SuaraPantura.com - Klitih kembali hangat diperbincangkan usai tewasnya Daffa Adzin Albasith.
Ia merupakan Siswa kelas XI SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta ini menjadi korban klitih di Yogyakarta baru-baru inj.
Kejadian tersebut terjadi pada Minggu, 3 April 2022 menjelang sahur, Daffa terjatuh dari motor dengan bersimbah darah setelah kepalanya dihantam gear besi oleh Klitih.
Putra dari anggota DPRD Kebumen ini sempat dilarikan ke RSPAU Dr. Hardjukito namun tak tertolong.
Klitih adalah istilah perilaku agresivitas yang dilakukan dengan sengaja untuk melukai seseorang.
Dalam konteks kenakalan remaja, nglitih atau klitih adalah kegiatan sekelompok pelajar berkeliling menggunakan kendaraan dengan maksud mencari pelajar sekolah lain yang dianggap sebagai musuh.
Aksi Klitih umumnya terjadi di malam hari. Para pelaku klitih biasanya menyusuri ruas jalan yang sepi atau tempat nongkrong, seperti warung bubur kacang ijo (burjo) atau warung kopi.
Penggunaan senjata tajam seringkali menimbulkan luka parah, bahkan kematian para korbannya.
Awal Mula dan Sejarah Klitih
Sosiolog kriminal Universitas Gadjah Mada, Drs. Soeprapto, S.U. melalui kanal Youtube "UGM Channel" menjelaskan, kata klitih berasal dari bahasa Jawa klitah-klitih yang artinya “kegiatan mengisi waktu luang” yang bersifat positif, seperti kegiatan menjahit, membaca, dan sebagainya
Namun, kata klitih di kalangan remaja berkembang menjadi kegiatan mencari musuh dengan naik sepeda motor berkeliling kota.
Drs. Soeprapto, S.U. mengungkapkan, sejarah klitih berawal pada tahun 2007-2009.
Saat itu, pemerintah Yogyakarta sempat membuat kebijakan di sekolah-sekolah bahwa pelajar yang terlibat tawuran akan dikembalikan ke orang tua, baik dalam wujud skorsing maupun dikeluarkan.
Drs. Soeprapto, S.U. menjelaskan, perkembangan klitih berawal dari sekelompok pelajar membentuk geng yang terorganisir dengan struktur inti yang terdiri dari ketua, wakil, bendahara, dan anggota.
Kemudian organisasi inti tersebut berkembang menjadi ‘organisasi inti plus’ dengan para alumni sekolah turut menjadi anggota. Para alumni tersebut sebelumnya juga terlibat aksi klitih saat masih sekolah.
Setelah kelulusan, mereka masih berpartisipasi dalam kelompok yang berisi adik-adik kelas mereka.
Dalam perkembangannya, muncul ‘organisasi inti plus plus’ yang turut melibatkan kelompok preman yang melakukan rekrutmen dan seleksi.
Sejak saat itu, anggota geng klitih dan musuh yang dipilih tidak terbatas pada pelajar saja.
Sasaran korban klitih ternyata tidak sembarang orang. Geng klitih menetapkan aturan spesifik dan tidak akan menyerang korban yang sekiranya tidak bisa dijadikan musuh.
“Mereka punya aturan main. Mereka tidak akan menyerang perempuan, mereka tidak akan menyerang orang tua. Mereka tidak akan menyerang laki-laki dan perempuan yang sedang berboncengan dan mereka tidak akan merampas harta korban.” ujar Drs. Soeprapto, S.U.
Daerah Rawan Klitih di Yogyakarta
Pembahasan tentang Klitih sendiri kini banyak di media sosial Twitter.
Salah satu akun bahkan merilis daerah rawan Klitih di Jogja.
Akun @Azharceria10 menuliskan daerah rawan operasi klitih.
" For your information :
DAERAH YANG RAWAN KLITIH" tulisnya.
Ia menyebut daerah yang rawan Klitih Jogja yakni :
1. Jl kaliurang
2. Jl kabupaten
3. Daerah maguwoharjo
4. Daerah Xt square
5. Selokan mataram
6. Seputaran Ringroad ( barat, utara, selatan, timur )
7. Daerah condong catur
Ia jua memberi tagar #DIYdaruratklitih.
***