Suarapantura.com - Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) melontarkan kritik keras kepada PT PLN (Persero) menyusul pemadaman listrik massal atau blackout yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera pada Mei 2026.
Organisasi mahasiswa tersebut menilai peristiwa itu menunjukkan masih lemahnya tata kelola sistem kelistrikan nasional.
Melalui unggahan di akun Instagram resminya, @bemui_official, BEM UI menyebut pemadaman massal tersebut telah berdampak luas terhadap aktivitas masyarakat dan menghilangkan hak warga untuk memperoleh layanan listrik yang andal. Mereka bahkan menyinggung adanya korban jiwa yang dikaitkan dengan insiden tersebut.
“Inkompetensi PLN kembali merenggut hak jutaan warga melalui pemadaman listrik massal ‘blackout’ di Sumatera yang bahkan memakan korban jiwa,” tulis BEM UI dalam unggahannya.
BEM UI menegaskan bahwa peristiwa di Sumatera bukan kejadian pertama. Menurut mereka, gangguan besar pada sistem kelistrikan nasional telah berulang kali terjadi, mulai dari blackout Sumatera pada 2024 hingga pemadaman besar di sistem Jawa-Bali pada 2019.
“Tragedi ini bukanlah hal yang baru. Peristiwa ini merupakan kejadian yang kesekian kalinya dilakukan oleh PLN dan menjadi bukti nyata bahwa PLN inkompeten dalam menjalankan tanggung jawabnya,” lanjut pernyataan tersebut.
Selain menyoroti gangguan sistem, BEM UI juga mengkritik ketergantungan sektor ketenagalistrikan terhadap pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis batu bara. Menurut mereka, dominasi pembangkit berskala besar telah menciptakan sistem yang terpusat dan rentan ketika terjadi gangguan pada jaringan transmisi.
“Dominasi PLTU berskala besar di Sumatera tidak hanya terus memperparah krisis iklim dan lingkungan, tetapi juga menjadi fondasi bagi sistem kelistrikan terpusat,” tulis BEM UI.
Organisasi mahasiswa itu menilai pemerintah dan PLN selama ini lebih fokus menambah kapasitas pembangkit dibanding memperkuat keandalan jaringan transmisi. Akibatnya, ketika terjadi gangguan pada salah satu titik infrastruktur, dampaknya bisa meluas hingga memengaruhi pasokan listrik dalam skala besar.
“Negara terus menambah pembangkit listrik baru, tetapi keandalan dan fleksibilitas jaringan transmisi justru terus diabaikan,” tegas BEM UI.
BEM UI bahkan mencontohkan insiden robohnya salah satu menara transmisi di Jambi yang disebut menjadi pemicu blackout di Sumatera. Menurut mereka, kejadian tersebut menunjukkan rapuhnya sistem distribusi listrik nasional.
“Blackout massal di Sumatera menjadi bukti langsung dari berbagai kelalaian ini. Satu tower transmisi listrik di Jambi tumbang, dan seluruh Pulau Sumatera dipaksa padam,” ungkapnya.
Di akhir pernyataannya, BEM UI mengajak masyarakat untuk ikut mengawasi tata kelola sektor kelistrikan nasional dan mendesak adanya pembenahan menyeluruh di tubuh PLN.
“Jangan biarkan kesewenang-wenangan dan kelalaian struktural ini terus menumbalkan nyawa serta merugikan ekonomi kita. Mari bersuara, lawan monopoli, dan tuntut reformasi total PLN sekarang juga,” tutup BEM UI.