Foto: Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (19/10/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Suarapantura.com – Saham sejumlah bank besar kompak menguat pada perdagangan Selasa (20/10/2026). Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menyambut perkembangan tersebut dengan optimisme, menyebut situasi pasar pagi itu sebagai “pagi yang menyejukkan”.
Namun, penguatan saham perbankan dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjadi setelah pasar sebelumnya diterpa tekanan dan kekhawatiran menyusul isu Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang berpotensi menurunkan klasifikasi pasar saham Indonesia menjadi standalone market.
Melalui akun Instagram pribadinya, @sufmi_dasco, Dasco menyoroti pergerakan saham sejumlah bank papan atas yang kembali menghijau. Unggahan itu muncul bertepatan dengan dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Saham Bank Mandiri, BRI, BNI, dan BCA Menguat
Dalam data perdagangan yang dikutip dari pemberitaan Inilah.com, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) naik 5,95 persen menjadi Rp3.560 per lembar. Saat pembukaan perdagangan, saham bank tersebut berada di level Rp3.540.
Sementara itu, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menguat 5,12 persen menjadi Rp2.670 per lembar, setelah dibuka pada harga Rp2.610.
Kenaikan juga terjadi pada saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Saham BNI yang dibuka pada level Rp3.030 bergerak naik menjadi Rp3.080 per lembar, atau meningkat 4,05 persen berdasarkan angka yang dicantumkan dalam pemberitaan sumber.
Adapun saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tercatat naik 2,7 persen menjadi Rp4.950 per lembar.
Penguatan saham empat bank besar tersebut memberi sinyal positif bagi perdagangan hari itu. Meski demikian, kenaikan dalam satu sesi belum cukup untuk memastikan bahwa tekanan pasar telah berakhir atau kepercayaan investor sudah pulih sepenuhnya.
IHSG Menguat, Kekhawatiran Pasar Belum Otomatis Hilang
IHSG juga dilaporkan menguat 2,92 persen ke level 5.142,47. Pergerakan positif ini menyusul gejolak pasar yang sebelumnya menjadi perhatian pelaku investasi, termasuk kekhawatiran terkait kemungkinan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI.
Dalam pemberitaan sumber, pasar disebut sempat mengalami tekanan tajam dengan penurunan 11,57 persen pada Jumat (16/10/2026). Angka dan kronologi pergerakan tersebut perlu dicocokkan kembali dengan data resmi Bursa Efek Indonesia (BEI), mengingat level indeks yang disebut dalam naskah sumber tidak sepenuhnya selaras dengan angka penutupan yang dicantumkan.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa pasar saham dapat bergerak cepat mengikuti sentimen dan persepsi investor. Penguatan harian menjadi perkembangan positif, tetapi belum otomatis menjawab persoalan mendasar yang memengaruhi keyakinan investor terhadap pasar modal Indonesia.
Dasco Optimistis, Investor Tetap Menunggu Kepastian
Atas pergerakan saham yang menguat, Dasco menuliskan kalimat singkat: “Pagi yang menyejukkan.”
Pernyataan tersebut mencerminkan optimisme atas perkembangan pasar pada pagi itu. Namun, bagi investor, satu sesi perdagangan yang menghijau bukan satu-satunya ukuran untuk menilai kondisi pasar.
Kepastian regulasi, transparansi perdagangan, kualitas tata kelola, serta kepercayaan investor tetap menjadi faktor penting bagi keberlanjutan penguatan pasar saham.
Momentum dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran pun menjadi latar bagi optimisme tersebut. Meski begitu, apakah penguatan ini akan berlanjut atau hanya menjadi pemulihan sementara masih harus dibuktikan oleh pergerakan pasar berikutnya.
Pasar memang menghijau, dan Dasco menyebutnya sebagai pagi yang menyejukkan. Namun, ukuran sesungguhnya bukan hanya seberapa tinggi saham naik dalam sehari, melainkan seberapa kuat pasar mempertahankan kepercayaan investor setelah diterpa gejolak.
Sumber: Inilah.com, berdasarkan data perdagangan saham dan unggahan Instagram Sufmi Dasco Ahmad yang dikutip dalam materi sumber.