Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyapa wartawan setibanya di kediaman Presiden Terpilih Prabowo Subianto, Kertanegara, Jakarta Selatan, Senin (14/10/2024). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO
Suarapantura.com - Pernyataan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin agar masyarakat beradaptasi dengan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menuai sorotan di media sosial. Di tengah ancaman gangguan kesehatan yang menghantui warga di sejumlah wilayah, imbauan untuk mengurangi aktivitas di luar rumah dinilai belum menjawab seluruh persoalan yang dihadapi masyarakat.
Pernyataan tersebut mencuat setelah Budi menyampaikan bahwa masyarakat perlu menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan yang terdampak asap. Ia mengimbau warga sebisa mungkin tetap berada di rumah dan tidak keluar kecuali untuk keperluan mendesak.
“Nomor satu, kalau bisa stay di rumah. Kalau sudah kondisinya seperti itu, kita tahu alamnya sudah seperti ini, kita sebagai manusia harus segera beradaptasi dan usahakan stay di rumah. Jangan keluar kecuali benar-benar perlu,” kata Budi kepada wartawan, Kamis (15/10/2026), seperti diberitakan detikHealth.
Imbauan tersebut dimaksudkan untuk mengurangi paparan asap yang dapat mengganggu kesehatan. Namun, pernyataan tentang perlunya beradaptasi justru memicu perdebatan di media sosial.
Sejumlah warganet mempertanyakan apakah imbauan membatasi aktivitas sudah cukup untuk melindungi masyarakat yang tinggal di kawasan terdampak karhutla. Kritik juga menyoroti kenyataan bahwa asap tidak selalu bisa dihindari hanya dengan berada di dalam rumah.
Dalam pemberitaan OWRITE pada 17 Oktober 2026, sejumlah komentar warganet mempertanyakan solusi yang diberikan pemerintah serta mendesak penanganan yang lebih menyeluruh terhadap persoalan kabut asap.
Bukan Sekadar Bertahan di Tengah Asap
Persoalan karhutla tidak hanya berkaitan dengan kenyamanan masyarakat, tetapi juga menyangkut hak warga untuk mendapatkan lingkungan yang aman dan perlindungan kesehatan.
Di wilayah Kalimantan dan Sumatera yang terdampak, kabut asap berpotensi meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit tertentu.
Kementerian Kesehatan sendiri sebelumnya melaporkan bahwa lebih dari tiga juta warga di 37 kabupaten/kota pada tujuh provinsi terpapar langsung kabut asap karhutla. Dalam laporan pada 21 Agustus 2026, Kemenkes menyebut telah mengerahkan 314 tenaga medis dan tenaga kesehatan serta menyalurkan bantuan logistik kesehatan ke wilayah terdampak.
Data tersebut memperlihatkan bahwa dampak karhutla membutuhkan penanganan yang lebih luas daripada sekadar imbauan kepada masyarakat untuk mengubah aktivitas sehari-hari.
Di satu sisi, warga memang perlu melindungi diri dari paparan asap. Di sisi lain, penanganan kebakaran, pemantauan kualitas udara, kesiapan fasilitas kesehatan, dan penyampaian informasi yang jelas juga menjadi bagian penting dalam melindungi masyarakat.
Menkes Imbau Warga Lindungi Diri
Budi juga memberikan sejumlah saran bagi masyarakat yang terpaksa beraktivitas di luar rumah. Ia mengingatkan warga agar melindungi saluran pernapasan dengan menggunakan masker, serta melindungi mata dan kulit dari paparan debu yang terbawa kabut asap.
Masyarakat juga diminta segera membersihkan diri setelah beraktivitas di luar ruangan. Jika mengalami keluhan kesehatan, seperti gatal-gatal atau batuk berdarah, warga disarankan memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.
Langkah perlindungan tersebut penting untuk mengurangi risiko kesehatan. Namun, kritik yang berkembang di media sosial menunjukkan bahwa masyarakat juga mengharapkan kejelasan mengenai upaya pemerintah menangani persoalan yang menyebabkan mereka terus terpapar asap.
Pada akhirnya, imbauan beradaptasi dapat menjadi bagian dari mitigasi risiko, tetapi tidak menggantikan kebutuhan untuk mengendalikan karhutla dan melindungi warga dari dampaknya.
Bagi masyarakat yang harus menjalani aktivitas di tengah kabut asap, pertanyaannya bukan hanya bagaimana menyesuaikan diri dengan kondisi udara yang buruk, melainkan juga bagaimana memastikan kondisi tersebut tidak terus menjadi ancaman bagi kesehatan dan keselamatan mereka.