Jejak Hercules di Jakarta: Dari Tanah Abang, Berurusan dengan Hukum, hingga Pimpin GRIB Jaya
Sabila JP•
Suara Warga
Ketua Umum GRIB Jaya, Hercules (Sumber: Viva.co.id)
Suarapantura.com - Nama Rosario de Marshall alias Hercules sudah lama menjadi bagian dari cerita keras Jakarta. Jauh sebelum dirinya dikenal sebagai Ketua Umum Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya, Hercules lebih dulu dikenal sebagai figur yang memiliki pengaruh kuat di kawasan Tanah Abang.
Kini, puluhan tahun berlalu, panggungnya berubah.
Dari kawasan pasar dan jalanan Jakarta, Hercules menjelma menjadi pimpinan organisasi kemasyarakatan yang memiliki jaringan di berbagai daerah.
Namun perjalanan itu tidak sepenuhnya mulus. Ada konflik, perkara hukum, hingga perubahan posisi sosial-politik yang membuat nama Hercules terus muncul dalam pemberitaan.
Lantas, seperti apa sebenarnya jejak Hercules di Jakarta?
Datang ke Jakarta Setelah Perjalanan dari Timor Timur
Rosario de Marshall dikenal berasal dari Timor Timur. Berdasarkan sejumlah laporan, ia mulai menetap di Jakarta sekitar 1987 setelah sebelumnya terlibat sebagai tenaga bantuan operasi atau pekerja logistik yang berhubungan dengan TNI di Timor Timur. Detikcom mencatat Hercules kemudian membangun kehidupannya di Jakarta dan mulai masuk ke kawasan Tanah Abang.
Jakarta ketika itu menjadi medan baru bagi Hercules.
Ia kemudian dikenal bersama kelompoknya di kawasan Tanah Abang. Dari kelompok kecil, jaringan tersebut berkembang dan membuat namanya semakin dikenal.
Pemberitaan media selama bertahun-tahun bahkan menyebut Hercules sebagai salah satu figur yang pernah memiliki pengaruh besar di kawasan perdagangan tersebut.
Tanah Abang, Titik Awal Nama Hercules Membesar
Tanah Abang menjadi salah satu titik paling penting dalam perjalanan Hercules.
Pada era 1990-an, namanya kerap dikaitkan dengan dunia premanisme dan perebutan pengaruh di kawasan tersebut. Kelompok Hercules disebut memiliki jaringan yang cukup besar di Jakarta. Detikcom pada 2022 menyebut kelompok Hercules pernah berkembang hingga memiliki ribuan orang yang tersebar di berbagai wilayah Jakarta.
Namun pengaruh tersebut tidak berlangsung selamanya.
Pada 1996, kelompok Hercules terlibat konflik dengan kelompok yang dipimpin jawara Betawi Muhammad Yusuf Muhi alias Ucu Kambing. Sejumlah sumber mencatat bentrokan tersebut berujung pada tersingkirnya kelompok Hercules dari Tanah Abang.
Kekuasaan di jalanan ternyata tidak abadi.
Tanah Abang menjadi tempat Hercules membangun nama sekaligus tempat pengaruhnya mengalami pukulan besar.
Dari Jalanan ke Dunia Organisasi
Setelah era kejayaannya di Tanah Abang berakhir, perjalanan Hercules memasuki babak baru.
Pada 2011, Hercules mendirikan GRIB. Menurut keterangan pengurus GRIB Jaya yang dikutip IDN Times, organisasi tersebut pada awalnya dibentuk antara lain untuk memperjuangkan masyarakat yang dianggap terzalimi sekaligus memperbanyak dukungan kepada Prabowo Subianto menjelang Pemilu 2014.
Tirto juga mencatat GRIB Jaya dibentuk Hercules pada 1 April 2011 dan pada awalnya berbasis di Jakarta sebelum berkembang ke berbagai daerah.
Artinya, terjadi perubahan besar dalam perjalanan Hercules.
Dulu mengandalkan pengaruh kelompok di jalanan, kemudian membangun kekuatan melalui organisasi.
GRIB Jaya berkembang dan memiliki struktur hingga tingkat daerah. Organisasi itu kini tidak lagi hanya berbicara mengenai Jakarta, tetapi telah memiliki jaringan di berbagai wilayah Indonesia.
Pernah Berurusan dengan Kasus Hukum
Jejak Hercules di Jakarta juga tercatat dalam perkara hukum.
Pada November 2018, Hercules ditangkap Polres Metro Jakarta Barat terkait perkara pendudukan lahan di kawasan Kalideres.
Perkara tersebut kemudian bergulir ke Pengadilan Negeri Jakarta Barat.
Kasusnya berkaitan dengan lahan PT Nila Alam di Kalideres. Hercules didakwa bersama sejumlah orang dalam perkara kekerasan dan pendudukan lahan.
Pada 27 Maret 2019, majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Barat menjatuhkan hukuman delapan bulan penjara kepada Hercules, dikurangi masa tahanan.
