Memuat...IDR/USD 16.285▼ 0.12%IHSG 7.842,11▲ 0.64%Emas Rp 1.384.000/grJakarta 29°C ☁

61 Tahun G30S: Yang Kita Hafal Adalah 7 Jenderal, Tapi Seberapa Banyak yang Kita Tahu tentang 1965?

Sabila JP•
Nasional

Peristiwa G30SPKI: Latar Belakang hingga Korban - Petugas membersihkan patung peristiwa G30S/PKI di Lubang Buaya, Jakarta Timur, Rabu (30/9/2020). [ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha]

Suarapantura.com - Setiap 30 September, ingatan bangsa Indonesia kembali tertuju pada salah satu peristiwa paling kelam sekaligus paling kontroversial dalam sejarah nasional: Gerakan 30 September 1965 atau yang selama puluhan tahun lebih dikenal dengan istilah G30S/PKI.

Malam 30 September hingga 1 Oktober 1965 bukan sekadar cerita tentang penculikan sejumlah perwira Angkatan Darat. Enam jenderal dan satu perwira pertama kemudian ditemukan meninggal di kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur. Peristiwa tersebut menjadi pemicu rangkaian pergolakan politik dan kekerasan yang jauh lebih besar.

Kini, 61 tahun berlalu.

Pertanyaannya bukan lagi sekadar siapa yang menjadi korban atau bagaimana kronologi penculikan itu.

Seberapa lengkap sebenarnya pengetahuan bangsa Indonesia mengenai peristiwa 1965?

G30S dan Narasi yang Selama Puluhan Tahun Sangat Dominan

Pada masa Orde Baru, istilah G30S/PKI menjadi bagian dari narasi sejarah resmi pemerintah.

PKI ditempatkan sebagai kekuatan utama di balik gerakan tersebut. Narasi itu kemudian diperkuat melalui buku sejarah, pendidikan dan film Pengkhianatan G30S/PKI karya Arifin C. Noer yang diproduksi pada 1984.

Film tersebut bahkan menjadi tontonan wajib di televisi pada masa Orde Baru setiap 30 September.

Namun setelah Soeharto lengser pada 1998, ruang penelitian mengenai 1965 semakin terbuka.

Berbagai kesaksian korban, arsip, penelitian akademik dan kajian sejarah bermunculan.

Di sinilah persoalan G30S menjadi jauh lebih kompleks.

Bukan Berarti PKI Hilang dari Cerita

Membuka kembali sejarah G30S bukan berarti menghapus peran PKI dari pembahasan.

Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) sendiri mencatat adanya berbagai teori mengenai G30S. Di antaranya teori yang mengaitkan gerakan tersebut dengan PKI, konflik internal Angkatan Darat, Soeharto, keterlibatan CIA dan Barat, kegagalan operasi internal PKI, hingga teori multikausal.

Artinya, persoalannya bukan sekadar memilih antara “PKI bersalah” atau “PKI tidak terlibat”.

Persoalan sejarahnya adalah seberapa besar keterlibatan masing-masing aktor, bagaimana operasi itu dirancang, siapa yang mengetahui, siapa yang memanfaatkan situasi, dan bagaimana sebuah gerakan yang berlangsung singkat kemudian mengubah struktur kekuasaan Indonesia.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut masih menjadi bahan kajian sejarah.

Dari Lubang Buaya ke Perubahan Kekuasaan

Inilah bagian yang sering hilang ketika G30S hanya dibahas sebagai tragedi tujuh perwira.

KPK Geledah Djarum, Kasus Cukai Membesar: Di Tengah Rumor Haji Isam dan Masa Depan BCA
Baca Juga · Nasional
KPK Geledah Djarum, Kasus Cukai Membesar: Di Tengah Rumor Haji Isam dan Masa Depan BCA

Setelah gerakan tersebut gagal, terjadi perubahan politik yang sangat cepat.

Soeharto, yang ketika itu menjabat Panglima Kostrad, mengambil kendali operasi militer untuk memulihkan keadaan.

Setelah itu, tekanan terhadap PKI meningkat drastis.

Penangkapan dan kekerasan terhadap orang-orang yang dituduh berkaitan dengan PKI kemudian terjadi di berbagai daerah.

Rangkaian peristiwa tersebut akhirnya ikut mengubah keseimbangan kekuasaan nasional dan mengantarkan Indonesia menuju Orde Baru.

Jadi, G30S bukan hanya cerita satu malam.

Ia adalah pintu masuk menuju salah satu perubahan politik terbesar dalam sejarah Indonesia modern.

Ada Tragedi Lain yang Tak Boleh Dipisahkan

Di sinilah pembahasan 1965 menjadi semakin sensitif.

Peristiwa G30S dan kekerasan yang berlangsung setelahnya merupakan dua hal yang berkaitan dalam rangkaian sejarah, tetapi keduanya juga perlu dianalisis secara berbeda.

