SuaraPantura.com - Sebuah foto viral di media sosial yang menunjukkan 7 orang santriwati yang diketahui berasal dari salah satu pondok pesantren di Magetan mengangkat senjata laras panjang dan mengenakan rompi anti pekuru khas petugas keamanan.
Warganet pun banyak yang menanyakan kegiatan pendidikan model apa yang diberikan kepada santri sehingga harus mengenakan senjata laras panjang dan sebuah model tompi peluru.
Polisi pun kemudian turun tangan usai viralnya foto tersebut.
Dari hasil penelusuran, yang ada di dalam foto tersebut merupakan siswa baru dari Sekolah Madrasah Aliyah Tahfidz Baitul Quran Al-Jahra, yang berada di Desa Tawanganom, Kecamatan Magetan, Kabupaten Magetan, di bawah naungan Yayasan Nur Rosyida.
Sementara senjata yang mereka tenteng adalah senjata jenis airsoft gun.
Foto diambil saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Hal itu disampaikan oleh Kapolres Magetan, AKBP Muhammad Ridwan.
Menurutnya foto tersebut merupakan santriwati Ponpes Baitul Quran dan foto yang sedang melakukan masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS).
Kegiatan MPLS itu, berlangsung tanggal 10 hingga 15 Juli 2023 dan melibatkan salah satu even organizer.
Sementara itu Ketua Harian Pondok Pesantren, Isgianto, membenarkan bahwa foto tersebut menampilkan siswi baru yang sedang berpartisipasi dalam peragaan bermain airsoft gun selama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pertengahan bulan Juli 2023.
Ia menyampaikan bahwa airsoft gun adalah salah satu bentuk ekstrakurikuler yang rencananya akan ada di pondok pesantren tersebut.
Pihak pondok dengan orang tua sedang memusyawarahkan hal itu berkaitan dengan perijinan dan perlu tidaknya ekstrakulikuler tersebut diadakan.
Sayangnya foto tersebut tersebar dan viral di media sosial serta dinarasikan seolah-olah bahwa santriwati menerima pendidikan terorisme.***