Heboh! Pengusaha Permata Asal Tegal Rela Rogoh Rp20 Juta untuk Karya Pipa Rokok Darling Buatan Supardi KertabayuKarya kerajinan milik Supardi Kertabayu, pengrajin asal Adiwerna, Tegal, mendadak menjadi sorotan setelah salah satu mahakaryanya dikabarkan berhasil terjual dengan harga fantastis mencapai Rp20 juta.
Karya tersebut dibeli oleh Koko Tan Rizqi, pengusaha perhiasan permata asal Tegal. Pembelian ini disebut sebagai bentuk apresiasi terhadap karya kerajinan lokal yang memiliki nilai seni dan keunikan tinggi.
Produk yang dibeli merupakan karya unggulan milik Supardi Kertabayu yang dipasarkan dengan nama Diva Darling. Kerajinan ini dibuat secara handmade melalui proses pengolahan material khusus sehingga menghasilkan tampilan serat yang unik dengan karakter visual yang elegan.
Salah satu daya tarik utama Diva Darling terletak pada tampilan visual dan bobotnya. Produk ini memiliki pola serat yang artistik dengan kesan klasik dan mewah. Selain itu, material yang digunakan membuat karya tersebut memiliki berat dan kepadatan yang terasa solid, sehingga memberikan kesan premium yang jarang ditemui pada kerajinan sejenis.
Setiap unit dibuat secara manual oleh Supardi Kertabayu, sehingga tidak ada dua karya yang benar-benar sama. Karakter serat, warna, serta detail finishing pada setiap produk menjadikan Diva Darling memiliki nilai estetika sekaligus nilai koleksi.
Dalam wawancara singkat, Koko Tan Rizqi mengungkapkan bahwa dirinya tertarik membeli karya tersebut karena melihat kualitas serta karakter kuat yang dimiliki karya Supardi.
“Ketika saya melihat langsung hasil karya Mas Supardi, saya langsung tertarik. Dari segi tampilan sangat elegan, seratnya unik, dan bobotnya juga terasa solid. Menurut saya ini bukan sekadar kerajinan biasa, tetapi sudah masuk kategori karya seni,” ujar Koko Tan Rizqi.
Ia juga menilai bahwa harga Rp20 juta sepadan dengan proses pengerjaan serta nilai artistik yang ada di dalamnya.
“Jarang ada karya handmade dengan karakter sekuat ini. Saya melihat ada nilai craftsmanship yang tinggi. Karena itu saya merasa harga tersebut sangat layak,” tambahnya.
Sementara itu, Supardi Kertabayu mengatakan bahwa karya-karya buatannya memang sejak awal diposisikan sebagai produk kerajinan bernilai tinggi, karena dikerjakan secara manual dengan perhatian besar pada detail, karakter serat, serta kualitas finishing.
“Bagi saya, karya seperti ini memang bukan produk biasa. Setiap prosesnya dikerjakan dengan teliti, mulai dari pemilihan bahan, pembentukan, sampai finishing. Karena itu, dari dulu karya-karya saya memang sudah terbiasa dijual di harga tinggi,” ujar Supardi Kertabayu.
Ia menegaskan bahwa harga tersebut sebanding dengan kualitas, tingkat kesulitan pengerjaan, dan nilai seni yang ada pada setiap produknya.
“Pembeli yang benar-benar paham kualitas biasanya bisa langsung melihat letak nilainya. Jadi ketika ada karya yang terjual dengan harga tinggi, itu bukan sesuatu yang baru, karena memang pasar untuk karya seperti ini sudah ada,” tambahnya.
Di balik nilai estetika yang dimiliki, Diva Darling juga membawa pesan yang lebih luas. Produk ini dikembangkan dengan tujuan menghadirkan alternatif kerajinan bernilai seni tinggi tanpa harus melibatkan bahan yang berasal dari satwa liar.
Melalui konsep tersebut, Diva Darling memiliki visi untuk mengurangi ketertarikan pasar terhadap produk yang berpotensi berasal dari perburuan satwa liar, khususnya gajah. Dengan menghadirkan karya dengan tampilan elegan dan karakter klasik, diharapkan masyarakat tetap dapat menikmati produk kerajinan berkualitas sekaligus ikut mendukung upaya pelestarian satwa liar.
Penjualan mahakarya senilai Rp20 juta ini pun menjadi bukti bahwa karya pengrajin lokal dari Adiwerna, Tegal mampu memiliki nilai tinggi dan mulai mendapat perhatian para kolektor, terutama dengan dukungan promosi melalui media digital.***