Perkara tersebut menjadi salah satu catatan penting dalam perjalanan Hercules setelah dirinya meninggalkan masa kejayaan di Tanah Abang.
Dari Figur Jalanan ke Lingkaran Birokrasi Jakarta
Yang menarik, perjalanan Hercules kemudian memasuki ruang yang sama sekali berbeda.
Pada 2022, nama Hercules kembali muncul dalam pemberitaan setelah dirinya diangkat sebagai tenaga ahli di Perumda Pasar Jaya.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ketika itu menjelaskan bahwa pengangkatan tenaga ahli di bawah direksi merupakan kewenangan direksi, bukan gubernur.
Perumda Pasar Jaya juga menyatakan perekrutan tersebut dilakukan berdasarkan kebutuhan perusahaan dan kewenangan direksi.
Namun secara simbolik, posisi tersebut menarik perhatian.
Sebab, Pasar Jaya merupakan perusahaan milik Pemprov DKI yang mengelola berbagai pasar di Jakarta.
Hercules yang dahulu dikenal lewat Tanah Abang kini kembali masuk ke lingkungan yang berhubungan dengan dunia pasar Jakarta, tetapi kali ini melalui jabatan formal.
GRIB Jaya dan Kedekatan dengan Prabowo
Babak berikutnya adalah politik.
Kedekatan Hercules dengan Prabowo Subianto bukan cerita baru. Sejumlah laporan mengaitkan hubungan keduanya dengan masa Hercules berada di Timor Timur. Detikcom mencatat Hercules menyebut kedekatan emosional dengan Prabowo berawal dari pengalaman tersebut.
Hubungan tersebut kemudian berlanjut ke dunia politik.
GRIB sejak awal juga memiliki orientasi politik untuk mendukung Prabowo. Pada Pemilu 2014 dan Pemilu 2024, GRIB Jaya kembali dikaitkan dengan dukungan terhadap Prabowo.
Namun GRIB Jaya secara organisasi bukan Partai Gerindra.
Di sinilah posisi Hercules menjadi menarik: ia memimpin organisasi massa dengan jaringan luas, sementara secara politik memiliki hubungan dekat dengan figur yang kini menjadi Presiden RI.
Dari Tanah Abang ke Panggung Nasional
Perjalanan Hercules menunjukkan perubahan bentuk kekuatan.
Dulu kekuatan dibangun dari pengaruh di kawasan Tanah Abang. Kini kekuatan dibangun melalui organisasi dengan struktur nasional.
GRIB Jaya menyebut dirinya sebagai organisasi yang bertujuan menghimpun dan memperjuangkan aspirasi masyarakat. Dalam AD-nya, organisasi tersebut juga mencantumkan prinsip demokrasi, kerakyatan, keadilan sosial, serta fungsi meningkatkan kesadaran politik masyarakat.
Namun semakin besar sebuah organisasi, semakin besar pula sorotan publik terhadapnya.
GRIB Jaya dalam beberapa tahun terakhir beberapa kali menjadi perhatian karena konflik maupun kontroversi yang melibatkan anggotanya atau nama organisasi.
Terbaru, setelah kericuhan di Jakarta pada 27 Agustus 2026, nama GRIB Jaya kembali ramai diperbincangkan di media sosial.
DPP GRIB Jaya membantah anggotanya terlibat dalam penganiayaan yang menyebabkan Bambang Setiyawan meninggal dunia dan menyebut tudingan yang beredar sebagai tidak berdasar.
Karena itu, keterlibatan organisasi maupun individu tertentu dalam peristiwa tersebut tetap harus dibuktikan melalui penyelidikan dan proses hukum, bukan semata berdasarkan video atau tudingan di media sosial.
Jejak yang Belum Selesai
Hercules adalah contoh bagaimana seseorang dapat mengalami perubahan posisi yang sangat jauh dalam perjalanan hidupnya.
Dari pendatang asal Timor Timur.
Kemudian menjadi figur yang dikenal di Tanah Abang.
Pernah tersingkir dalam perebutan pengaruh kawasan.
Berurusan dengan perkara hukum di Jakarta Barat.
Lalu masuk ke lingkungan perusahaan daerah.
Dan kini memimpin organisasi massa dengan jaringan nasional.
Perubahan tersebut membuat satu pertanyaan terus relevan:
Apakah perubahan posisi juga berarti perubahan cara menggunakan kekuatan?
Jawabannya tentu tidak bisa hanya dilihat dari masa lalu.
Hercules dan GRIB Jaya kini berada di ruang publik yang jauh lebih besar. Karena itu, ukuran yang semestinya dipakai juga semakin jelas: kepatuhan terhadap hukum, transparansi organisasi, dan sejauh mana kekuatan massa digunakan untuk kepentingan masyarakat tanpa berubah menjadi alat tekanan.
Sebab Jakarta sudah berkali-kali menunjukkan satu pelajaran.
Pengaruh di jalanan bisa membuat seseorang ditakuti. Tetapi pengaruh di ruang publik hanya akan bertahan jika dibarengi tanggung jawab.
Dan jejak Hercules di Jakarta masih terus berlanjut.