SuaraPantura.com - Aliansi Front Milenial Jabodetabek (FMJ) bersama Konsolidasi Mahasiswa Nasional Indonesia (KOMANDO) mengecam keras kebijakan pemerintah yang menaikkan harga BBM ditengah perekonomian masyarakat yang baru bangkit setelah terseok-seok akibat pandemi beberapa waktu yang lalu.
Menurut mereka, Pemerintah yang secara sepihak menaikkan harga BBM dinilai telah melukai hati masyarakat Indonesia. Terlebih, kebijakan menaikan BBM juga telah ditolak secara mayoritas fraksi-fraksi di DPR RI.
Walaupun kembali masyarakat mengalami kekecewaan karena pemerintah tetap menaikan BBM, dan DPR hilang ingatan akan sikap mayoritas fraksi menolak kenaikan BBM.
Gerakan mahasiswa tersebut menggugat DPR RI selaku Wakil Rakyat untuk turut bertanggung jawab dan menyatakan sikapnya secara resmi menolak kebijakan naiknya BBM.
Mendesak DPR Menggunakan Hak Interpelasi
Sebagai pembuktian terhadap sikap penolakan terhadap kenaikan harga BBM, Mahadiswa mendesak keenam Fraksi di DPR RI untuk segera melakukan konsolidasi dan mengajukan Hak Interpelasi untuk menyikapi persoalan naiknya harga BBM yang sangat menyengsarakan masyarakat.
Terlebih, DPR RI sebagai lembaga legislatif yang salah satu tugasnya melakukan pengawasan justru tidak dilibatkan dalam pengambilan kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM.
Dikotomi Menaikkan Harga BBM
Selain itu, mahasiswa mempertanyakan kearogansian langkah pemerintah yang meminta salah satu perusahaan minyak agar turut menaikkan harga jual BBM.
Padahal, menurut mereka jika negara selama ini merasa subsidi 70 persen salah sasaran karena dinikmati orang dengan perekonomian mampu, seharusnya negara merasa terbantu dengan harga jual yang lebih rendah yang dilakukan oleh perusahaan minyak tersebut, sehingga masyarakat memiliki pilihan untuk membeli produk sesuai dengan kemampuan ekonominya.
Mencermati berbagai permasalahan tersebut, Aliansi Front Milenial Jabodetabek (FMJ) bersama Konsolidasi Mahasiswa Nasional Indonesia (KOMANDO)
menyatakan sikap:
1. Menaikkan harga bbm, menempatkan kesengsaraan bagi masyarakat;
2. Menaikkan harga bbm, menempatkan krisis kewibawaan lembaga negara;
3. Mendesak pemerintah untuk kembali menurunkan harga BBM yang telah dinaikkan. Serta menuntut tanggung jawab atas sikap penolakan Fraksi-Fraksi yang ada di DPR terhadap kenaikan harga BBM.
Kini mereka masih menggelar aksi untuk merealisasikan tuntutan rakyat tersebut.
***