Dituding Terima Rp800 Juta dari Mandiri dan Uang Dasco, Botok Tantang Pembuktiannya: Siapkan Pajero dan Rp1,3 Miliar!
Sabila JP•
Nasional
Aktivis dari Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), Supriyono alias Mas Botok, di depan Geudng DPR RI, Senayan, Jakarta. (Suara.com/Agustin Dwi Anggraini)
Suarapantura.com - Koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), Supriyono alias Botok, melontarkan tantangan terbuka kepada pihak-pihak yang menuding kelompoknya menerima aliran uang dari Bank Mandiri maupun Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad. Tak tanggung-tanggung, AMPB mengklaim menyiapkan dua mobil Mitsubishi Pajero dan uang tunai Rp500 juta bagi siapa pun yang mampu membuktikan tudingan tersebut.
Tantangan itu disampaikan dalam konferensi pers di Kantor Lembaga Studi dan Bantuan Hukum (LSBH) Teratai, Kabupaten Pati, Selasa malam (27/10/2026).
Botok membantah tudingan bahwa AMPB menerima uang Rp800 juta dari Bank Mandiri maupun aliran dana dari Dasco.
“Antara lain AMPB difitnah menerima uang Rp800 juta dari Bank Mandiri, dan AMPB juga difitnah telah menerima uang dari Dasco,” ujar Botok.
Menurutnya, konferensi pers digelar untuk meluruskan informasi yang beredar di tengah masyarakat sekaligus menanggapi berbagai tudingan terhadap kelompok tersebut.
Dua Pajero dan Uang Tunai Jadi Tantangan Terbuka
Botok menyatakan AMPB menyiapkan hadiah bagi pihak yang mampu membuktikan bahwa kelompoknya pernah menerima uang dari pihak mana pun.
“Jika memang bisa membuktikan bahwa AMPB pernah menerima uang dari manapun, kami memberi hadiah dua mobil Pajero dan uang tunai Rp500 juta,” tegasnya.
Aktivis AMPB, Novie Andrianta, kemudian menambahkan tawaran uang Rp800 juta yang disebut berasal dari dana pribadinya.
“Ini tambahan dari kami, bila memang bisa membuktikan. Ini atas nama saya sendiri, Novie Andrianta. Hari ini saya ulangi, 27 Oktober 2026 pukul 21.00 malam, kita buka bersama, ada tambahan Rp800 juta dari saya untuk yang bisa membuktikan,” kata Novie.
Saat menyampaikan pernyataan itu, Novie menunjukkan saldo rekening sebesar Rp814 juta dan kunci mobil Pajero.
Jika seluruh tawaran tersebut dijumlahkan, AMPB menyebut hadiah berupa dua unit Pajero, uang tunai Rp500 juta, dan tambahan Rp800 juta. Namun, ketersediaan dana maupun syarat pencairan hadiah tersebut belum dapat dipastikan secara independen dari keterangan konferensi pers.
Tantangan hadiah itu merupakan klaim pihak AMPB, bukan bukti yang dengan sendirinya membuktikan bahwa tudingan aliran dana tersebut benar atau tidak benar.
AMPB Minta Tuduhan Dibuktikan
Ketua Tim Advokasi AMPB, Nimerodi Gulo, mengatakan pihaknya sebenarnya tidak ingin menanggapi isu yang dianggap tidak berdasar. Namun, ia menilai klarifikasi diperlukan agar masyarakat memperoleh penjelasan langsung dari pihak yang dituding.
AMPB menegaskan gerakan mereka berasal dari masyarakat yang ingin menyampaikan aspirasi, memperjuangkan keadilan, serta menentang ketimpangan, korupsi, dan pungutan liar.
Meski demikian, klaim bahwa kelompok tersebut tidak menerima aliran dana tetap perlu dibedakan dari hasil pemeriksaan independen. Pembuktian mengenai ada atau tidaknya transaksi memerlukan data yang dapat diuji, seperti catatan keuangan, dokumen transaksi, dan keterangan pihak terkait.
Cakra Adi Negara Ikut Ditantang
Dalam konferensi pers yang sama, Nimerodi juga menantang pemengaruh media sosial Cakra Adi Negara untuk membuktikan tuduhan yang dikaitkan dengan AMPB.
Ia bahkan menawarkan gaji Rp25 juta per bulan apabila Cakra bersedia meninggalkan pekerjaan yang dikritiknya.
“Mas Cakra, daripada kamu kebanyakan ngomong, mending kamu lepaskan pekerjaan ngibul kamu itu dan terima uang ini kalau ada bukti. Tinggalkan perbuatanmu yang kebanyakan ngibul itu, datang ke sini, saya akan gaji Anda Rp25 juta per bulan,” ujar Nimerodi.
Pernyataan tersebut merupakan tantangan dari pihak AMPB. Belum ada keterangan dalam materi yang tersedia mengenai tanggapan Cakra atas tawaran tersebut maupun bukti yang mendasari tudingan aliran dana.
Bantahan Bukan Akhir dari Pembuktian
Bantahan Botok dan tantangan hadiah yang disampaikan AMPB kini menjadi bagian dari polemik yang berkembang di tengah masyarakat.
Namun, persoalan utama tetap terletak pada bukti: apakah benar terdapat aliran dana dari Bank Mandiri atau pihak yang disebut dalam tudingan kepada AMPB, atau tuduhan tersebut tidak memiliki dasar?
Jawabannya tidak cukup ditentukan oleh kerasnya bantahan maupun besarnya hadiah yang ditawarkan. Diperlukan bukti yang dapat diverifikasi serta klarifikasi dari pihak-pihak yang disebut.
Hingga ada bukti dan keterangan independen, tudingan penerimaan dana maupun bantahan AMPB harus ditempatkan sebagai pernyataan pihak-pihak terkait, bukan sebagai kesimpulan bahwa transaksi tersebut telah terbukti terjadi atau tidak pernah terjadi.