Rekening Diduga Dibobol Tiga Kali, Bella Arswendita Tagih Jawaban Bank Mandiri dan OJK
Sabila JP•
Suara Warga
Tangkapan layar dari potongan video komplain terbuka Bella Arswendita ke Bank Mandiri (Istimewa)
Uang di rekening tiba-tiba berkurang. Bukan sekali, melainkan disebut sudah terjadi hingga tiga kali.
Kreator konten sekaligus mantan penyiar Prambors FM, Bella Arswendita, kini mempertanyakan keamanan rekening nasabah setelah mengaku mengalami transaksi yang tidak dikenalnya melalui layanan perbankan digital.
Bella bahkan melontarkan protes keras dan meminta penjelasan dari Bank Mandiri serta regulator terkait.
“Bank Mandiri tolong banget ini mah, masa kejadian lagi yang kayak gini? Saya akan tuntut!” ujar Bella dalam video yang diunggah melalui akun TikTok @bellswen.
Keluhan tersebut pertama kali diunggah Bella pada 28 Agustus 2026 dan kemudian menyebar luas di media sosial.
Menurut pengakuannya, sekitar Rp4,5 juta hilang melalui transaksi yang tercatat di layanan Livin' by Mandiri.
Yang membuat Bella semakin geram, ia mengaku kejadian serupa bukan pertama kali dialaminya.
Mengaku Sudah Tiga Kali Alami Transaksi Misterius
Bella mengatakan sebelumnya juga menemukan sejumlah transaksi yang tidak dikenalnya dengan nominal sekitar Rp200 ribu hingga Rp500 ribu.
Transaksi tersebut, menurut pengakuannya, muncul berulang.
Ia mengaku setiap kali menemukan transaksi mencurigakan, dirinya telah mengikuti prosedur yang diminta pihak bank, termasuk melakukan pemblokiran dan mendatangi kantor cabang.
“Ini bukan kehilangan saya yang pertama, sebelum-sebelumnya saya udah sampai blokir dan udah pokoknya sesuai prosedur. Saya langsung ke bank cabang terdekat,” ujar Bella.
Namun, Bella mengaku transaksi yang dipersoalkan kembali terjadi.
Ia mempertanyakan bagaimana rekening yang telah diamankan dan ditangani sesuai prosedur masih dapat mengalami transaksi yang tidak dikenali.
Transaksi QR dengan Nama Asing
Berdasarkan pengakuan Bella, transaksi yang dipersoalkan tercatat melalui QR dengan nama penerima yang tidak dikenalnya.
Dalam riwayat transaksi, disebut muncul sejumlah keterangan seperti “Digi”, “Tech”, dan “Top Up”.
Bella mengaku tidak pernah merasa melakukan transaksi tersebut.
Ia juga membantah telah memberikan akses rekening kepada orang lain.
Menurutnya, telepon genggam dan akses perbankannya tetap berada dalam penguasaannya.
Bella juga mengaku tidak pernah sembarangan mengeklik tautan mencurigakan maupun memberikan informasi penting kepada pihak yang tidak dikenal.
Karena itu, ia mempertanyakan bagaimana transaksi tersebut bisa terjadi.
“Orang transaksi QR, gak pake pin, handphone yang gak di-hack. Kita juga gak semuanya orang tolol ya, gak yang ngeklik-klik link, kita tau kok,” katanya.
Namun hingga kini, belum ada kesimpulan resmi mengenai penyebab transaksi tersebut.
Belum dapat dipastikan apakah transaksi itu terjadi akibat akses tanpa otorisasi, kesalahan pengguna, penyalahgunaan data, persoalan sistem, atau faktor lainnya.
Kekasih Disebut Kehilangan hingga Rp9 Juta
Bella juga mengaku persoalan serupa dialami oleh kekasihnya.
Menurut pengakuannya, rekening sang kekasih disebut mengalami transaksi yang tidak dikenali dengan nilai kerugian sekitar Rp8 juta hingga Rp9 juta.
Selain itu, Bella mengaku melihat sejumlah pengguna media sosial lain yang menceritakan pengalaman serupa.
Ada yang mengaku kehilangan uang mulai dari Rp10 juta hingga Rp25 juta.
