Senior Manager Compliance BRI Viral Maki Panitia JRF 2026, Jabatan Kepatuhan Ikut Disorot
Sabila JP•
Nasional
Senior manager Bank BRI Muldan Nurul Yakin. Sumber: senator
Suarapantura.com - Video seorang peserta Jakarta Running Festival (JRF) 2026 yang diduga menerobos pembatas lomba dan melontarkan umpatan kasar kepada petugas menjadi sorotan di media sosial. Pria tersebut disebut bernama Mochamad Muldan Nurul Yakin, yang dikabarkan menjabat sebagai Senior Manager Compliance di PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI.
Peristiwa ini menuai kritik karena peserta tersebut diduga memaksa melewati pembatas setelah dihentikan petugas di titik Cut-Off Point (COP), yakni batas waktu yang ditetapkan dalam perlombaan.
Dalam video yang beredar, pria tersebut terlihat meluapkan emosi dan berulang kali melontarkan kata-kata kasar kepada kru serta fotografer di lokasi. Aksi itu memicu reaksi warganet dan menjadi perbincangan di kalangan komunitas pelari.
Sorotan semakin besar karena sosok yang disebut terlibat dikaitkan dengan jabatan di bidang kepatuhan sebuah bank milik negara. Meski demikian, identitas, jabatan, dan kronologi kejadian tetap perlu merujuk pada keterangan resmi serta dokumentasi yang dapat diverifikasi.
Dihentikan di Cut-Off Point, Diduga Memaksa Lewati Pembatas
Berdasarkan narasi yang menyertai video viral tersebut, insiden bermula ketika peserta dihentikan panitia di titik COP karena tidak memenuhi ketentuan waktu atau pace perlombaan.
Alih-alih menerima keputusan petugas, peserta itu diduga memaksa menerobos pembatas untuk melanjutkan perjalanan menuju garis finis. Dalam rekaman yang beredar, ia juga terdengar mengumpat kepada petugas di lokasi.
Aturan cut-off time dalam lomba lari umumnya diterapkan untuk menjaga keselamatan peserta, mengatur penggunaan jalur, serta memastikan penyelenggaraan acara berjalan sesuai jadwal.
Karena itu, keputusan panitia menghentikan peserta yang melewati batas waktu perlu dilihat dalam konteks aturan perlombaan yang berlaku. Keinginan mencapai garis finis atau memperoleh medali tidak dengan sendirinya menghapus kewajiban peserta untuk mematuhi ketentuan penyelenggara.
Jabatan Compliance BRI Ikut Menjadi Perhatian
Nama Mochamad Muldan Nurul Yakin menjadi sorotan setelah dirinya disebut bekerja sebagai Senior Manager Compliance di BRI.
Bidang kepatuhan memiliki peran penting dalam memastikan aktivitas perusahaan berjalan sesuai ketentuan, kebijakan internal, dan prinsip tata kelola. Karena itulah, perilaku yang terekam dalam video tersebut memunculkan pertanyaan warganet mengenai keselarasan antara tanggung jawab profesional dan sikap di ruang publik.
Namun, tindakan seseorang dalam kegiatan pribadi tidak otomatis mencerminkan perilaku seluruh organisasi tempatnya bekerja. Penilaian terhadap dugaan pelanggaran juga perlu didasarkan pada fakta, keterangan pihak terkait, serta aturan yang berlaku.
Menanggapi polemik tersebut, manajemen BRI menyatakan bahwa peristiwa itu merupakan persoalan personal dan tidak berkaitan dengan operasional bisnis perusahaan.
Meski begitu, BRI menyayangkan tindakan yang dinilai tidak mencerminkan nilai dan budaya kerja perusahaan.
“Isu itu merupakan ranah personal yang tidak terkait dengan operasional bisnis, namun kami menegaskan bahwa tindakan tersebut sama sekali tidak mencerminkan nilai dan budaya kerja BRI,” tulis perwakilan manajemen BRI.
Manajemen juga menegaskan tidak menoleransi pelanggaran kode etik pekerja dan menyatakan akan mengambil langkah sesuai peraturan perusahaan.
“BRI tidak menoleransi segala bentuk pelanggaran kode etik pekerja. Kami akan mengambil langkah tegas terhadap yang bersangkutan sesuai dengan peraturan perusahaan yang berlaku,” tambah pihak manajemen.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa BRI menyatakan akan menindaklanjuti persoalan itu melalui mekanisme internal. Namun, bentuk sanksi maupun hasil pemeriksaan terhadap yang bersangkutan belum dijelaskan secara terperinci dalam keterangan yang disampaikan.
Peserta Sampaikan Permohonan Maaf
Setelah video tersebut ramai diperbincangkan, Mochamad Muldan Nurul Yakin mengunggah video klarifikasi dan permohonan maaf melalui akun media sosial pribadinya.
Ia mengakui bahwa emosinya saat kejadian telah mencederai nilai sportivitas. Ia juga menyampaikan penyesalan kepada panitia JRF 2026 dan pihak-pihak yang merasa dirugikan.
Permohonan maaf tersebut menjadi bagian dari perkembangan setelah insiden viral. Adapun tindak lanjut dari penyelenggara lomba maupun BRI tetap perlu ditunggu berdasarkan keterangan resmi masing-masing pihak.
Viral di Media Sosial, Etika Publik Jadi Sorotan
Kasus ini memperlihatkan bagaimana perilaku seseorang dalam kegiatan publik dapat menjadi perhatian luas ketika terekam dan menyebar di media sosial, terlebih jika orang tersebut dikaitkan dengan jabatan profesional yang menuntut tanggung jawab dan kepatuhan.
Di satu sisi, aturan perlombaan perlu dihormati demi keselamatan dan ketertiban. Di sisi lain, penanganan insiden juga perlu dilakukan berdasarkan fakta dan prosedur yang berlaku, bukan semata-mata tekanan warganet.
BRI telah menyatakan akan menindaklanjuti persoalan tersebut sesuai aturan internal, sementara yang bersangkutan telah menyampaikan permohonan maaf. Perkembangan berikutnya, termasuk keputusan resmi penyelenggara dan hasil penanganan internal perusahaan, akan menentukan bagaimana perkara ini diselesaikan.