Sejarah Kostum Dara Puspita yang Pernah Mendunia Sekaligus Menuai Kontroversi
Andri Susanto•
Nasional
SuaraPantura.com - Hengki Herwanto, anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) kota Malang berpendapat, kostum Dara Puspita memiliki sejarah panjang dalam "mendampingi" perjalanan kelompok musik Dara Puspita. Busana panggung yang dikenakan Dara Puspita merupakan salah satu bukti fisik otentik atas sejarah yang dibangun oleh Dara Puspita.
Hengki mengatakan, bukti otentik lainnya yakni berupa album rekaman, instrumen musik yang dipergunakan, berita-berita di media massa, sampai koleksi foto-foto.
Jamak diketahui, busana panggung Dara Puspita dibuat di Belanda tahun 1970. Kala itu kostum itu dipakai pada pentas di Eropa antara tahun 1970-1971 di beberapa negara, antara lain: Belanda, Belgia, Prancis, dan Spanyol.
"Pentas di beberapa kota di Indonesia antara tahun 1971-1972, busana panggung yang dikenakan merupakan salah satu bukti fisik otentik atas sejarah yang dibangun oleh Dara Puspita," ungkap Hengki Herwanto di Malang, Senin 27 Juni 2022.
Sejarawan TACB kota Malang, Rakai Hino mengatakan, musik Dara Puspita juga menginspirasi lahirnya group wanita di luar negeri. Berdasarkan catatannya, setidaknya ada 2 group yang terinspirasi dari Dara Puspita, yakni Empat Lima dari Melbourne, Australia, dan Loui Loui dari Philadelphia, USA.
Dari aspek kesejarahan, dikatakan Rakai Hino, keberadaan Dara Puspita telah mewarnai secara signifikan sejarah musik di Indonesia tahun 1964-1972 dan pengaruhnya dapat dirasakan sampai sekarang.
“Dara Puspita merupakan bentuk keberanian berekspresi di bawah tekanan rezim Orde Lama yang berusaha membendung budaya barat yang dianggap tidak sesuai dengan kepribadian bangsa," terang dia.
Apresiasi terbaru diberikan oleh Museum Rekor Indonesia (MURI) kepada Dara Puspita. Tanggal 12 Maret 2021, MURI melabeli Dara Puspita sebagai grup band pertama dengan personel perempuan.
Menurut penggagas Kampung Budaya Polowijen, Ki Demang, Dara Puspita telah berjuang membuka mata dunia bahwa bangsa Indonesia mampu bersaing di bidang musik pop di level Internasional.
“Ini juga menunjukkan bahwa wanita Indonesia juga memiliki kemampuan yang sama dengan pria. Dara Puspita membangun kesetaraan gender di bidang musik," ujar Ki Demang.
Menurut Ki Demang, kostum Dara Puspita memiliki dua warna, yakni merah dan putih. Dua warna itu, sambung Ki Demang, melambangkan jiwa nasionalisme yang sangat tinggi sekaligus patriotisme yang di tunjukkan oleh group Dara Puspita lantaran group ini memiliki popularitas internasional plus seluruh anggotanya adalah wanita.
“Didapati pula nilai pendidikan terkait perjuangan emansipasi wanita kala itu yang ditunjukkan dengan simbol pengenaan warna merah putih pada kostum mereka saat show keliling negara Eropa," ungkap Ki Demang.
Tahun 2021, TACB Kota Malang telah mengkaji dan menetapkan benda cagar budaya Kota Malang sebanyak 47 cagar budaya, terdiri dari benda, bangunan struktur dan situs. Sejak tahun 2018, Kota Malang memiliki 78 cagar budaya, salah satunya kostum Dara Puspita.
Sejak diumumkan oleh Walikota Malang, Sutiaji pada 20 Mei 2022, TACB kota Malang telah menetapkan kostum Dara Puspita sebagai benda cagar budaya, bertepatan dengan peringatan hari kebangkitan Nasional.
