Memuat...IDR/USD 16.285▼ 0.12%IHSG 7.842,11▲ 0.64%Emas Rp 1.384.000/grJakarta 29°C ☁

BCA Ikut Danai 13 Proyek, Kredit Rp27,6 Triliun: Besar di Angka, Transparansinya Bagaimana?

Sabila JP•
Suara Warga

ilustrasi nasabah bca. Foto: Ist

Suarapantura.com - BCA tercatat ikut masuk dalam pembiayaan 13 proyek besar dengan nilai partisipasi kredit sindikasi mencapai US$1,54 miliar atau sekitar Rp27,6 triliun hingga 1 Oktober 2026.

Angka tersebut merupakan porsi kredit BCA dalam skema sindikasi, bukan total nilai 13 proyek. Nilai proyek secara keseluruhan dapat lebih besar karena pembiayaan melibatkan sejumlah bank dan sumber dana lainnya.

Namun justru di sinilah persoalannya.

Ketika BCA menyebut angka Rp27,6 triliun sebagai capaian pembiayaan, publik berhak mengetahui lebih jauh kualitas aset yang berada di balik angka tersebut.

Sebab kredit jumbo bukan sekadar prestasi ekspansi. Setiap rupiah yang disalurkan membawa risiko dan harus dikembalikan oleh debitur.

Bukan Sekadar Soal Berani Kucurkan Kredit

BCA menempatkan diri sebagai salah satu pemain besar dalam kredit sindikasi. Berdasarkan Bloomberg League Table Reports, BCA berada di posisi keempat Mandated Lead Arranger dengan partisipasi US$1,54 miliar.

Manajemen menyatakan pembiayaan dilakukan dengan mempertimbangkan risk appetite, likuiditas dan modal.

Pernyataan itu terdengar meyakinkan.

Tetapi dalam bisnis perbankan, klaim soal manajemen risiko harus dibuktikan oleh kualitas kreditnya, bukan hanya disebut dalam pernyataan korporasi.

Apalagi 13 proyek tersebut tersebar di sektor yang memiliki tingkat risiko berbeda, seperti pertambangan dan hilirisasi, energi, infrastruktur, kawasan industri, properti, manufaktur, telekomunikasi dan data center.

Tidak semuanya memiliki karakter arus kas yang sama.

Ada proyek yang membutuhkan waktu panjang sebelum menghasilkan pendapatan. Ada pula sektor yang sangat sensitif terhadap harga komoditas, permintaan pasar, regulasi dan kondisi ekonomi.

Artinya, kualitas setiap pembiayaan tidak bisa hanya dibaca dari statusnya sebagai “proyek strategis”.

Mahasiswa Sultra-Jakarta Desak Usut Dugaan Pelanggaran Tambang PT KPI dan PT ASKON
Baca Juga · Suara Warga
Mahasiswa Sultra-Jakarta Desak Usut Dugaan Pelanggaran Tambang PT KPI dan PT ASKON

Risiko Tidak Hilang karena Sindikasi

Skema sindikasi memang membagi pembiayaan di antara beberapa bank.

Tetapi pembagian porsi tidak menghapus risiko.

Jika proyek mengalami masalah, masing-masing kreditur tetap berhadapan dengan konsekuensi sesuai struktur pembiayaan dan porsinya.

Karena itu, publik membutuhkan informasi yang lebih substansial daripada sekadar total partisipasi BCA.

Misalnya, apakah 13 proyek tersebut seluruhnya berjalan sesuai jadwal? Apakah ada yang mengalami keterlambatan? Apakah terjadi perubahan struktur pembiayaan? Apakah ada debitur yang mengalami tekanan arus kas?

Tanpa gambaran tersebut, angka Rp27,6 triliun lebih banyak berbicara mengenai seberapa besar BCA menyalurkan kredit, bukan seberapa sehat kredit tersebut.

Dari Tambang hingga Properti, Risiko Berbeda

Portofolio yang luas memang dapat menunjukkan diversifikasi.

Tetapi diversifikasi bukan berarti risiko otomatis rendah.

Pembiayaan pertambangan dan hilirisasi menghadapi volatilitas komoditas serta perubahan kebijakan.

Properti sangat bergantung pada daya beli dan permintaan.

Infrastruktur dan energi menghadapi risiko konstruksi, pembengkakan biaya, perizinan hingga keterlambatan proyek.

