SuaraPantura.com - Ribuan warga Palestina bersorak merayakan gencatan senjata antara Hamas dan Israel.
Kedua belah pihak bersepakat untuk mengahiri perang dan melakukan pembebasan sandera dari dua kubu.
Ketua Hamas di Jalur Gaza, Khalil al-Hayya, membenarkan informasi berkaitan dengan kesepakatan gencatan senjata antara Hamas dan Israel tersebut.
Menurutnya, Perjanjian gencatan senjata adalah hasil dari ketabahan legendaris rakyat Palestina yang besar dan keberanian perlawanan di Jalur Gaza, selama lebih dari 15 bulan ini.
Kesepakatan Hamas dan Israel ini termaktub dalam beberapa klausul sebagai berikut :
Fase Pertama
Tiga puluh tiga warga Israel tawanan Hamas di Gaza, termasuk perempuan, anak-anak dan warga sipil yang berusia di atas 50 tahun akan dibebaskan. Sementara Israel akan membebaskan lebih dari 1.000 tahanan Palestina, termasuk mereka yang menjalani hukuman seumur hidup.
Selain itu, Israel akan menarik pasukannya dari pusat populasi Gaza ke wilayah yang tidak lebih dari 700 meter di dalam perbatasan Gaza dengan Israel.
Israel juga akan mengizinkan warga sipil untuk kembali ke rumah mereka di wilayah utara yang terkepung dan mengizinkan gelombang bantuan hingga 600 truk per hari ke wilayah tersebut.
Bantuan kemanusiaan juga akan digelontorkan melalui ratusan truk setiap harinya, dan penyeberangan Rafah ke Mesir akan dibuka selama tujuh hari. Pasukan Israel di Koridor Philadelphi, yang berada di perbatasan Mesir-Gaza, juga dijadwalkan ditarik secara penuh paling lambat 50 hari setelah gencatan senjata dimulai.
Fase Dua
Jika persyaratan untuk tahap satu telah dipenuhi, Hamas akan melepaskan semua tawanan yang masih hidup, sebagian besar tentara laki-laki, sebagai imbalan atas pembebasan lebih banyak warga Palestina yang ditahan di penjara-penjara Israel. Israel akan memulai penarikan pasukan dari Gaza.
Tahap kedua gencatan senjata ini direncanakan dimulai pada hari ke-16 dari tahap pertama
Fase Tiga
Jika kesepakatan Fase dua terpenuhi, Tahap terakhir dari gencatan senjata ini adalah rekonstruksi besar-besaran di Gaza yang direncanakan berlangsung selama tiga hingga lima tahun.
Tahap ini akan dilakukan di bawah pengawasan internasional.
***