Namun, klaim dari pengguna media sosial tersebut belum dapat dipastikan memiliki pola, penyebab, maupun modus yang sama.
Belum ada bukti resmi yang menyimpulkan seluruh kejadian tersebut merupakan satu rangkaian kejahatan perbankan atau kebocoran sistem tertentu.
Soroti Proses Pengembalian Dana
Selain mempertanyakan penyebab transaksi, Bella juga menyoroti lamanya proses penyelesaian pengaduan.
Ia menyinggung mekanisme chargeback atau proses pengajuan pengembalian dana atas transaksi yang dipersoalkan.
Bella mencontohkan pengalaman pengajuan chargeback atas transaksi sebelumnya di BCA yang menurut pengakuannya dapat memakan waktu hingga 50 hari kerja.
Baginya, persoalan tersebut tidak sederhana.
Nasabah yang kehilangan uang, kata Bella, tetap harus memenuhi kebutuhan hidup dan kewajiban sehari-hari sambil menunggu hasil investigasi.
“Gak semua orang keadaan ekonomi itu bisa nunggu sampai 50 hari sampai uang itu kembali. Kalau sampai nggak bisa makan gimana?” ujarnya.
Di titik inilah persoalan keamanan rekening digital kembali menjadi sorotan.
Nasabah bukan hanya membutuhkan sistem yang aman.
Ketika terjadi sengketa transaksi, mereka juga membutuhkan kejelasan proses, batas waktu penanganan, dan kepastian mengenai peluang pengembalian dana.
Tagih Jawaban Bank Mandiri dan Regulator
Dalam unggahannya, Bella menandai sejumlah pihak, termasuk Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, Kementerian Keuangan, Bank Mandiri, hingga BCA.
Ia meminta penjelasan mengenai bagaimana transaksi yang tidak dikenalnya dapat terjadi.
Bella juga mempertanyakan langkah apa yang harus dilakukan nasabah agar dapat memperoleh kepastian ketika menghadapi transaksi yang mereka klaim tidak pernah dilakukan.
“Pengen denger dari Bank Indonesia atau dari bank manapun kejelasan kenapa ini bisa terjadi dan bagaimana caranya biar uang kita bisa kembali?” katanya.
Keluhan tersebut kemudian menyebar luas di media sosial.
Salah satu laporan menyebut video Bella sempat memperoleh ratusan ribu tayangan dan puluhan ribu kali dibagikan.
Warganet pun ikut mempertanyakan keamanan dana nasabah di tengah semakin masifnya penggunaan aplikasi perbankan digital.
Kasus yang diungkap Bella pada akhirnya bukan hanya soal nominal sekitar Rp4,5 juta yang menurut pengakuannya hilang.
Ada pertanyaan yang lebih besar.
Seberapa cepat bank dapat mendeteksi transaksi mencurigakan?
Bagaimana nasabah dapat membuktikan bahwa transaksi benar-benar tidak dilakukan olehnya?
Dan yang paling penting, berapa lama nasabah harus menunggu hingga mendapatkan kepastian?
Transaksi digital memang menawarkan kecepatan dan kemudahan.
Namun, ketika uang nasabah mendadak berkurang akibat transaksi yang tidak dikenali, kecepatan sistem seharusnya juga diikuti dengan kecepatan investigasi dan penanganan pengaduan.
Bella bahkan menyatakan akan mempertimbangkan langkah hukum apabila persoalan tersebut tidak mendapatkan penyelesaian.
Hingga saat ini, belum ada kesimpulan resmi mengenai penyebab transaksi yang dipersoalkan Bella.
Belum pula dapat dipastikan apakah terdapat tindak kejahatan siber atau penyebab lain di balik transaksi tersebut.
Karena itu, seluruh dugaan mengenai transaksi tanpa otorisasi masih memerlukan hasil investigasi resmi dari pihak bank dan pihak berwenang.
Publik kini menunggu penjelasan.
Bukan hanya soal bagaimana uang itu bisa berpindah.
Tetapi juga soal seberapa aman sebenarnya uang nasabah ketika seluruh transaksi kini semakin bergantung pada sistem digital.