Memuat...IDR/USD 16.285▼ 0.12%IHSG 7.842,11▲ 0.64%Emas Rp 1.384.000/grJakarta 29°C ☁

Menakar LGBT dalam kacamata Hukum Positif

Tim Suara Pantura 01•
Suara Warga

Oleh : Adi Attsani, SH. Adv
(Penulis adalah Divisi Kajian & Advokasi, LBH PU Jateng)

SuaraPantura.com - Akhir-akhir ini isu tentang LGBT atau Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender mencuat kembali ke publik. Apalagi setelah grup band asal London, Coldplay berencana akan menggelar konser di Jakarta pada 15 November 2023 yang akan datang, konon harga tiketnya pun cukup fantastis. Kedatangan grup band yang populer dengan lagu “Yellow” ini menuai pro-konta publik, apalagi setelah diketahui vokalisnya Chris Martin merupakan pendukung LGBT, dan kerap membawa bendera LGBT pada konsernya.

Sebetulnya, LGBT bukanlah isu baru di negeri ini. Isu ini semacam proxy war yang di impor atau bahkan sengaja disusupkan masuk ke dalam negeri. Namun, kali ini saya tidak sedang membahas tentang konspirasi terkait hal itu.

Fenomena kaum LGBT merupakan persoalan hukum, sebab hal tersebut merupakan perbuatan hukum, yakni perbuatan yang berkaitan dengan seksualitas. Dimana para pelaku LGBT ini mereka memperjuangkan eksistensinya untuk diakui secara legal di Indonesia. Beberapa waktu lalu misalnya, AILA (Aliansi Cinta Keluarga) meminta hubungan sejenis dilegalkan oleh MK atau Mahkamah Konstitusi. Adapun materi gugatan AILA tersebut adalah pasal 284, 285, dan 292 KUHP yang mengatur perzinahan, pemerkosaan, dan pencabulan anak. Namun, dalam putusannya MK menolak permohonan tersebut.

Secara norma, baik norma agama, norma sosial maupun norma hukum seksualitas merupakan perbuatan yang memiliki nilai kesucian. Oleh karenanya, hal tersebut diatur dalam suatu ikatan perkawinan, di Indonesia hal tersebut diatur dalam UU Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan yang kemudian diubah dengan UU Nomor 16 Tahun 2019 Tentang Perubahan atas UU Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan.

Dalam pasal 1 UU Perkawinan menyebutkan : “Perkawinan ialah ikatan bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”, sementara pasal 2 UU Perkawinan menyebutkan, “Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu”.

Dengan demikian, jelaslah bahwa ikatan perkawinan adalah ikatan yang suci yang tujuannya adalah membentuk keluarga yang kekal dan bahagia yakni bertujuan melahirkan keturunan. Sementara perilaku seksualitas LGBT menentang kodrat tersebut, sehingga tidak mungkin mendapat keturunan.

Mahasiswa Sultra-Jakarta Desak Usut Dugaan Pelanggaran Tambang PT KPI dan PT ASKON
Baca Juga · Suara Warga
Mahasiswa Sultra-Jakarta Desak Usut Dugaan Pelanggaran Tambang PT KPI dan PT ASKON

Sebuah perkawinan dalam frasa Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu. Sependek pengetahuan saya, bahwa semua agama ataupun kepercayaan apapun yang diakui di Indonesia tidak ada satupun yang membolehkan pernikahan sesama jenis. Perbuatan tersebut selain bertentangan dengan fitrah manusia juga merupakan tindakan yang melanggar norma agama. Sebagiamana ketentuan dalam pasal 8 huruf (f) UU Perkawinan menyatakan perkawinan dilarang antara dua orang yang “Mempunyai hubungan yang oleh agamanya atau peraturan lain yang berlaku, dilarang kawin”.

Sehingga jelas, bahwa LGBT merupakan perbuatan yang secara hukum bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang ada. Meskipun dilakukan atas dasar suka-sama suka, apalagi ada sebagian kalangan yang ingin melegalkan hubungan tersebut, maka dapat dikategorikan sebagai perbuatan melawan hukum.

Perbuatan Melawan Hukum tersebut adalah pelanggaran terhadap UU Perkawinan, yakni sebagaimana disebutkan dalam pasal 1 UU Perkawinan, "Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa".