Data center membutuhkan investasi besar dan bergantung pada pertumbuhan permintaan serta kemampuan operator menghasilkan pendapatan sesuai proyeksi.

Rp21,58 Juta Mengendap, Rekening Malah Minus: Nasabah Tagih Penjelasan CIMB Niaga
Baca Juga · Suara Warga
Rp21,58 Juta Mengendap, Rekening Malah Minus: Nasabah Tagih Penjelasan CIMB Niaga

Dengan kondisi seperti itu, pengawasan setelah kredit dicairkan sama pentingnya dengan keputusan ketika kredit pertama kali disetujui.

Jangan sampai due diligence kuat di atas kertas, tetapi pengawasan melemah setelah dana mengalir.

Publik Berhak Tahu Kualitas di Balik Rp27,6 Triliun

BCA tidak harus membuka informasi rahasia debitur kepada publik.

Namun secara prinsip, transparansi mengenai kualitas portofolio tetap penting.

Publik setidaknya perlu memperoleh gambaran apakah pembiayaan tersebut berada dalam kondisi sehat, apakah terdapat kredit bermasalah, dan bagaimana bank mengantisipasi risiko apabila proyek tidak berjalan sesuai proyeksi.

Sebab ukuran keberhasilan kredit bukan ketika akad ditandatangani.

Ukuran sebenarnya adalah ketika debitur mampu membayar kembali pinjaman berikut bunganya tanpa menimbulkan masalah bagi bank.

Di situlah manajemen risiko diuji.

Jangan Terjebak Kebanggaan Ranking

Peringkat keempat dalam Bloomberg League Table memang menunjukkan posisi BCA dalam pasar kredit sindikasi.

Tetapi ranking bukan sertifikat bahwa kualitas seluruh kredit yang disalurkan aman.

Bank bisa menjadi pemain besar dalam pembiayaan sekaligus menghadapi tekanan apabila kualitas aset memburuk.

Karena itu, mengejar posisi sebagai Mandated Lead Arranger harus berjalan beriringan dengan disiplin menjaga kualitas kredit.

Refund Rp999 Ribu Mandek, Tokopedia Tunjuk BNI: Konsumen Terjebak di Tengah, Siapa Bertanggung Jawab?
Baca Juga · Suara Warga
Refund Rp999 Ribu Mandek, Tokopedia Tunjuk BNI: Konsumen Terjebak di Tengah, Siapa Bertanggung Jawab?

Pertumbuhan kredit yang agresif tanpa kualitas aset yang kuat hanya akan memindahkan persoalan ke masa depan.

Rp27,6 Triliun Tetap Harus Dipertanggungjawabkan

Perlu ditegaskan kembali, Rp27,6 triliun bukan total nilai investasi 13 proyek. Itu adalah nilai partisipasi kredit BCA dalam pembiayaan sindikasi.

Namun sebagai nilai kredit, jumlah tersebut tetap besar.

Di baliknya terdapat keputusan analisis kredit, penilaian kelayakan proyek, struktur jaminan, proyeksi arus kas, kemampuan debitur, serta mekanisme pengawasan yang harus bekerja.

Jika semua berjalan baik, pembiayaan tersebut dapat menjadi mesin pertumbuhan ekonomi sekaligus menghasilkan pendapatan bagi bank.

Tetapi jika proyek bermasalah, konsekuensinya tidak berhenti pada laporan proyek.

Risiko tersebut dapat masuk ke kualitas aset bank.

Karena itu, BCA seharusnya tidak hanya bangga pada besarnya kredit yang berhasil ditempatkan. Yang lebih penting adalah memastikan kredit tersebut tetap sehat sampai lunas.

Pada akhirnya, publik tidak membutuhkan parade angka pembiayaan.

Yang dibutuhkan adalah bukti bahwa di balik Rp27,6 triliun kredit BCA, terdapat proyek yang layak, debitur yang sehat, pengawasan yang ketat, dan risiko yang benar-benar dikendalikan.

Sebab dalam perbankan, kredit besar bukan prestasi jika pada akhirnya berubah menjadi kredit bermasalah.

Tags:
#Bank BCA#Kredit#Korporasi#Proyek
Bagikan:Facebook𝕏 / TwitterWhatsApp

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tulis Komentar

Memuat verifikasi keamanan…