BCA Gandeng Malaysia Airlines dan Novus, Bisnis Makin Lintas Negara—Keamanan Data Nasabah Siapa Jamin?
Sabila JP•
Suara Warga
logo bank BCA. Foto: freepik
Suarapantura.com - BCA kembali memperlebar panggung bisnisnya ke lintas negara. Bersama Malaysia Airlines dan Novus Technologies Pte. Ltd., bank ini meneken Nota Kesepahaman (MoU) untuk mengembangkan pembayaran lintas negara, layanan valuta asing, treasury, data, kecerdasan buatan (AI), pemasaran hingga program loyalitas pelanggan.
Di atas kertas, kerja sama ini terdengar menggiurkan. Namun, ketika bank membawa transaksi, data dan perilaku nasabah ke dalam ekosistem lintas negara, pertanyaannya bukan lagi sekadar seberapa besar bisnis yang bisa digarap, tetapi seberapa kuat pengamanannya.
Kerja sama tersebut memang belum berarti seluruh layanan langsung beroperasi. MoU menjadi kerangka bagi ketiga pihak untuk menjajaki peluang di bidang perjalanan, perdagangan, layanan keuangan dan teknologi digital.
Justru di titik itulah pertanyaan penting muncul.
Bukan Cuma Soal Transaksi, Tapi Data Nasabah
BCA dan dua mitranya akan mengeksplorasi lima bidang utama, yakni pembayaran dan layanan keuangan, valuta asing serta treasury, data dan AI, pemasaran, serta ekosistem loyalitas.
Artinya, jika seluruh rencana tersebut berkembang menjadi layanan nyata, integrasi tidak hanya menyentuh uang, tetapi juga berpotensi bersinggungan dengan informasi transaksi, pola perjalanan, perilaku konsumen dan preferensi pelanggan.
Novus sendiri diposisikan sebagai mitra teknologi dan integrasi yang menjembatani ekosistem ketiga pihak.
Siapa yang memegang data? Siapa yang boleh mengaksesnya? Di mana data diproses? Bagaimana data nasabah dilindungi ketika sistem melibatkan perusahaan dari yurisdiksi berbeda?
Pertanyaan tersebut bukan untuk menuduh adanya kebocoran atau pelanggaran. Justru karena kerja sama ini membawa sistem perbankan ke ruang yang semakin luas, transparansi mengenai pengamanan menjadi penting sejak awal.
BCA Sudah Agresif Masuk Pembayaran Cross Border
Langkah dengan Malaysia Airlines dan Novus juga bukan ekspansi pertama BCA di sektor pembayaran lintas negara.
BCA telah mendukung implementasi QRIS Cross Border, termasuk untuk transaksi Indonesia-China. Bank tersebut menyebut transaksi QRIS Cross Border yang diproses sistemnya pada kuartal I 2026 meningkat 355 persen secara frekuensi dan 318 persen secara nilai dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Semakin besar volume transaksi lintas negara, semakin besar pula tuntutan terhadap sistem keamanan, pemantauan transaksi dan pengendalian risiko.
Dengan kata lain, pertumbuhan transaksi tidak boleh hanya dibaca sebagai keberhasilan bisnis. Ia juga harus dibaca sebagai bertambahnya tanggung jawab pengawasan.
Malaysia Airlines Dapat Akses Ekosistem, BCA Dapat Apa?
Dari sisi Malaysia Airlines, Indonesia disebut sebagai salah satu pasar internasional terpenting. Rute Jakarta-Kuala Lumpur mencatat tingkat ketepatan waktu 92,19 persen secara year-to-date hingga Agustus 2026, dan maskapai tersebut mendapat penghargaan Most On-Time International Airline 2026 dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara pada September 2026.
Namun, bagi BCA, kerja sama ini jelas bukan sekadar urusan tiket pesawat.
Ada pembayaran, settlement, valas, treasury, data, AI, pemasaran dan loyalitas yang masuk dalam meja pembicaraan.
Wakil Presiden Direktur BCA Armand Hartono menyebut integrasi kapabilitas pembayaran, settlement dan digital diharapkan dapat melayani nasabah yang bepergian, berbelanja maupun menjalankan bisnis melampaui batas Indonesia.
Pertanyaannya kemudian menjadi lebih besar:
Semakin banyak layanan yang terhubung, apakah sistem pengawasan BCA juga ikut diperkuat dengan standar yang sama agresifnya?
Jangan Sampai Nasabah Hanya Menjadi Sumber Data
Ekspansi digital memang menawarkan kemudahan. Nasabah tidak perlu berpikir panjang ketika melakukan transaksi di luar negeri, sementara bank mendapat peluang memperluas bisnis.
Tetapi ada garis yang tidak boleh kabur: kemudahan nasabah tidak boleh dibayar dengan ketidakjelasan mengenai bagaimana data dan transaksi mereka dikelola.
Apalagi kerja sama ini menyebut data dan AI sebagai salah satu pilar strategis.
BCA dalam laporan tahunannya menyatakan menjaga standar KYC dan anti-pencucian uang dalam hubungan perbankan internasional serta terus memperluas infrastruktur pembayaran lintas negara.
Komitmen tersebut tentu menjadi modal penting.
Namun, ketika integrasi semakin luas, publik layak mendapatkan jawaban yang lebih konkret: seberapa jauh data nasabah dapat dibagikan dalam ekosistem kerja sama, siapa yang bertanggung jawab jika terjadi kesalahan sistem, dan bagaimana mekanisme perlindungan nasabah ketika transaksi melibatkan lebih dari satu negara?
Sebab, memperluas jaringan bisnis memang mudah dipromosikan sebagai konektivitas.
Yang jauh lebih penting adalah memastikan konektivitas itu tidak membuka celah baru bagi risiko keamanan, penyalahgunaan data, maupun sengketa transaksi.
BCA boleh mengejar bisnis lintas negara.
Tetapi semakin jauh bank melangkah, semakin tinggi pula tuntutan agar uang dan data nasabah tetap berada di balik pagar pengawasan yang kuat.