Memuat...IDR/USD 16.285▼ 0.12%IHSG 7.842,11▲ 0.64%Emas Rp 1.384.000/grJakarta 29°C ☁

Warna Sosial Agama Hindu Desa Linggoasri Kabupaten Pekalongan

Tim Suara Pantura 01•
Suara Warga

Penulis : M. Faisal Afandy

(Penulis merupakan kader HMI Komisariat Walisongo)

SuaraPantura.com - Sebelumnya saya akan memaparkan sedikit mengenai penjelasan dari pengertian sosiologi. Sosiologi dapat kita ketahui secara kajian adalah sebuah ilmu pengetahuan yang mempelajari mengenai bidang masyarakat, selain itu sosiologi juga berperan untuk membantu masyarakat memahami dan mengatasi berbagai masalah sosial, seperti ketidaksetaraan, fenomena masyarakat, dan perubahan sosial, ilmu sosiologi juga memiliki konsep utama yakni stratifikasi sosial yang mengarah terhadap lapisan masyarakat yang bersifat terbuka karena adanya faktor perbedaan mengenai tingkatan dalam bermasyarakat, adanya faktor dari stratifikasi sosial sendiri terjadi karna terdapat kedudukan yang di peroleh atau di ciptakan secara berbeda.

Mahasiswa Sultra-Jakarta Desak Usut Dugaan Pelanggaran Tambang PT KPI dan PT ASKON
Baca Juga · Suara Warga
Mahasiswa Sultra-Jakarta Desak Usut Dugaan Pelanggaran Tambang PT KPI dan PT ASKON

Stratifikasi sosial terbuka mengacu pada lapisan kelas sosial sebagaimana dengan mudahnya mengetahui orang-orang dalam naik atau turunnya kelas sosial mereka sendiri yang bersifat dinamis, Kabupaten Pekalongan terdapat salah satu desa yang bisa kita ketahui dari stratifikasi sosial yang bersifat campuran yaitu desa Linggoasri.

Desa Linggoasri dapat dijadikan contoh stratifikasi sosial terbuka secara vertikal karna dengan adanya keragam corak keyakinan atau kebebasan dalam beragama yang dianut oleh masyarakat desa Linggoasri, kelas sosial yang terdapat di desa Linggoasri juga sangat mudah untuk diketahui dalam tingkatan keagamaannya yang begitu jelas.

Rp21,58 Juta Mengendap, Rekening Malah Minus: Nasabah Tagih Penjelasan CIMB Niaga
Baca Juga · Suara Warga
Rp21,58 Juta Mengendap, Rekening Malah Minus: Nasabah Tagih Penjelasan CIMB Niaga

Agama Hindu di kalangan lapisan masyarakat menjadi agama kedua dengan penganut terbanyak di desa Linggoasri, agama Hindu mempunyai corak adat istiadat yang sangat beragam dengan banyaknya tradisi terhadap penempatan kasta atau warna individu di tingkat sosial yang ternyata terdapat perbedaan, sebagian besar masyarakat Indonesia mengetahui dan meyakini adanya
perbedaan dari kelas kasta atau warna pemeluk agama hindu seperti di Bali, tetapi menurut gagasan pemuka agama Hindu di desa Linggoasri sendiri mencetuskan dan mengatakan yakni penempatan seseorang mengenai kelas kasta atau warna dalam agama Hindu adalah salah satu bentuk kekeliruan yang telah terjadi sejak dulu dan diciptakan oleh aliran bangsa barat yang menjadikan bentuk kesenjangan sosial.

Pedoman yang telah di pelajari oleh masyarakat desa Linggoasri yang memeluk agama Hindu pada kitab wedha, bahwa manusia dapat dibedakan berdasarkan profesinya atau warnanya kemudian kelas sosialnya dapat dibedakan berdasarkan warnanya bukan karena perihal kasta, dan bilamana seorang brahmana mempunyai anak yang berperilaku buruk atau tidak baik, anak tersebut tidak dapat dikatakan sebagai brahmana juga, maka dari itu dapat kita ketahui dari ketoleransiannya bahwa di desa Linggoasri sendiri tidak ada kasta.

Refund Rp999 Ribu Mandek, Tokopedia Tunjuk BNI: Konsumen Terjebak di Tengah, Siapa Bertanggung Jawab?
Baca Juga · Suara Warga
Refund Rp999 Ribu Mandek, Tokopedia Tunjuk BNI: Konsumen Terjebak di Tengah, Siapa Bertanggung Jawab?

Melalui gagasan dari pemuka agama Hindu di desa Linggoasri tersebut bisa kita ketahui dengan adanaya kenyataan perbedaan kelas sosial yang ternyata selama ini yang di ketahui dari banyaknya individu adalah kasta namun dari referensi menurut kitab suci agama Hindu sendiri diketahui bahwa struktur membedakan bersumber dari profesi atau warnanya.

Di desa Linggoasri demikian memiliki perbedaan strata tersendiri, bagi penganut agama Hindu tidak menerapkan kasta untuk menjadikannya tolak ukur sosial tetapi menggunakan profesi (warna), dengan adanya lapisan masyarakat yang diperoleh dari agama Hindu di desa Linggoasri dalam kelas sosial paling tinggi di tempati oleh brahmana, yang di maksud dari brahmana sendiri adalah tokoh rohaniwan atau panindita, kemudian dalam kelas sosial menengah di tempati oleh para ksatria, yang dimaksud dalam kelas sosial dari para ksatria di Linggoasri seperti para pegawai pemerintahan, dan kelas sosial selanjutnya adalah waisya, yang mana kelas sosial waisya sendiri dari warna waisya yang di tempati oleh para pedagang dan warna sudra di tempati oleh para petani dan pekebun dari masyarakat Linggoasri sendiri.

Berdasaran kepercayaan agama Hindu di desa Linggoasri menduduki lapisan dengan adanya tokoh-tokoh pemimpin agama yang demikian dapat membantu mengarahkan masyarakat Linggoasri dari tingkat kepercayaan dan mewadahi antar perbedaan adat istiadat yang dipercayai dari keyakinan masyarakatnya sendiri.***

Tags:
#agama hindu#linggoasri#pekalongan#jawa tengah
Bagikan:Facebook𝕏 / TwitterWhatsApp

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tulis Komentar

Memuat verifikasi keamanan…