Memuat...IDR/USD 16.285▼ 0.12%IHSG 7.842,11▲ 0.64%Emas Rp 1.384.000/grJakarta 29°C ☁

Garuda Ganti Bos, Rugi Masih US$113 Juta: Thomas Oentoro Ditantang Buktikan Pemulihan Bukan Sekadar Janji

Sabila JP•
Nasional

Pesawat Garuda Indonesia yang memiliki desain livery Pokemon (dok: Garuda Indonesia)

Suarapantura.com - Pergantian pucuk pimpinan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk kembali membuka babak baru bagi maskapai pelat merah tersebut. Thomas Sugiarto Oentoro resmi menduduki kursi Direktur Utama, menggantikan Glenny H. Kairupan yang bergeser menjadi Komisaris Utama. Fadjar Prasetyo pun mengakhiri masa tugasnya sebagai Komisaris Utama.

Namun, di balik pergantian jabatan itu, pekerjaan rumah Garuda belum selesai. Pendapatan perusahaan memang meningkat dan kerugian menyusut pada semester I 2026, tetapi maskapai nasional ini masih membukukan rugi bersih sebesar US$113 juta. Tantangan bagi Thomas bukan sekadar meneruskan program pendahulunya, melainkan memastikan perbaikan tersebut benar-benar mengarah pada pemulihan keuangan yang berkelanjutan.

Perubahan susunan direksi dan komisaris itu diputuskan melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Kamis (8/10/2026). Thomas sebelumnya menjabat Wakil Direktur Utama sejak Oktober 2025. Glenny, yang memimpin perusahaan sejak Oktober 2025, kini masuk ke jajaran pengawas sebagai Komisaris Utama.

Pendapatan Naik, Kerugian Belum Hilang

Kinerja semester I 2026 memberi sinyal perbaikan, tetapi belum cukup untuk menyatakan Garuda keluar dari tekanan bisnis.

Garuda Indonesia Group mencatat pendapatan US$1,80 miliar sepanjang Januari–Juni 2026, tumbuh sekitar 16 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Rugi bersih menyusut 23,2 persen menjadi US$113 juta, sementara laba sebelum bunga dan pajak atau EBIT meningkat 12,7 persen menjadi US$74 juta.

Angka-angka tersebut menunjukkan adanya kemajuan. Namun, pendapatan yang tumbuh tidak otomatis berarti perusahaan telah sehat secara finansial. Kerugian yang masih besar menandakan pekerjaan untuk memperbaiki struktur biaya, meningkatkan produktivitas armada, dan memperkuat arus kas masih harus dilanjutkan.

Tekanan biaya bahan bakar juga menjadi tantangan. Harga avtur dilaporkan meningkat 43,6 persen secara tahunan pada periode tersebut. Dalam industri penerbangan yang padat modal, kenaikan biaya dapat menggerus hasil dari pertumbuhan pendapatan jika tidak diimbangi efisiensi dan pemanfaatan armada yang optimal.

KPK Geledah Djarum, Kasus Cukai Membesar: Di Tengah Rumor Haji Isam dan Masa Depan BCA
Baca Juga · Nasional
KPK Geledah Djarum, Kasus Cukai Membesar: Di Tengah Rumor Haji Isam dan Masa Depan BCA

Karena itu, ukuran keberhasilan kepemimpinan baru tidak cukup berhenti pada kenaikan pendapatan atau penyusutan rugi. Publik dan investor perlu melihat apakah tren tersebut berlanjut, apakah kerugian bisa ditekan lebih jauh, dan kapan perusahaan mampu mencapai profitabilitas secara konsisten.

Fadjar Mengawal Pengawasan, Glenny Memimpin Stabilisasi

Fadjar Prasetyo bergabung sebagai Komisaris Utama pada Mei 2024, ketika Garuda masih menjalani fase penting setelah restrukturisasi. Dengan latar belakang sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Udara periode 2020–2024, Fadjar menjalankan peran pengawasan ketika perusahaan berupaya memperkuat fondasi keuangan dan memulihkan operasional.

Dalam keterangannya, Fadjar menekankan bahwa komisaris berperan menjaga arah, integritas, dan keberlanjutan perusahaan. Peran tersebut menjadi penting untuk memastikan keputusan strategis berjalan dengan tata kelola dan manajemen risiko yang memadai.

Pada periode pengawasannya, agenda penyehatan Garuda juga mencakup dukungan permodalan dari BPI Danantara Indonesia. Program penyehatan yang disebut mencapai Rp23,67 triliun menjadi bagian dari upaya menopang pemulihan perusahaan.

Besarnya dukungan tersebut sekaligus menegaskan bahwa pemulihan Garuda membutuhkan sumber daya dan pengawasan yang serius. Tantangan berikutnya adalah memastikan dukungan itu diterjemahkan menjadi perbaikan operasional dan keuangan yang terukur, bukan sekadar memberi ruang bagi perusahaan untuk bertahan.

Sementara itu, Glenny memimpin Garuda sebagai Direktur Utama sejak Oktober 2025. Fokus kepemimpinannya mencakup stabilisasi bisnis, pemulihan armada, dan penguatan disiplin operasional.

