SuaraPantura.com - Tersangka kasus pencabulan santriwati, MSAT alias Mas Bechi yang sebelumnya menjadi DPO ini berhasil membangun simpatisan untuk melindungi dirinya.
Mas Bechi dikabarkan memiliki ilmu Metafakta, semacam ilmu sugesti yang dimanfaatkan untuk memperdaya korban.
Bechi dikenal memiliki ilmu metafakta. Ilmu ini yang dijadikan modus dalam melakukan pencabulan pada santriwatinya. Selain itu, Bechi dikenal sebagai anak band.
Sebelum mencabuli korban, Bechi melakukan modus merekrut korban menjadi salah satu tim relawan kesehatan.
" Modusnya korban dimasukkan oleh seseorang, anak buahnya tersangka untuk menjadi salah satu tim kesehatan, metafakta,” tutur Nun Sayuti, pendamping Korban.
Ternyata perjalanan kasus ini dari tahun 2019.
Korban yang sekaligus merupakan santriwati ini sempat mengaku lelah karena Bechi ta kunjung ditangkap.
Bechi banyak melakukan drama usai ditetapkan tersangka.
Setelah perbuatan cabul itu dilaporkan, Polisi sempat melakukan aksi kejar-kejaran ketika hendak menangkap Bechi. Kala itu, Polisi berhasil menghentikan 11 mobil. Tapi, mereka tidak berhasil menemukan Mas Bechi.
DPO kasus pencabulan santriwati itu diduga berada di salah satu dari 2 mobil yang lolos dari penyergapan. Salah satu mobil yang dihentikan Polisi sempat melakukan perlawanan.
Sebelumnya, berkas perkara pencabulan yang diduga dilakukan Bechi terhadap santriwati dinyatakan lengkap atau P21 oleh Kejaksaan Tinggi Jawa Timur pada 4 Januari 2022.
Maka, Polda Jatim berupaya secepat mungkin melakukan tahap dua atau melimpahkan tersangka dan barang bukti perkara tersebut ke jaksa penuntut umum.
Tetapi, Bechi enggan datang tiga kali panggilan Polda Jatim. Sehingga Polisi pun memasukkan putra kiai pengasuh ponpes di Desa Losari, Ploso, Jombang itu dalam DPO sejak 13 Januari 2022.
Beruntung, Akhirnya Polisi melakukan proses penangkapan Bechi di Pesantren Shiddiqiyyah Ploso pada Kamis 7 Juli 2022.
Hingga saat ini, sebanyak 320 orang diamankan, 20 orang diantaranya merupakan anak-anak.
Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Dirmanto, dalam konferensi pers yang digelar area Pesantren Shidiqqiyyah, Desa Losari, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, mengatakan, sejauh ini ada sekitar 320 orang yang sudah dievakuasi ke Mapolres Jombang.
Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, para simpatisan dan sukarelawan MSAT ini mayoritas dari luar Kabupaten Jombang. Rata-rata mereka merupakan warga dari daerah Malang, Banyuwangi serta dari Jawa Tengah (Jateng). Mereka sudah datang ke pesantren sejak beberapa hari lalu.
"Jumlah simpatisan ini sekitar 320 orang, kemudian 20 diantaranya adalah anak-anak," kata Kombes Pol Dirmanto, Kamis 7 Juli 2022 sore.
***