SuaraPantura.com - Terlepas dari usaha keras Pemerintah Indonesia dan sikap bijak FIFA paska tragedi Kanjuruhan sehingga Indonesia urung terkena sanksi berat dari federasi sepak bola dunia, ada latar belakang hubungan baik antara Erick Thohir dengan Presiden FIFA Gianni Infantino.
Selain sesama penggemar berat kulit bundar, hubungan dengan Presiden FIFA sudah dijalin saat Menteri BUMN itu masih menjabat sebagai Presiden Inter Milan di tahun 2015.
"Ketika itu, Gianni Infantino menjadi Sekjen UEFA, sehingga kami sering bertemu. Apalagi dia orang Italia dan juga seorang Interisti, jadi dengan posisi saya di Internazionale FC, maka kami cepat akrab," jelas Erick Thohir, di Jakarta, Sabtu 8 Oktober 2022.
Menteri BUMN Erick Thohir melanjutkan, di tahun 2015, saat sepak bola Indonesia terkena sanksi FIFA akibat kisruh antara Pemerintah, yang diwakili Menpora saat itu, Imam Nahrawi dengan PSSI yang dipimpin La Nyala Matalitti, dirinya mendapat amanah dari Presiden Joko Widodo untuk membantu berkomunikasi kepada FIFA agar sanksi tersebut dicabut.
"Ketika itu, saya bukan siapa-siapa. Jadi kaget juga ketika Bapak Presiden meminta saya untuk mengurus sanksi itu. Akhirnya, karena saya kenal baik dengan Gianni Infantino, maka melalui dia, saya bisa membuka jalur ke FIFA dan menyampaikan amanah Presiden Joko Widodo, sehingga sanksi dicabut tahun 2016 dan hanya berjalan setahun," ungkap Erick Thohir.
Berkat relasi kuat lewat bahasa sepak bola itu pula, untuk kedua kalinya Erick Thohir mengaku kembali meminta bantuan ke Gianni Infantino. Dengan mengantongi amanah dari Presiden Joko Widodo, Erick Thohir pun terbang ke Doha untuk berjumpa Presiden FIFA Gianni Infantino, usai menjalani kunjungan kerja di Eropa.
"Awalnya, ketemu perwakilan FIFA, meski saya sudah berkomunikasi dengan Presiden Gianni Infantino. Apalagi, sebelumnya Presiden Gianni Infantino juga sudah kontak dengan Presiden kita. Akhirnya saya terbang ke Doha untuk berjumpa dengan Gianni Infantino. Saat pertama bertemu, masing-masing susah bicara. Kita orang bola, kita punya perasaan yang sama atas kejadian itu," ujar Erick Thohir.
Menteri BUMN melanjutkan, bahwa mata Presiden FIFA berkaca-kaca saat keduanya bertemu. "Dia bercerita, bahwa semasa kecil sering dibawa ke stadion sepak bola sama bapaknya dan tentu itu sebuah kebahagiaan yang tidak terlupakan, sehingga kejadian di Stadion Kanjuruhan sesuatu yang tidak terpikirkan jika ia harus mengalami," tambahnya.
Oleh sebab itu, Erick Thohir menambahkan sikap bijak FIFA yang bersedia bersama Pemerintah Indonesia melakukan reformasi dan transformasi sepak bola nasional harus benar-benar dijalankan seluruh stakeholder sepak bola Indonesia.
"Ini FIFA yang bijak mau membantu Indonesia. Jadi harus kita laksanakan arahan yang diberikan. Terus terang, hasil positif dari FIFA tak lain karena kedekatan dan kepercayaan yang selama ini terjadi. Jadi jangan pernah disia-siakan kepercayaan yang diberikan," ujar Erick Thohir.***