SuaraPantura.com - Seorang Ahli IT dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Ridi Ferdiana menilai pemerintah tak perlu repot mencari keberadaan hacker Bjorka.
Ridi menyoroti tajam upaya pemerintah membuat tim darurat pengamanan data untuk melacak Hacker Bjorka.
Menurutnya, pemeritah tidak perlu repot melacak identittas hacker. Namun, ia menyarankan agar pemerintah lebih berkonsentrasi terhadap penguatan keamanan siber.
Selain itu disarankan pada tim khusus untuk lebih gencar melakukan edukasi pada masyarakat dan institusi pemerintah untuk memiliki budaya penyimpanan data secara aman.
Dosen Departemen Teknik Elektro dan TI Fakultas Teknik UGM tersebut menambahkan jika sistem perlindungan data tidak selamanya mampu menangkal serangan siber seperti yang dilakukan hacker Bjorka saat ini.
Menurutnya, sistem keamanan harus dilakukan pembaruan seiring pesatnya perkembangan teknologi dari hari ke hari.
"Sistem perlindungan data di sistem manapun tidak akan tahan peluru di lekang zaman,” ujarnya.
“Artinya aman kemarin bukan berarti aman hari ini," imbuhnya.
Lantas, bagaimana upaya yang bsia dilakukan individu untuk mengamankan data pribadi dari peretasan? Ridi menjelaskan masing-masing individu bisa mulai lebih peduli dengan apa yang dibagikan di sosial media, seperti berkas, data pribadi, foto atau pesan instan.
Selain itu, hindari mengisi informasi secara sembarangan seperti pada survei, sistem informasi maupun aplikasi yang belum jelas kebijakan privasi dan datanya.
Kemudian menggunakan password yang kuat atau sulit ditebak seperti membuat password minimal 8-12 karakter dan ganti password berkala setiap 2-3 bulan.
Tak kalah penting, meengaktifkan MFA (Multi Factor Authentication). Aktivasi MFA akan mempersulit peretas mengambil data pribadi Anda.
***