Memuat...IDR/USD 16.285▼ 0.12%IHSG 7.842,11▲ 0.64%Emas Rp 1.384.000/grJakarta 29°C ☁

Anak Krakatau Kembali Meletus, Sejarah Kelam Tsunami 1883 dan 2018 Kembali Terbayang

Sabila JP•
Nasional

ERUPSI - Gunung Anak Krakatau tampak mengeluarkan lava panas. (Foto: IStockfoto.com)

Suarapantura.com - Anak Krakatau kembali menggeliat.

Gunung api yang berdiri di tengah Selat Sunda itu kembali menunjukkan aktivitas erupsi pada awal September 2026. Aktivitas tersebut sontak menjadi perhatian karena kawasan ini menyimpan sejarah panjang letusan dahsyat dan tsunami mematikan.

Erupsi terbaru mulai berlangsung pada 4 September 2026 dan masih menjadi perhatian otoritas hingga 6 September.

Abu vulkanik yang dihasilkan erupsi juga dilaporkan berdampak terhadap sejumlah wilayah dan menjadi perhatian dalam aktivitas penerbangan.

Gunung boleh berdiri di tengah laut.

Tapi ancamannya bisa menjalar jauh ke daratan.

Nama Anak Krakatau Tak Bisa Dipisahkan dari 1883

Anak Krakatau bukan gunung api biasa.

Gunung ini tumbuh di kawasan bekas kompleks Krakatau yang memiliki sejarah letusan besar.

Yang paling dikenang tentu letusan Krakatau 1883.

Pada Agustus 1883, aktivitas vulkanik Krakatau mencapai tingkat dahsyat. Letusan tersebut menjadi salah satu peristiwa vulkanik terbesar dalam sejarah modern.

Dampaknya bukan hanya suara ledakan dan material vulkanik.

KPK Geledah Djarum, Kasus Cukai Membesar: Di Tengah Rumor Haji Isam dan Masa Depan BCA
Baca Juga · Nasional
KPK Geledah Djarum, Kasus Cukai Membesar: Di Tengah Rumor Haji Isam dan Masa Depan BCA

Tsunami besar menerjang kawasan sekitar Selat Sunda.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat tsunami Krakatau 1883 sebagai salah satu tsunami nontektonik dalam sejarah Indonesia.

Artinya, tsunami tersebut tidak dipicu oleh mekanisme gempa tektonik seperti yang umum terjadi pada banyak tsunami.

Dari Puing Krakatau, Lahir Anak Krakatau

Letusan besar 1883 mengubah wajah kawasan Krakatau.

Setelah peristiwa tersebut, aktivitas vulkanik kembali berlangsung dan kemudian melahirkan gunung baru yang dikenal sebagai Gunung Anak Krakatau.

Gunung tersebut terus tumbuh di kawasan bekas Krakatau.

Erupsi demi erupsi terjadi sepanjang perjalanan sejarahnya.

Karena itulah, ketika Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas, perhatian terhadap gunung ini bukan tanpa alasan.

Ada sejarah panjang yang membuat kawasan tersebut harus terus diawasi.

2018, Tsunami Kembali Menerjang

Sejarah kelam Selat Sunda kembali terulang pada 22 Desember 2018.

Kebut Kelengkapan Barbuk, Penyidik JAM Pidsus Cecar Anak Buah Dirut CNI Derian Sampetoding
Baca Juga · Nasional
Kebut Kelengkapan Barbuk, Penyidik JAM Pidsus Cecar Anak Buah Dirut CNI Derian Sampetoding

Saat Anak Krakatau mengalami erupsi, terjadi longsoran material atau lereng gunung ke laut.

Material yang masuk ke laut kemudian memicu tsunami.

Gelombang tsunami menerjang pesisir Banten dan Lampung.

Peristiwa tersebut kembali menunjukkan bahwa bahaya Anak Krakatau bukan hanya berasal dari lontaran material vulkanik.

Ada ancaman lain yang jauh lebih sulit dideteksi masyarakat di pesisir:

tsunami akibat aktivitas gunung api.

Bukan Gempa, Tapi Longsoran Gunung

Tsunami Selat Sunda 2018 juga menjadi pelajaran penting dalam mitigasi bencana.

Berbeda dengan tsunami yang dipicu gempa bumi bawah laut, tsunami 2018 merupakan tsunami nontektonik.

BMKG menjelaskan bahwa longsoran lereng Anak Krakatau ke laut yang berkaitan dengan aktivitas erupsi menjadi penyebab utama tsunami tersebut.

Pelajarannya jelas.

BNI Cetak Rekor Rp27,5 Triliun, Kasus Dana Pascatambang Rp112 Miliar Menguji Pengawasan
Baca Juga · Nasional
BNI Cetak Rekor Rp27,5 Triliun, Kasus Dana Pascatambang Rp112 Miliar Menguji Pengawasan

Ketika gunung api berada di tengah laut, aktivitas vulkanik tidak hanya mengancam kawasan di sekitar kawah.

Perubahan tubuh gunung dan material yang masuk ke laut juga bisa memicu bencana di wilayah pesisir.

Erupsi 2026 Jadi Alarm Kewaspadaan

Aktivitas Anak Krakatau pada September 2026 kembali menjadi pengingat.

Sejarah 1883 bukan sekadar cerita masa lalu.

Begitu pula tsunami 2018 bukan sekadar arsip bencana.

Keduanya menjadi dasar penting bagi pemerintah, petugas kebencanaan, masyarakat, hingga pelaku transportasi untuk meningkatkan kewaspadaan.

Masyarakat diminta tidak mendekati kawasan berbahaya dan mengikuti informasi serta rekomendasi resmi dari otoritas terkait.

Jangan menunggu suara ledakan terdengar dari kejauhan.

Jangan pula menganggap erupsi sebagai tontonan.

Anak Krakatau adalah gunung api aktif dengan sejarah panjang yang menunjukkan bahwa perubahan aktivitas di Selat Sunda harus dihadapi dengan kewaspadaan, bukan kepanikan.

Erupsi terbaru pada September 2026 menjadi alarm bahwa ancaman bencana di Selat Sunda masih nyata.

Sejarah sudah berkali-kali memberi peringatan. Tinggal bagaimana manusia belajar darinya.

Tags:
#Anak Krakatau#Erupsi#Tsunami#Bencana Alam
Bagikan:Facebook𝕏 / TwitterWhatsApp

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tulis Komentar

Memuat verifikasi keamanan…