Memuat...IDR/USD 16.285▼ 0.12%IHSG 7.842,11▲ 0.64%Emas Rp 1.384.000/grJakarta 29°C ☁

Keluarga Ungkap Nasib Warung di Negeri Awan Selepas Mbok Yem Meninggal Dunia

Tim Suara Pantura 01•
Nasional

SuaraPantura.com - Nama Wakiyem atau yang lebih akrab disapa Mbok Yem begitu melekat di kalangan para pendaki Gunung Lawu.

 

Sosoknya dikenal sebagai penjaga puncak dan pemilik warung legendaris di Hargo Dumilah, titik tertinggi Gunung Lawu.

 

Namun kini, perjalanan panjangnya di dunia pendakian telah benar-benar usai.

 

Memasuki usia senja, Mbok Yem mengambil keputusan besar untuk meninggalkan warungnya di puncak gunung dan menetap di rumah bersama keluarga tercinta.

 

Keputusan itu diambil tak lama sebelum Hari Raya Idulfitri 2025, menyusul kondisi kesehatannya yang terus menurun.

 

Cucunya, Syaiful Bahri, mengisahkan bahwa Mbok Yem turun dari gunung untuk kembali ke kediamannya di Dusun Dagung, Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan.

KPK Geledah Djarum, Kasus Cukai Membesar: Di Tengah Rumor Haji Isam dan Masa Depan BCA
Baca Juga · Nasional
KPK Geledah Djarum, Kasus Cukai Membesar: Di Tengah Rumor Haji Isam dan Masa Depan BCA

 

Setelah itu, beliau sempat menjalani perawatan intensif selama hampir tiga minggu di RSU Aisyiyah Ponorogo karena komplikasi sejumlah penyakit.

 

“Setelah dirawat, kondisi Mbok Yem sempat menunjukkan perbaikan. Namun, beberapa hari setelah Lebaran, kesehatannya kembali melemah,” tutur Syaiful di rumah duka, Rabu malam 23 April 2025.

 

Ia menjelaskan bahwa dalam beberapa hari terakhir, almarhumah sempat tampak membaik, bahkan bisa berkomunikasi dan makan seperti biasa.

 

Namun, menjelang siang hari di hari kepergiannya, kondisinya tiba-tiba menurun drastis hingga akhirnya mengembuskan napas terakhir sekitar pukul 14.00 WIB.

 

Sebelum kepergiannya, Mbok Yem sempat menyampaikan keinginan terakhirnya kepada keluarga.

Kebut Kelengkapan Barbuk, Penyidik JAM Pidsus Cecar Anak Buah Dirut CNI Derian Sampetoding
Baca Juga · Nasional
Kebut Kelengkapan Barbuk, Penyidik JAM Pidsus Cecar Anak Buah Dirut CNI Derian Sampetoding

 

Ia merasa waktunya untuk beristirahat telah tiba dan tak ingin lagi kembali ke puncak Lawu.

 

Keputusannya untuk pensiun bukan karena keterpaksaan, melainkan sebuah pilihan yang penuh kesadaran.

 

"Beliau sudah bilang ingin istirahat, tidak ingin naik gunung lagi. Maunya tinggal di rumah bareng keluarga," ungkap Syaiful.

 

Kepergian Mbok Yem bukan hanya kehilangan bagi keluarga, tetapi juga bagi ribuan pendaki yang pernah singgah di warungnya.

 

Warung sederhana miliknya di puncak Lawu bukan hanya tempat beristirahat, tapi juga simbol keteguhan dan keramahan di tengah dinginnya udara pegunungan.

BNI Cetak Rekor Rp27,5 Triliun, Kasus Dana Pascatambang Rp112 Miliar Menguji Pengawasan
Baca Juga · Nasional
BNI Cetak Rekor Rp27,5 Triliun, Kasus Dana Pascatambang Rp112 Miliar Menguji Pengawasan

 

Kini, warung yang sudah puluhan tahun berdiri itu tengah dalam pertimbangan keluarga besar.

 

Belum ada keputusan resmi apakah warung tersebut akan dilanjutkan oleh generasi berikutnya atau tidak.

 

"Nanti kami bicarakan bersama keluarga besar. Sekarang fokus dulu untuk melepas kepergian beliau," tambah Syaiful.

 

Mbok Yem telah menjadi bagian dari sejarah Gunung Lawu.

 

Sosoknya yang sederhana, hangat, dan penuh semangat menjadikan ia lebih dari sekadar penjaga warung.

***

Tags:
#mbok yem#gunung lawu
Bagikan:Facebook𝕏 / TwitterWhatsApp

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tulis Komentar

Memuat verifikasi keamanan…