GRIB Jaya di Balik Nama Besar Hercules, Struktur Ormas yang Kini Disorot
Sabila JP•
Nasional
Foto Hercules Ketua Umum Grib Jaya. (Suber: bbc.com)
Suarapantura.com - Nama Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu Jaya (GRIB Jaya) kembali menjadi sorotan setelah kerusuhan yang terjadi di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada 27 Agustus 2026. Peristiwa tersebut menewaskan Bambang Setiyawan (59), warga Bendungan Hilir, setelah video dugaan penganiayaan terhadap korban beredar di media sosial.
Di tengah polemik tersebut, perhatian publik ikut tertuju kepada GRIB Jaya dan sosok Ketua Umumnya, Hercules Rozario Marshal.
Namun, tudingan keterlibatan organisasi maupun anggotanya dalam suatu tindak pidana tetap harus dibuktikan melalui penyelidikan dan proses hukum. Profil organisasi perlu dipisahkan dari tudingan terhadap individu yang terlibat dalam sebuah peristiwa.
GRIB Jaya Berdiri Sejak 2020
Berdasarkan Anggaran Dasar (AD) organisasi, GRIB Jaya secara resmi bernama Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu Jaya. Organisasi tersebut didirikan di Jakarta pada 2020 untuk jangka waktu yang tidak ditentukan.
Dalam AD, GRIB Jaya menyatakan berasaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Jati diri organisasi disebut berlandaskan kebangsaan, kerakyatan, religius, dan keadilan sosial.
Organisasi juga menyatakan dirinya independen dengan watak demokratis, merdeka, pantang menyerah, berpendirian dan terbuka.
Bawa Nama Kerakyatan dan Demokrasi
GRIB Jaya mencantumkan sejumlah tujuan organisasi, termasuk memberikan pendidikan dan pemahaman kepada masyarakat mengenai tanggung jawab dalam membangun Indonesia.
Organisasi ini juga menyatakan ingin mewujudkan kedaulatan rakyat dalam kehidupan demokrasi serta mendorong ekonomi kerakyatan menuju kedaulatan dan kemandirian nasional.
Dalam menjalankan fungsinya, GRIB Jaya mencantumkan pendidikan politik, penghimpunan aspirasi masyarakat serta penyiapan kader dengan memperhatikan prinsip kesetaraan.
Tugas organisasi yang tertuang dalam AD juga mencakup upaya mempertahankan cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945, memperjuangkan berbagai aspek kehidupan bangsa serta melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan negara.
Di atas kertas, konsep tersebut menempatkan GRIB Jaya sebagai organisasi masyarakat yang membawa agenda kerakyatan dan pengawasan sosial.
Namun, citra sebuah organisasi tidak hanya ditentukan oleh dokumen AD. Perilaku anggota dan tindakan pengurus di lapangan juga ikut menentukan bagaimana publik melihat organisasi tersebut.
Struktur GRIB Jaya Berlapis
GRIB Jaya memiliki struktur organisasi berjenjang. Kepengurusan terdiri atas Dewan Pimpinan Pusat (DPP), Dewan Pimpinan Daerah (DPD), Dewan Pimpinan Cabang (DPC), Pimpinan Anak Cabang (PAC), hingga Pimpinan Ranting.
Selain struktur tersebut, terdapat Dewan Pembina dan Dewan Penasehat yang berfungsi memberikan saran kepada jajaran pengurus.
Struktur berlapis ini menunjukkan bahwa GRIB Jaya memiliki jaringan organisasi dari tingkat pusat hingga daerah.
Keanggotaan organisasi disebut bersifat sukarela dan terbuka bagi masyarakat. Anggotanya terdiri atas anggota biasa dan anggota luar biasa. Sementara kader ditempatkan sebagai tenaga inti sekaligus penggerak organisasi.
Status keanggotaan dapat berakhir karena meninggal dunia, mengundurkan diri, diberhentikan, maupun melakukan pelanggaran hukum.
Dari Mana Dana GRIB Jaya?
Dalam AD, sumber keuangan GRIB Jaya berasal dari iuran anggota, usaha-usaha sah yang tidak bertentangan dengan tujuan organisasi serta sumbangan yang tidak mengikat.
Ketentuan mengenai sumber pendanaan ini menjadi bagian penting dalam tata kelola organisasi masyarakat. Apalagi organisasi dengan jaringan luas membutuhkan mekanisme pengelolaan keuangan yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.
Hercules Jadi Sosok Sentral
Nama Hercules Rozario Marshal tidak bisa dilepaskan dari sejarah GRIB Jaya.
Dalam bagian penutup AD, Hercules Rozario Marshal bersama Herdinand Hercules Rozario Marshall dan Herrel Hercules Rozario Marshall tercatat sebagai penggagas, pendiri sekaligus deklarator organisasi.
Hercules kemudian ditetapkan sebagai Ketua Umum GRIB Jaya untuk pertama kalinya.
Posisi tersebut membuat Hercules menjadi figur sentral dalam perjalanan organisasi.
Ketika GRIB Jaya mendapat sorotan, nama Hercules pun tak jarang ikut menjadi perhatian publik. Namun, hubungan antara seorang pimpinan organisasi dengan tindakan individual anggotanya tetap harus dilihat berdasarkan fakta dan bukti konkret.
Disorot Setelah Kerusuhan Jakarta
Sorotan terbaru terhadap GRIB Jaya muncul setelah kerusuhan pada 27 Agustus 2026.
Dalam perkembangan kasus tersebut, DPP GRIB Jaya sebelumnya telah membantah keterlibatan anggotanya dalam kematian Bambang Setiyawan maupun dugaan penganiayaan terhadap seorang pelajar di Pejompongan.
GRIB Jaya juga menyatakan tengah mengumpulkan bukti dan membuka kemungkinan menempuh jalur hukum terhadap pihak yang dianggap menyebarkan tudingan tanpa dasar.
Karena itu, persoalan yang kini menjadi pekerjaan aparat bukan sekadar membangun narasi siapa yang salah dan siapa yang benar. Identitas pelaku, kronologi kejadian, rekaman video maupun CCTV, keterangan saksi dan alat bukti lainnya harus menjadi dasar untuk mengungkap kasus tersebut.
GRIB Jaya memiliki hak untuk membantah dan membersihkan nama organisasinya. Publik juga memiliki hak untuk mendapatkan informasi yang terang.
Pada akhirnya, bukan besarnya nama organisasi atau kuatnya figur pimpinan yang menentukan kebenaran. Bukti dan proses hukumlah yang harus menjadi penentu.