SuaraPantura.com - Penemuan mayat korban mutilasi di Bantaneng, Sulawesi Selatan menggegerkan warga.
Pasalnya korban diketahui merupakan siswi SMA yang dibunuh kekasihnya karena menolak diajak hubungan intim.
Penemuan mayat perempuan yang diduga korban mutilasi tersebut berawal saat salah seorang pengunjung wisata permandian tersebut hendak buang air besar.
"Kemudian mencari tempat yang agak jauh namun mencium bau yang tidak enak," Ungkap Kapolres Bantaeng, AKBP Andi Kumara.
Karena mencium bau yang kurang enak, warga itu kemudian mencari-cari dan kemudian menemukan salah satu kaki korban yang kemudian melaporkan kepada petugas di lokasi dan akhirnya informasinya diterima oleh Polres Bantaeng.
Polisi yang menerima informasi tersebut langsung menunjuk ke lokasi dan melakukan oleh tempat kejadian perkara serta mengumpulkan saksi-saksi yang diduga memiliki informasi terkait hal itu. Serta mengumpulkan barang bukti.
"Setelah melakukan olah TKP dan mengumpulkan saksi dan bukti yang ada akhirnya kita membagi tugas," jelasnya.
Setelah membagi tugas dan dari keterangan saksi-saksi dan barang bukti yang didapat dari tempat kejadian perkara pihaknya kemudian menangkap salah seorang pemuda berinisial A, 17. Pemuda yang juga pacar korban itu diduga menjadi pelaku mutilasi terhadap korban.
"Terduga pelaku yang ditangkap sekitar pukul 21.00 Wita," jelasnya.
Usai penggalian informasi polisi, alasan pelaku membunh korban pun bikin geram, yakni karena korban menolak diajak berhubungan inyim di pinggir sungai yang kemudian menjadi TKP pembunuhan korban.
Siswi SMA yang sebelumnya dinyatakan hilang kini ditemukan menjadi korban mutilasi sang pacar.
Kejadian ini terjadi di Kabupaten Bantaeng Sulawesi Selatan. Korban diketahui dibunuh pelaku pada Kamis 1 September 2022 dan baru ditemukan pada Minggu 21 September 2022.
Pelaku berinisial A(17) yang juga masih pelajar SMA merupakan pacar korban.
Pelaku awalnya emosi saat korban berinisial M(17) menolak diajak berhubungan badan di pinggir sungai Biangloe, Bantaeng, Sulsel.
Hal ini disampaikan oleh Kapolres Bantaeng AKBP Andi Kumara pada Senin, 12 September 2022.
Ia menyebutkan bahwa awalnya korban menolak diajak berhubungan badan. Pelaku kemudian emosi dan mencekik korban hingga tewas.
"Awalnya pelaku pengin dilayani namun korban menolak, kemudian pelaku emosi dan mencekik korban," ungkapnya.
Tidak sampai disitu, pelaku yang tersulit emosi kemudian memotong memutilasi kaki korban menggunakan batu pipih di sungai tersebut.
" Menggunakan batu pipih di sungai" ungkap Andi.
Namun belakangan pengakuan pelaku berubah. Pengakuan terbarunya, pelaku tak menggunakan batu pipih di sungai, melainkan menggunakan badik.
"Pengakuannya pelaku, inikan berkembang terus. Anak-anak kan tidak bisa dipaksa. Nanti habis rekonstruksi, inikan mau rekonstruksi. Semuanya nanti terbuka karena berubah terus nanti dibilang A rupanya B," kata Andi, dikutip Rabu 14 September 2022.
Menurut informasi, sebelum korban dibunuh, Ia janjian dengan pelaku sepulang sekolah.
Korban dibonceng pelaku ke tempat wisata yang sekarang menjadi TKP.
Motif pelaku pun terungkap, awalnya pelaku cemburu terhadap korban dan menuduh korban memiliki pacar lagi.
Pertemuan hari itu dalam rangka klarifikasi korban dengan pelaku. Kemudian berkembang dengan keinginan pelaku untuk berhubungan badan dan ditolak korban.
Polisi masih mendalami kasus ini, mengingat pelaku masih berusia remaja dan pengakuannya masih berubah-ubah.
***