Namun, kostum Dara Puspita rupanya menuai kontroversi. Sebagian pihak menyatakan agar kostum panggung Dara Puspita disimpan dan menjadi koleksi Museum Musik Indonesia (MMI). Tanpa ditetapkan sebagai cagar budaya, keberadaan kostum panggung Dara Puspita sudah terlindungi secara hukum sebagaimana tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2015 tentang Museum.
Hengki Herwanto yang juga ketua MMI, mengatakan kostum Dara Puspita sudah melalui beberapa tahapan kajian dengan mengacu Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, kemudian Peraturan Daerah Kota Malang Nomor 1 Tahun 2018 tentang Cagar Budaya.
Kepala bidang kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kota Malang, Dian Kuntari mengapresiasi kelompok masyarakat yang mendaftarkan kostum Dara Puspita yang tersimpan di MMI untuk dikaji seberapa besar peluangnya menjadi benda cagar budaya.
”Mengingat kostum ini juga diincar oleh Pemerintah Belanda, maka pihak dinas meminta TACB untuk mengkaji lantas menetapkannya sebagai benda cagar budaya," kata Dian Kuntari saat berbicara dalam talkshow bertajuk 'Kontroversi Dara Puspita' di plataran Museum Empu Purwa, Malang, pekan lalu.
Sementara itu, Ketua TACB Kota Malang, Erlina mengatakan, lagu berjudul 'Soerabaja' kini menjadi lagu ikon kota Surabaya. Menurut Erlina, lagu ini masih sering dinyanyikan oleh penyanyi, grup band atau paduan suara. Bahkan sering diputar di beberapa stasiun kereta api di Surabaya.
"Syair lagu 'Soerabaja' berlatar belakang perjuangan masyarakat Surabaya dalam mempertahankan kotanya dari serbuan penjajah," kata Erlina.
Ia menambahkan, lagu 'Soerabaja' merupakan sebuah karya musik yang memiliki nilai penting dalam pendidikan sejarah kota Surabaya sebagai kota Pahlawan. Dan, Dara Puspita adalah group yang memopulerkan lagu tersebut.
“Dara Puspita sempat rekaman di Inggris dan Belanda yang salah satu lagunya berjudul 'Soerabaja' dalam versi bahasa Inggris," imbuh Erlina.
Rakai Hino menjelaskan, pada era tersebut, di Surabaya terbentuk band wanita dengan 4 orang anggotanya, yaitu Les AR, Titiek AR, Susy Nander dan Anny Kusuma. Nama groupnya Irama Puspita. Setahun kemudian mereka pindah domisili ke Jakarta dan posisi Anny Kusuma digantikan oleh Titik Hamzah. Nama group berubah menjadi Dara Puspita.
Tiga tahun mereka berjuang di Jakarta sampai akhirnya pada tahun 1968 memperoleh kesempatan untuk melakukan tour show ke mancanegara. Sebelumnya, pada tahun 1965 tour mereka masih sebatas negara-negara Asia Tenggara seperti Singapura Malaysia dan Thailand. Lalu tahun 1968 berlanjut ke Asia Tengah, yaitu Iran dan Turki.
"Puncaknya selama 3,5 tahun mereka pentas di berbagai negara Eropa, seperti Hongaria, Belgia, Inggris, Belanda, Jerman, Spanyol, Prancis," kata Rakai Hino.
Hengki Herwanto mengatakan, benda cagar budaya kostum Dara Puspita ini didapatkan dari pemberian Ibu Titiek A Rachman salah satu personel band Dara Puspita. Busana ini diberikan tahun 2015 melalui perwakilan MMI.
Hengki menambahkan, bahan dari busana tersebut adalah kain linen dengan warna merah dan putih sebagai lambang dari Bendera Republik Indonesia. Ukuran panjang adalah 136 cm, lebar 45 cm, dan tebal 5 cm.
"Saat ini busana tersebut disimpan di MMK di jalan Nusa Kambangan, Kota Malang," pungkas Hengki.***