Memuat...IDR/USD 16.285▼ 0.12%IHSG 7.842,11▲ 0.64%Emas Rp 1.384.000/grJakarta 29°C ☁

Mengenal Parada Harahap, Wartawan Era Perjuangan Kemerdekaan. Jurnalis Wajib Tahu

Andri Susanto•
Nasional

Oleh: Dr. Phil. Ichwan Azhari, M.S
Sejarawan, Pengajar dan Ahli Filologi Indonesia

SuaraPantura.com - Selain nama jalan pendek di sudut gedung PWI di Medan bernama Jalan Parada Harahap, jurnalis besar ini tidak dikenal oleh sebagian besar wartawan muda di Medan.

Pada masa penjajahan Belanda, Parada Harahap telah menghadapi sebanyak 12 kali pers delik yakni tulisannya diperkarakan Belanda di pengadilan dan akibatnya Parada keluar masuk penjara Belanda gara gara pemberitaannya membongkar praktek penindasan rezim kolonial.

Tidak mengherankan jika di masa itu, Parada Harahap kemudian dikenal sebagai “Raja Pers Delik”.

Karier jurnalisnya dimulai ketika ia menjadi staf redaksi surat kabar terbitan Medan, Benih Merdeka (1918). Kemudian dia kembali ke kampung halamannya di Padang Sidempuan, memimpin surat kabar Sinar Merdeka (1919) dan memimpin majalah Poestaha. Surat kabarnya sebagian besar mengkritik kebijakan pemerintahan kolonial Belanda.

KPK Geledah Djarum, Kasus Cukai Membesar: Di Tengah Rumor Haji Isam dan Masa Depan BCA
Baca Juga · Nasional
KPK Geledah Djarum, Kasus Cukai Membesar: Di Tengah Rumor Haji Isam dan Masa Depan BCA

Tahun 1922, ia pindah ke Jakarta menerbitkan mingguan Bintang Hindia, Bintang Timur dan Sinar Pasundan. Pada saat itu ia mulai memakai nama samaran Oom Baron Matturepeck yang diambil dari bahasa Batak (berarti suara dari kertas).

Selain itu, ia orang pertama yang mendirikan Akademi Wartawan di Jakarta. Pada masa pendudukan Jepang, dia dipercaya menjadi pemimpin redaksi Surat Kabar Sinar Baroe.

Menjelang masa kemerdekaan pada tahun 1945 , ia masuk dalam susunan anggota BPUPKI yang dibentuk oleh Jepang di Jakarta.

Tidak hanya sebagai “Raja Pers Delik” yang tidak ada mengimbanginya, dia juga dijuluki orang kaya yang Raja Koran pada zamannya. Dia membeli mesin cetak koran sendiri untuk mencetak korannya.

Kebut Kelengkapan Barbuk, Penyidik JAM Pidsus Cecar Anak Buah Dirut CNI Derian Sampetoding
Baca Juga · Nasional
Kebut Kelengkapan Barbuk, Penyidik JAM Pidsus Cecar Anak Buah Dirut CNI Derian Sampetoding

Ketua Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS) Soedarjo Tjokro Sisworo (1959) membuat kenangan tentang Parada sebagai Raja Koran dengan menyebut saat itu di Jakarta hanya Parada Harahap wartawan yang kaya, yang bisa mempunyai rumah di pinggir jalan besar dan memiliki mobil.

Tahun 1979 patik memiliki teman sekaligus tetangga bernama Amir Husin Daulay (Doly) ilmuwan belia yang saat itu dapat penghargaan dari LIPI. Pati tulis profilnya di surat kabar Sinar Pembangunan Medan (kini Medan Pos) tempat patik sempat bekerja sebagai wartawan di era itu.

Kelak 30 tahun berikutnya di tahun 2009 patik jumpa Doly yang jadi aktifis pergerakan (tidak jadi ilmuwan pula) dan baru patik ketahui dia adalah cucu Parada Harahap.

Kepada patik diberikannya sejumlah buku karya Parada di antaranya otobiografi opung Parada Harahap dan mengharap agar patik melakukan suatu kegiatan seminar untuk mengenang sang opung. Patikpun pun dihubungkannya dengan makciknya, putri satu-satunya dari Parada Harahap yang masih hidup bernama Farida Harahap.

Seminar tentang tokoh pers besar ini (yang menurut Muhammad TWH layak diusung jadi Pahlawan Nasional) belum sempat dilakukan dan mendadak patik mendapat kabar Doly meninggal dunia. Merasa berhutang, kesana sini masih patik upayakan mencari donasi yang bersedia untuk memperkenalkan tokoh ini.

Pemerintah terlalu sibuk mengurus dirinya sendiri yang kini makin berbelit belit itu, tidak tertarik mengurus tokoh Pers seperti ini. Kalangan pers pun punya kesibukannya sendiri dan tak sempat memikirkan sejarahnya.

BNI Cetak Rekor Rp27,5 Triliun, Kasus Dana Pascatambang Rp112 Miliar Menguji Pengawasan
Baca Juga · Nasional
BNI Cetak Rekor Rp27,5 Triliun, Kasus Dana Pascatambang Rp112 Miliar Menguji Pengawasan

Alangkah baiknya jika misalnya ada semacam Hadiah Jurnalistik Parada Harahap pada wartawan yang berani menulis berita sekalipun berhadapan dengan tembok kekuasaan, seperti Parada Harahap yang keluar masuk penjara.

Sosok Parada Harahap pernah dipamerkan juga dalam Pameran Pers Perjuangan Kemerdekaan Sumatera Utara di Gedung Juang 45 tanggal 9-16 Februari 2017, pameran ini gratis dan terbuka untuk umum.

Pameran diselenggarakan sebagai kerjasama Dewan Harian Daerah (DHD) 45 Sumatera Utara, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumatera Utara dan Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial , Pussis Unimed.***

 

Artikel ini merupakan tulisan dari Dr. Phil. Ichwan Azhari, M.S

Ketua Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan.
Judul asli tulisan: WARTAWAN PUN MELUPAKAN SEJARAH WARTAWAN: PARADA HARAHAP, KELUAR MASUK PENJARA KARENA TULISANNYA MENENTANG BELANDA
Menyongsong Pameran Pers Perjuangan , Medan 9-16 Februari 2017)

Tags:
#pwi#belanda#medan#jurnalis#wartawan#unimed#parada harahap#raja koran
Bagikan:Facebook𝕏 / TwitterWhatsApp

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tulis Komentar

Memuat verifikasi keamanan…