi dibandingkan aktivitas yang bersifat kemiliteran. Oleh karena itu, sebagian kegiatan fisik dan pelatihan militer dikurangi agar peserta dapat lebih fokus pada kompetensi inti yang dibutuhkan dalam mengelola koperasi.
Poin Perubahan Utama
Durasi pelatihan dipangkas dari sekitar dua bulan menjadi 1,5 bulan.
Materi manajemen koperasi mendapat porsi yang lebih besar.
Kegiatan fisik dan pelatihan bercorak militer dikurangi.
Fokus pembelajaran diarahkan pada kepemimpinan, pengelolaan usaha, dan tata kelola organisasi.
Evaluasi Program Setelah Muncul Sejumlah Insiden
Perubahan kebijakan ini tidak lepas dari evaluasi menyeluruh yang dilakukan pemerintah setelah sejumlah peserta program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) dilaporkan meninggal dunia saat mengikuti rangkaian pelatihan sebelumnya. Kondisi tersebut mendorong Kementerian Pertahanan untuk meninjau kembali metode pendidikan dan pembinaan yang diterapkan.
Sebagai tindak lanjut, pemerintah juga mengubah nomenklatur pelatihan dari Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) menjadi Latihan Pembekalan Bela Negara dan Manajerial. Beberapa materi teknis militer, termasuk latihan menembak, tidak lagi menjadi bagian utama program.
Fokus Baru: Mencetak Manajer Koperasi Profesional
Kementerian Pertahanan melalui Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait menjelaskan bahwa pelatihan kini lebih diarahkan untuk membentuk karakter, disiplin kerja, kepemimpinan, dan kemampuan mengelola koperasi secara profesional. Peserta tetap mendapatkan pembinaan kedisiplinan, tetapi dengan pendekatan yang lebih sesuai bagi warga sipil dan calon pengelola usaha.
Kompetensi yang Diprioritaskan
Manajemen koperasi modern
Tata kelola keuangan
Kepemimpinan organisasi
Pengembangan usaha masyarakat
Pelayanan anggota koperasi
Penguatan karakter dan integritas kerja
Pendekatan ini dinilai lebih relevan dengan tugas para calon manajer yang nantinya bertanggung jawab mengembangkan koperasi desa dan kampung nelayan di berbagai wilayah Indonesia.
Harapan Pemerintah terhadap Program Kopdes
Program pelatihan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah menyiapkan sumber daya manusia untuk mengelola jaringan Koperasi Desa Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih. Sebelumnya, lebih dari 35 ribu peserta direkrut untuk mengikuti pembinaan sebelum ditempatkan di berbagai daerah.
Dengan durasi yang lebih efisien dan materi yang lebih fokus pada aspek manajerial, pemerintah berharap para lulusan program mampu menjadi penggerak ekonomi desa sekaligus meningkatkan kualitas pengelolaan koperasi secara berkelanjutan.
Kesimpulan
Pemangkasan durasi pelatihan calon manajer Kopdes menjadi 1,5 bulan menandai perubahan arah kebijakan pemerintah dalam menyiapkan pengelola koperasi. Jika sebelumnya pelatihan banyak menekankan aspek kedisiplinan dan kemiliteran, kini fokus utama bergeser ke penguatan kemampuan manajemen, kepemimpinan, dan pengelolaan usaha koperasi. Langkah ini diharapkan dapat menghasilkan manajer koperasi yang lebih profesional dan siap mendukung pembangunan ekonomi masyarakat desa.