SuaraPantura.com - Beberapa partai baru diketahui akan ikut kentestasi demokrasi di Indonesia, salah satunya adalah Partai Mahasiswa Indonesia.
Hal ini disampaikan oleh Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad mengungkapkan bahwa di Indonesia sudah ada partai baru, yakni Partai Mahasiswa Indonesia. Partai tersebut sudah sah di Departemen Hukum dan HAM (Kemenkum HAM).
Ia mengucapkan selamat datang kepada partai baru tersebut yang mengakomodir para mahasiswa.
Bahkan dia mengajak agar partai baru itu turut berkompetisi mencari kursi di DPR untuk bersama memperjuangkan hak-hak mereka.
"Partai Mahasiswa Indonesia, saya sudah cek memang benar sudah lolos Kemenkum HAM tinggal nanti verifikasi untuk Pemilu,” terang dasco.
Terpisah, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Nusantara mengecam keras terbentuknya Partai Mahasiswa Indonesia.
Mereka menilai bahwa munculnya Partai Mahasiswa Indonesia itu sangat merugikan seluruh mahasiswa di Indonesia.
"Ini sebuah pengklaiman yang sangat merugikan bagi seluruh mahasiswa Indonesia," kata Sekretaris Pusat BEM Nusantara Ridho Alamsyah, kubu ketua umum Dimas Prayoga.
"Ini adalah upaya penggembosan serta pembungkaman yang sangat terstruktur terhadap suara kritis mahasiswa," kata mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muslim Nursantara Medan tersebut.
"Kami juga menduga keras adanya dalang intelektual serta bandar besar dari kalangan elite oligarki politik yang membiayai kemunculan partai ini," imbuhnya.
Dia lantas mengajak seluruh mahasiswa se-Indonesia untuk turut menolak Partai Mahasiswa Indonesia.
Hal yang sama juga disampaikan oleh Ketua Badan Eksekutif Keluarga Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM KM UGM), Muhammad Khalid.
Ia berpendapat bahwa dengan nama 'mahasiswa' dalam nama partai itu, maka risiko yang muncul adalah pencaplokan identifikasi mahasiswa ke salah satu partai.
"Saya menyayangkan ada upaya untuk mengkooptasi identitas mahasiswa, seakan-akan dapat diwakili oleh satu identitas tunggal saja. Ketika mencoba menggeneralisasi identitas mahasiswa, ini representasinya hanyalah semu dan imaginer. Sayangnya kalau pandangan mahasiswa dalam sistem politik ini hanya diwakilkan dalam satu entitas, ini sangat menyempitkan pandangan yang beragam," kata Khalid.
***