Komnas HAM telah melakukan penyelidikan pro-yustisia terhadap peristiwa 1965–1966 dan menyatakan menemukan unsur kejahatan terhadap kemanusiaan yang bersifat luas dan sistematis. Komnas HAM mencatat pola kekerasan berupa pembunuhan, pemusnahan, perbudakan, pemindahan paksa, penyiksaan, pemerkosaan, penganiayaan dan penghilangan orang secara paksa.

Karena itu, jika membicarakan G30S secara utuh, sejarah tidak berhenti ketika tujuh perwira ditemukan tewas.

Ada korban-korban lain setelahnya.

Ada keluarga yang kehilangan anggota keluarganya.

Ada orang-orang yang ditangkap atau dituduh terkait PKI.

Ada pula generasi berikutnya yang mengalami dampak sosial dan diskriminasi akibat stigma politik tersebut.

Semua bagian itu merupakan bagian dari sejarah Indonesia 1965–1966.

Kebut Kelengkapan Barbuk, Penyidik JAM Pidsus Cecar Anak Buah Dirut CNI Derian Sampetoding
Baca Juga · Nasional
Kebut Kelengkapan Barbuk, Penyidik JAM Pidsus Cecar Anak Buah Dirut CNI Derian Sampetoding

Mengapa Setelah 61 Tahun Masih Diperdebatkan?

Karena sejarah bukan sekadar menghafalkan tanggal.

ANRI menyebut bahwa sumber mengenai G30S berasal dari berbagai arsip, termasuk arsip Indonesia yang tersimpan di ANRI, arsip National Archives and Records Administration (NARA) Amerika Serikat, serta arsip yang berkaitan dengan Ratna Sari Dewi Soekarno. Sebagian arsip telah terbuka, sementara sebagian lainnya masih memiliki pembatasan akses.

Dengan semakin banyak sumber yang tersedia, pertanyaan mengenai G30S pun berkembang.

Bukan lagi hanya:

“Siapa yang membunuh para jenderal?”

Tetapi juga:

“Siapa yang merancang gerakan itu?”

“Siapa yang mengetahui sebelumnya?”

“Mengapa gerakan itu gagal?”

“Bagaimana Soeharto dapat mengambil kendali setelahnya?”

“Bagaimana PKI dihancurkan?”

“Mengapa kekerasan massal kemudian terjadi di berbagai daerah?”

Dan yang tidak kalah penting:

“Bagaimana narasi sejarah 1965 dibentuk dan diajarkan kepada masyarakat selama puluhan tahun?”

Jangan Jadikan Sejarah Sebagai Warisan Kebencian

Perdebatan mengenai G30S seharusnya tidak membuat masyarakat mewarisi kebencian kepada kelompok tertentu.

Justru generasi sekarang memiliki kesempatan yang tidak dimiliki generasi sebelumnya: membaca lebih banyak sumber dan membandingkan berbagai kesaksian.

BNI Cetak Rekor Rp27,5 Triliun, Kasus Dana Pascatambang Rp112 Miliar Menguji Pengawasan
Baca Juga · Nasional
BNI Cetak Rekor Rp27,5 Triliun, Kasus Dana Pascatambang Rp112 Miliar Menguji Pengawasan

Ketua PCNU Pringsewu Muhammad Faizin pada peringatan 30 September 2026 juga menekankan bahwa generasi muda perlu mempelajari G30S berdasarkan sumber dan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan sekadar potongan video media sosial. Ia juga menekankan pentingnya membedakan fakta, kesaksian, interpretasi dan narasi yang belum terverifikasi.

Itulah tantangan sejarah hari ini.

Bukan membuat generasi muda lupa bahwa pembunuhan para perwira terjadi.

Bukan pula menghapus tragedi kekerasan yang terjadi setelahnya.

Melainkan memahami semuanya dalam satu rangkaian sejarah yang lebih lengkap.

61 Tahun Kemudian, Pertanyaan Besarnya Masih Ada

Pada akhirnya, G30S tetap menjadi salah satu titik balik terbesar dalam sejarah Indonesia.

Tujuh orang menjadi korban pada awal rangkaian peristiwa.

Tetapi setelah itu, jutaan kehidupan masyarakat ikut terdampak oleh pergolakan politik, penangkapan, kekerasan, stigma dan perubahan rezim.

Karena itu, memperingati 30 September seharusnya tidak hanya menjadi ritual mengulang kronologi.

Justru setelah 61 tahun, bangsa Indonesia punya kesempatan untuk bertanya lebih jauh.

Bukan untuk membenarkan siapa pun.

Bukan untuk menghidupkan kembali konflik lama.

Tetapi untuk memahami bagaimana sebuah tragedi politik dapat berkembang menjadi kekerasan berskala luas dan kemudian mengubah arah sebuah negara selama puluhan tahun.

Sejarah yang matang bukan sejarah yang hanya mengajarkan siapa yang harus dibenci.

Sejarah yang matang adalah sejarah yang membuat generasi berikutnya memahami bagaimana tragedi itu bisa terjadi—agar tidak terulang kembali.

Tags:
#G30S#PKI#Soeharto#Soekarno#Sejarah
Bagikan:Facebook𝕏 / TwitterWhatsApp

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tulis Komentar

Memuat verifikasi keamanan…