SuaraPantura.com - Sebelum membahas cara menghitung pesangon PHK, lebih baik kita pelajari dulu pengertian pesangon dan PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) itu sendiri terutama berkaitan dengan adanya UU Cipta Kerja dan PP No.35 tahun 2021 sebagai peraturan turunannya.
Hal ini perlu kita ketahui, sebab cara menghitung pesangon PHK itu ditentukan oleh alasan PHK sesuai PP No 35 tahun 2021 sebagai peraturan turunan dari UU Cipta Kerja.
Selain itu, cara menghitung pesangon ini nantinya akan berkaitan dengan beberapa istilah yang ada pada UU Cipta Kerja maupun PP No. 35 tahun 2021 tentang Perjanjian Kerja Waktu Tertentu, Alih Daya, Waktu Kerja dan Waktu Istirahat, dan Pemutusan Hubungan Kerja.
Jadi sebelum masuk pada rumus cara menghitung pesangon, kita pelajari dulu beberapa istilah seputar pesangon dan PHK, karena nantinya uang pesangon ini akan erat kaitanya dengan alasan PHK.
Besarnya jumlah uang pesangon ini berkaitan dengan Uang Pesangon (UP), Uang Penghargaan Masa Kerja (UPMK), Uang Penggantian Hak (UPH).
Dalam Pasal 40 ayat 1 PP No. 35 tahun 2021 disebutkan bahwa dalam hal terjadi Pemutusan Hubungan Kerja, Pengusaha wajib membayar uang pesangon dan/atau uang penghargaan masa kerja, dan uang penggantian hak yang seharusnya diterima.
Untuk memudahkan ingatan, 4 hal yang perlu kita ingat beserta singkatannya adalah
- Uang Pesangon (UP)
- Uang Penghargaan Masa Kerja (UPMK)
- Uang Penggantian Hak (UPH)
- Uang Pisah (UPs)
Dalam PP No. 35 tahun 2021 Pasal 40 ayat 2, uang pesangon (UP) diatur sebagai berikut:
| Masa Kerja | Besarnya UP |
| kurang dari 1 tahun | 1 bulan upah |
| 1 tahun atau lebih tetapi kurang dari 2 tahun | 2 bulan upah |
| 2 tahun atau lebih tetapi kurang dari 3 tahun | 3 bulan upah |
| 3 tahun atau lebih tetapi kurang dari 4 tahun | 4 bulan upah |
| 4 tahun atau lebih tetapi kurang dari 5 tahun | 5 bulan upah |
| 5 tahun atau lebih tetapi kurang dari 6 tahun | 6 bulan upah |
| 6 tahun atau lebih tetapi kurang dari 7 tahun | 7 bulan upah |
| 7 tahun atau lebih tetapi kurang dari 8 tahun | 8 bulan upah |
| 8 tahun atau lebih | 9 bulan upah |
Dalam PP No. 35 tahun 2021 Pasal 40 ayat 3, uang penghargaan masa kerja (UPMK) diatur sebagai berikut:
| Masa Kerja | Besarnya UPMK |
| 3 tahun atau lebih tetapi kurang dari 6 tahun | 2 bulan upah |
| 6 tahun atau lebih tetapi kurang dari 9 tahun | 3 bulan upah |
| 9 tahun atau lebih tetapi kurang dari 12 tahun | 4 bulan upah |
| 12 tahun atau lebih tetapi kurang dari 15 tahun | 5 bulan upah |
| 15 tahun atau lebih tetapi kurang dari 18 tahun | 6 bulan upah |
| 18 tahun atau lebih tetapi kurang dari 21 tahun | 7 bulan upah |
| 21 tahun atau lebih tetapi kurang dari 24 tahun | 8 bulan upah |
| 24 tahun atau lebih | 10 bulan upah |
Dalam PP No. 35 tahun 2021 Pasal 40 ayat 4, uang penggantian hak (UPH) yang dimaksud adalah:
- Cuti tahunan yang belum diambil dan belum gugur;
- Biaya atau ongkos pulang untuk pekerja/buruh dan keluarganya ke tempat dimana pekerja/buruh diterima bekerja
- Hal-hal lain yang ditetapkan dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan atau perjanjian kerja bersama.
Uang Pisah (UPs) sendiri tidak dijelaskan secara rinci dalam PP No. 35 tahun 2021, namun disebutkan besarnya diatur dalam Perjanjian Kerja, Peraturan Perusahaan atau Perjanjian Kerja Bersama.
