SuaraPantura.com - Kiamat tisu toilet disebut-sebut terjadi di Jerman.
Dampaknya pun tak main-main, banyak perusahaan tisu toilet yang berjatuhan dan menyatakan bangkrut.
Selain itu, harga tisu toilet di Jerman pun naik drastis.
Fenomena kiamat tisu toilet di Jerman ini disebut-sebut sebagai dampak dari perang Rusia-Ukraina.
Rusia diberitakan sudah menutup Nord Stream 1, sebuah pipa yang membentang di bawah Laut Baltik menuju Jerman.
Pipa tersebut merupakan salah satu sumber gas utama di Benua Eropa.
Akibat krisis tersebut, Perusahaan tisu toilet Essity, pemilik sejumlah merek seperti Zewa, Libresse, dan Lotus, menaikkan harga tisu toilet sebesar 18 persen.
Untuk memproduksi satu roll induk tisu toilet dengan lebar dua meter, Essity menghabiskan 700 kilowatt listrik.
Sementara, pabrik tisu toilet lainnya seperti Hakle, yang beroperasi sejak 1982, menyatakan bangkrut.
Mereka mengeklaim lonjakan harga energi, tingginya biaya pulp dan biaya transportasi, membuat bisnis kacau secara finansial.
Beberapa perusahaan telah menyatakan kebangkrutan atau memutus produksi karena melonjaknya harga energi, karena para pemimpin industri meminta pemerintah untuk memperkenalkan batasan harga.
Kepala Kebijakan Energi dan Iklim di Asosiasi Bisnis BDCarsten Rolle,I, menyatakan krisis masih akan terus berlanjut.
Menurut lembaga ekonomi IWH, sekitar 718 perusahaan di Jerman telah bangkrut pada Agustus 2022, melonjak 26 persen dari periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Angka itu diperkirakan tetap berada di sekitar 25 persen pada September, lalu naik menjadi 33 persen pada Oktober 2022.
Industri tisu di Jerman kini meminta Kanselir Olaf Scholz untuk menentukan batas harga energi, yang dianggap sebagai satu-satunya cara untuk menghentikan kebangkrutan.
***