HUT Kota Malang, ini Rangkaian Festival Kampung Budaya Polowijen V
Andri Susanto•
Nasional
SuaraPantura.com - Jumat, 1 April lalu Kota Malang genap berusia 108 tahun. Sejak tahun 1914 Kota Malang ditetapkan sebagai Kotapraja. Masyarakat antusias merayakan hari bersejarah itu, salah satunya kampung tematik Kampung Budaya Polowijen.
Penggagas KBP, Isa Wahyudi yang akrab disapa Ki Demang mengatakan, tanggal 1 April juga merupakan hari ulang tahun V KBP. Perhelatan Festival KBP V ini dikemas dalam bentuk wilujengan pahargyan, megengan mapag wulan siam sekaligus nyadran ke makam empu topeng Malang.
Acara dimeriahkan dengan musik angklung binaan KBP. Dilanjutkan dengan tari Topeng Grebeg Jowo KBP, tari Maheswari dari sanggar Denandar Lawang binaan Endar Zulaifah.
Dalam sambutannya, wakil walikota Malang, Sofyan Edi Jarwoko mengatakan ini momentum bersejarah yang sulit terjadi dimana HUT Kota Malang bebarengan dengan HUT KBP yang diemas dalam acara wilujengan, megengan mapag wulan siam kemudian nyadran Ke makam Empu Topeng Malang.
Menurut Sofyan Edi Jarwoko, KBP mewakili Kota Malang sebaga satu-satunya kampung wisata berbasis budaya ini dianggap paling rutin merepresentasikan kegiatan seni tradisi, kegiatan adat, tradisi, ritus sebagai upaya pelestarian budaya.
”Maka tak ayal KBP telah mendapatkan Anugrah Insan Pengembangan Kebudayaan Kota Malang dari Dikbud Kota Malang tahun 2021, serta mendapatkan prestasi sebagai kampung penyelenggara event terbaik se-Kota Malang tahun 2021 dari Disporapar Kota Malang," kata Sofyan Edi.
Sofyan Edi juga mengapresiasi keberadaan KBP selama 5 tahun berproses telah membentuk 3 pilar kelompok KBP, yaitu kelompok Sadar Wisata Binaan Disporapar, Kelompok Seni Budaya KBP binaan Dikbud dan Kelompok Sentra Batik dan Topeng KBP binaan Diskopindag Kota Malang.
“Majunya Kota Malang justru disokong oleh kelompok dan komunitas mandiri seperti KBP dan itu perlu tiru dan diapresiasi," ujarnya.
Rangkaian Festival Kampung Budaya Polowijen V — dok. Istimewa
Memasuki acara Wilujengan Pahargyan HUT Kota Malang ke-108 dan HUT KBP ke-5, digelar tumpeng sakjodo dilengkapi dengan sajen cok bakal jangkep, jenang poncowarno dan jenang palang, kembang setaman, apem dan pisang sebagai pertanda Wilujengan Pahargyan dan Megengan dimulai.
Saat uborampe wilujengan diujubkan (baca: didoakan) oleh Ki Demang, ditampilkan tari Srimpi Limo sebuah tari ritual khusus sebagai tarian doa ungkapan rasa syukur permohonan dan harapan kepada sang Pencipta.
"Selama 20 menit suasana sangat khidmat diikuti dengan komat kamit para tamu dan pengunjung acara pertanda mengamini doa dan sajian tarian," terang Ki Demang.
Setelah pementasan tari Srimpi Lino, dilanjutkan dengan potong tumpeng oleh wakil walikota, dan dilanjutkan dengan dua sajian tarian Sintren. Selama pentas tari, pengunjung dibagikan apem megengan wulan siam.
"Itu sebagai pertanda permintaan maaf KBP kepada semua warga dan pengunjung," ujar Ki Demang.
Acara pamungkas adalah nyadran ke makam empu topeng Malang, Mbah Reni (Ki Tjondro Suwono). Diawali dengan tari Sadran binaan sanggar Denandar Lawang. Nyadran dipandu oleh dalang wayang topeng Malang, Yudhit Perdananto.
Sementara pemimpin doa oleh Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Malang, Ki Soroso yang merupakan guru tari Topeng Malang dari Kedungmonggo. Kemudian, acara ditutup dengan Kidungan oleh Ki Bambang Supriyono, dalang wayang Topeng Malang dan guru Tari Topeng Malang dari Tumpang.
Hadir dalam acara mendampingi Wakil Walikota Malang, Eddy Wijanarko (Ketua Komisi A DPRD Kota Malang), Dr. Ida Ayu Wahyuni, SH (Kepala Disporapar Kota Malang), Ariadi Wardoyo (Camat Blimbing), Rizal (Polsek Blimbing), Nurhasan (Koramil 0833 Blimbing), Babinsa, Babinkamtibmas, LPMK perwakilan RW Kelurahan Polowijen. Hadir pula beberapa ketua Kampung wisata tematik Kota Malang serta pegiat seni budaya Malang termasuk PBN (Perempuan Sanggul Nusantara).***