Setelah kita mengetahui perhitungan masing-masing komponen uang pesangon (UP), uang penghargaan masa kerja (UPMK) dan uang penggantian hak (UPH), serta Uang Pisah (UPs) mari kita lihat apa saja yang didapatkan pekerja berdasarkan alasan PHK nya.
| Alasan PHK | Pesangon |
| Perusahaan melakukan penggabungan, peleburan atau pemisahan Perusahaan dan Pekerja/Buruh tidak bersedia melanjutkan Hubungan Kerja atau Pengusaha tidak bersedia menerima Pekerja/ Buruh | |
| Pengambilalihan Perusahaan | |
| pengambilalihan Perusahaan yang mengakibatkan terjadinya perubahan syarat kerja dan Pekerja/Buruh tidak bersedia melanjutkan Hubungan Kerja, Pengusaha dapat melakukan PHK | |
| Perusahaan melakukan efisiensi yang disebabkan Perusahaan mengalami kerugian | |
Perusahaan tutup yang disebabkan Perusahaan mengalami kerugian secara terus menerus selama 2 (dua) tahun atau mengalami kerugian tidak secara terus menerus selama 2 (dua) tahun | |
| Perusahaan tutup yang disebabkan bukan karena Perusahaan mengalami kerugian | |
| Perusahaan tutup yang disebabkan keadaan memaksa (force majeure) | |
| keadaan memaksa (force majeure) yang tidak mengakibatkan Perusahaan tutup | |
| Perusahaan dalam keadaan penundaan kewajiban pembayaran utang yang disebabkan Perusahaan mengalami kerugian | |
| Perusahaan dalam keadaan penundaan kewajiban pembayaran utang bukan karena Perusahaan mengalami kerugian | |
| Perusahaan pailit | |
| Adanya permohonan Pemutusan Hubungan Kerja yang diajukan oleh Pekerja/Buruh dengan alasan Pengusaha melakukan perbuatan sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 36 huruf g | |
| Adanya putusan lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial yang menyatakan Pengusaha tidak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 huruf g terhadap permohonan yang diajukan oleh Pekerja/Buruh | |
| Pekerja/Buruh yang mengundurkan diri atas kemauan sendiri dan memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 huruf i | |
| Pekerja/Buruh mangkir selama 5 (lima) hari kerja atau lebih berturut-turut tanpa keterangan secara tertulis yang dilengkapi dengan bukti yang sah dan telah dipanggil oleh Pengusaha 2 (dua) kali secara patut dan tertulis | |
| Pekerja/Buruh melakukan pelanggaran ketentuan yang diatur dalam Perjanjian Kerja, Peraturan Perusahaan, atau Perjanjian Kerja Bersama dan sebelumnya telah diberikan surat peringatan pertama, kedua, dan ketiga secara berturut-turu | |
| Pekerja/Buruh melakukan pelanggaran bersifat mendesak yang diatur dalam Perjanjian Kerja, Peraturan Perusahaan, atau Perjanjian Kerja Bersama | |
| Pekerja/Buruh tidak dapat melakukan pekerjaan selama 6 (enam) bulan akibat ditahan pihak yang berwajib karena diduga melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 huruf l yang menyebabkan kerugian Perusahaan | |
| Pekerja/Buruh tidak dapat melakukan pekerjaan selama 6 (enam) bulan akibat ditahan pihak yang berwajib karena diduga melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 huruf l yang tidak menyebabkan kerugian Perusahaan | |
| Dalam hal pengadilan memutuskan perkara pidana yang merugikan perusahaan sebelum berakhirnya masa 6 (enam) bulan, Pekerja/Buruh dinyatakan bersalah | |
| Dalam hal pengadilan memutuskan perkara pidana yang tidak merugikan perusahaan sebelum berakhirnya masa 6 (enam) bulan, Pekerja/Buruh dinyatakan bersalah | |
| Pekerja/Buruh mengalami sakit berkepanjangan atau cacat akibat kecelakaan kerja dan tidak dapat melakukan pekerjaannya setelah melampaui batas 12 (dua belas) bulan | |
Pekerja/Buruh mengajukan Pemutusan Hubungan Kerja kepada Pengusaha karena alasan Pekerja/Buruh mengalami sakit berkepanjangan atau cacat akibat kecelakaan kerja dan tidak dapat melakukan pekerjaannya setelah melampaui batas 12 (dua belas) bulan | |
| Pekerja/Buruh memasuki usia pensiun | |
| Pekerja/Buruh meninggal dunia | |
Cara menghitung uang pesangon dalam UU Cipta Kerja melalui PP No. 35 tahun 2021 ini memang terlihat lebih rumit karena terlalu banyak variabel pada alasan PHK nya.
Terlepas dari kerumitan tersebut, PP No. 35 tahun 2021 ini memberikan aturan yang lebih rinci dalam cara menghitung uang pesangon karena menyertakan alasan PHK nya.
Untuk mengetahui dan membaca lebih detail terutama pasal 36 yang tidak ditulis dalam artikel ini, silahkan klik link download PP No. 35 tahun 2021 dengan cara KLIK DI SINI.
Demikian cara menghitung pesangon PHK dengan berbagai alasan PHK nya. Semoga bermanfaat.***