Kebut Kelengkapan Barbuk, Penyidik JAM Pidsus Cecar Anak Buah Dirut CNI Derian Sampetoding
Baca Juga · Nasional
Kebut Kelengkapan Barbuk, Penyidik JAM Pidsus Cecar Anak Buah Dirut CNI Derian Sampetoding

Salah satu gambaran upaya tersebut muncul dalam publikasi Danantara Diaries: Rebuilding Garuda, One Minute at a Time, yang menyoroti keterlibatan Glenny dalam memantau perbaikan mesin pesawat di fasilitas GMF AeroAsia. Pemulihan pesawat yang tidak beroperasi menjadi faktor penting untuk menambah kapasitas layanan dan mengoptimalkan potensi pendapatan.

Meski demikian, pemulihan armada tidak berdiri sendiri. Pesawat yang kembali beroperasi harus didukung jadwal penerbangan yang efektif, biaya perawatan yang terkendali, layanan yang andal, dan permintaan pasar yang memadai. Di sinilah pekerjaan rumah Garuda harus diukur dari hasil nyata, bukan hanya dari proses yang telah dijalankan.

Thomas Oentoro Mewarisi Pekerjaan Besar

Thomas bukan orang baru di lingkungan Garuda. Sebelum menjadi Direktur Utama, ia menjabat Wakil Direktur Utama sejak Oktober 2025 dan pernah menjadi Komisaris Independen pada periode 2023–2024.

Pengalamannya juga mencakup bidang investasi dan manajemen risiko. Ia pernah menjabat sebagai Chief Risk Officer Indonesia Investment Authority pada 2024–2025, serta menduduki posisi manajerial di KV Asia Capital dan OCBC. Latar belakang tersebut relevan ketika Garuda harus mengambil keputusan mengenai pendanaan, risiko bisnis, dan pemulihan kapasitas operasional.

Dalam unggahan Instagram pada Jumat (9/10/2026), Thomas menyampaikan penghormatan kepada Glenny dan menegaskan bahwa kepemimpinan baru bukan berarti memulai seluruh pekerjaan dari nol. Ia menyadari masih ada pembenahan fundamental dan keputusan strategis yang kompleks untuk menjaga kesinambungan pemulihan.

Pernyataan itu menempatkan Thomas pada dua tuntutan sekaligus: menjaga program yang telah berjalan dan memastikan hasilnya semakin kuat. Ia perlu membawa agenda pemulihan ke tahap yang lebih konkret, mulai dari produktivitas armada, pengendalian biaya, kualitas layanan, hingga kemampuan menghasilkan laba.

BNI Cetak Rekor Rp27,5 Triliun, Kasus Dana Pascatambang Rp112 Miliar Menguji Pengawasan
Baca Juga · Nasional
BNI Cetak Rekor Rp27,5 Triliun, Kasus Dana Pascatambang Rp112 Miliar Menguji Pengawasan

Pergantian pimpinan juga membuat pembagian peran antara direksi dan komisaris menjadi penting. Direksi bertanggung jawab menjalankan perusahaan, sedangkan dewan komisaris mengawasi kebijakan dan kinerja manajemen. Pengawasan yang efektif harus mampu menguji keputusan strategis, termasuk ketika target bisnis tidak tercapai atau risiko perusahaan meningkat.

Bukan Sekadar Ganti Jabatan

Bagi Garuda, perubahan susunan pimpinan merupakan bagian dari perjalanan panjang penyehatan perusahaan. Namun, pergantian figur tidak dengan sendirinya menyelesaikan persoalan yang telah menumpuk.

Pendapatan yang meningkat, kerugian yang menyusut, dan upaya pemulihan armada merupakan perkembangan yang patut dicermati. Tetapi keberlanjutan hasilnya akan sangat ditentukan oleh kemampuan manajemen mengendalikan biaya, menjaga keandalan penerbangan, dan memperkuat kondisi keuangan.

Thomas kini memegang tanggung jawab untuk membuktikan bahwa kemajuan semester I 2026 dapat berlanjut. Sementara itu, Glenny dan jajaran komisaris harus memastikan fungsi pengawasan berjalan efektif, sedangkan fondasi yang dibangun selama masa tugas Fadjar perlu diteruskan dengan tata kelola yang konsisten.

Pada akhirnya, keberhasilan transformasi Garuda tidak ditentukan oleh siapa yang menduduki kursi tertinggi, melainkan oleh hasil yang dapat diukur: kerugian yang terus menurun, arus kas yang lebih sehat, armada yang produktif, serta layanan yang semakin andal.

Garuda sudah menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Kini, tantangan Thomas Oentoro adalah membuktikan bahwa perbaikan tersebut bukan sekadar jeda dari krisis, melainkan pijakan menuju bisnis yang benar-benar berkelanjutan.

Tags:
#Garuda Indonesia#Thomas Sugiarto Oentoro#Glenny H Kairupan#BUMN
Bagikan:Facebook𝕏 / TwitterWhatsApp

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tulis Komentar

Memuat verifikasi keamanan…