Memuat...IDR/USD 16.285▼ 0.12%IHSG 7.842,11▲ 0.64%Emas Rp 1.384.000/grJakarta 29°C ☁

Sebuah Nasionalisme yang Negatif, Keberingasan Netizen Indonesia di Mata Publik Dunia

Novia Fuji Astuti•
Nasional

SuaraPantura.com - Kekuatan netizen Indonesia memang sudah sejak beberapa tahun yang lalu dikenal dan diakui publik Dunia, namun sayangnya reputasi netizen Indonesia sangat buruk di mata warga asing.

'Kelakuan' netizen Indonesia kembali menjadi sorotan. Terbaru, media Swiss menyoroti review negatif netizen Indonesia terhadap sungai Aare, lokasi hanyutnya Emmeril Kahn Mumtadz putra Ridwan Kamil.

Eril sapaan putra sulung Ridwan Kamil itu dilaporkan hilang tatkala berenang di sungai Aare Swiss pada Kamis 26 Mei 2022. Di tengah pencarian, netizen Indonesia disorot media lokal Swiss karena memberi ulasan buruk pada sungai Aare di Google.

Netizen Indonesia memberi satu bintang untuk sungai yang menjadi lokasi wisata itu. Kemudian mengatakan Sungai Aare adalah sungai yang berbahaya dan layak untuk ditutup.

Belum lama pula, Netizen Indonesia pembela Ustaz Abdul Somad (UAS) menyerbu akun Presiden Singapura dan Perdana Menteri Singapura. Hal tersebut dikarenakan UAS dilarang masuk ke Singapura beberapa waktu lalu.

KPK Geledah Djarum, Kasus Cukai Membesar: Di Tengah Rumor Haji Isam dan Masa Depan BCA
Baca Juga · Nasional
KPK Geledah Djarum, Kasus Cukai Membesar: Di Tengah Rumor Haji Isam dan Masa Depan BCA

Mundur satu tahun kebelakang tahun 2021, Microsoft merilis hasil riset yang menunjukkan netizen Indonesia adalah netizen yang paling tidak sopan se-Asia Tenggara. Dan seketika warganet Indonesia menyerbu Instagram Microsoft.

Apakah ini bentuk Nasionalisme?

Pakar media sosial serta analis media sosial Drone Emprit and Kernel Indonesia, Ismail Fahmi, mengomentari netizen yang mengulas negatif sungai Aare, ia mengatakan seharusnya netizen kita berterimakasih kepada pihak Swiss karena turut membantu mencari putra Ridwan Kamil.

"Ini adalah nasionalisme yang negatif. Bukan begini seharusnya nasionalisme. Seharusnya, tampilkanlah bangsa kita sebagai bangsa yang bisa berterima kasih, bukan malah menghujat, mem-bully. Kita tidak boleh bangga dengan sikap itu," Ujarnya, Senin (30/5/2022).

Kebut Kelengkapan Barbuk, Penyidik JAM Pidsus Cecar Anak Buah Dirut CNI Derian Sampetoding
Baca Juga · Nasional
Kebut Kelengkapan Barbuk, Penyidik JAM Pidsus Cecar Anak Buah Dirut CNI Derian Sampetoding

Indonesia perlu mengubah perangai netizen Tanah Air dengan pendidikan.

"Harus diakui, ini cerminan kita. Ini kekurangan yang harus diperbaiki lewat pendidikan," kata Fahmi.

Firman Kurniawan, Pakar komunikasi digital Universitas Indonesia, menilai perangai netizen Indonesia dengan memberi rating satu bintang pada sungai Aare justru menunjukan sikap yang tidak simpatik terhadap upaya pencarian putra Ridwan Kamil.

"Alih-alih diterima sebagai sikap prihatin, pemberian rating itu justru bisa memosisikan netizen Indonesia sebagai sekelompok masyarakat yang berpendapat tanpa data dan fakta," kata Firman.

BNI Cetak Rekor Rp27,5 Triliun, Kasus Dana Pascatambang Rp112 Miliar Menguji Pengawasan
Baca Juga · Nasional
BNI Cetak Rekor Rp27,5 Triliun, Kasus Dana Pascatambang Rp112 Miliar Menguji Pengawasan

"Ulah sebagian kecil netizen Indonesia ini, kemudian dapat menjadi stigma terhadap rendahnya civilization (keberadaban), masyarakat Indonesia. Tentu ini akan merugikan netizen Indonesia yang bersikap baik," kata Firman.

Lebih lanjut ia pun menegaskan perbedaan kemampuan penggunaan media sosial Netizen Indonesia dibanding dengan Negara lain.

"Apakah kita telah membangun budaya-budaya pendukung teknologi dengan serius? Bahwa setiap ada teknologi dan platform baru masyarakat kita cepat menyerapnya, itu satu prestasi. Tapi menggunakan dengan cara yang tepat itu persoalan selanjutnya. Itulah yang akan membedakan kemampuan penggunaan media sosial Indonesia dengan negara lain," tandas Firman.
***

Tags:
#indonesia#nasionalisme#negatif#nitizen
Bagikan:Facebook𝕏 / TwitterWhatsApp

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tulis Komentar

Memuat verifikasi keamanan…
Sebuah Nasionalisme yang Negatif, Keberingasan Netizen Indonesia di Mata Publik Dunia | Suara Pantura | Suara Pantura