Pendapat ini juga diperkuat oleh salah satu pakar hukum pidana Universitas Indonesia, Chudry Sitompul. Menurutnya LGBT itu dilarang berasal dari semangat UU Perkawinan yang secara gamblang menyebut ikatan lahir batin antara pria dengan wanita.

Sebagiamana dikutip dari CNN, ia mengatakan "Semangat UU Perkawinan itu melarang LGBT. Perkawinannya dilarang pasti turunannya dilarang dong. Ini penafsiran".

Rp21,58 Juta Mengendap, Rekening Malah Minus: Nasabah Tagih Penjelasan CIMB Niaga
Baca Juga · Suara Warga
Rp21,58 Juta Mengendap, Rekening Malah Minus: Nasabah Tagih Penjelasan CIMB Niaga

Bahkan, jika perbuatan tersebut dilakukan dengan paksaan, intimidasi ataupun bujuk rayu dapat dikategorikan perbuatan pidana sebagaimana diatur dalam KUHP. Sehingga tidak heran kiranya pendukung kelompok ini memperjuangkan untuk mengubah ketentuan dalam beberapa pasal KUHP sebagaimana tersebut diatas, di MK untuk dilakukan Judivial Review. Namun, sekali lagi kita perlu mengapresiasi keputusan MK yang telah menolak permohonan tersebut.

Lantas, apa saja penyebab LGBT?

Faktor-faktor penyebab LGBT menurut Fatimah Asyari antara lain : Keluarga, Pergaulan dan Lingkungan, Biologis, Moral dan Akhlaq, dan Pengetahuan Agama yang Lemah. Sehingga dari beberapa faktor tersebut seharusnya yang dicarikan adalah solusinya, bukan sebaliknya justru memperjuangkan diakuinya eksistensi kaum LGBT.

Sementara menurut Green dan Blanchard, LGBT merupakan ganguan identitas gender yang muncul sejak masa kanak-kanak antara lain pada usia 2-4 tahun. Ganguan tersebut berkaitan dengan hormon dalam tubuh.

Lebih lanjut, Kaplan, Sadock dan Greeb menjelaskan bahwa tubuh manusia menghasilkan hormon testosteron yang mempengaruhi neuron otak, dan berkontribusi terhadap maskulinisasi otak yang terjadi pada area seperti hipotalamus, dan sebaliknya dengan hormon feminis.

Refund Rp999 Ribu Mandek, Tokopedia Tunjuk BNI: Konsumen Terjebak di Tengah, Siapa Bertanggung Jawab?
Baca Juga · Suara Warga
Refund Rp999 Ribu Mandek, Tokopedia Tunjuk BNI: Konsumen Terjebak di Tengah, Siapa Bertanggung Jawab?

Islam memandang LGBT.

Islam adalah agama yang mayoritas dianut oleh 80% lebih penduduk Indonesia. Sementara dalam kacamata Islam, memandang bahwa LGBT adalah perbuatan haram. Sebab manusia diciptakan dengan kodratnya sebagai laki-laki dan perempuan. Bukan homoseksual, baik Gay maupun Lesbian.

Bahkan dalam al-Qur'an banyak sekali ayat yang menyampaikan tentang hal itu. Misalnya dalam Surah adz-Dzariyat : 49, Surah an-Najm : 45, Surah al-Ankabut : 28, dan masih banyak ayat-ayat lainnya.

LGBT bukan saja penyimpangan, tetapi juga ancaman kemanusiaan. LGBT bisa mengancam eksistensi manusia, sebab dengan hubungan sesama jenis manusia lama kelamaan akan punah. Disamping itu perbuatan tersebut juga menjadi sarana menyebarkan penyakit kelamin. Sampai hari ini, kaum Gay masih menjadi faktor dominan penyebaran penyakit HIV/AIDS. ***

 

-----------------------------
Refensi :
- UU Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan;
- UU Nomor 16 Tahun 2019 Tentang Perubahan atas UU Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan;
- Fatimah Ashary, Jurnal Legalitas Volume 2 Nomor 2, Desember 2017;
- Abdul Mukhid, Jurnal Sosial, Politik, Kajian Islam dan Tafsir Volume 1 Nomor 1, Juni 2018;
- Buletin Dakwah Kaffah Edisi 294

Tags:
#hukum positif#lgbt
Bagikan:Facebook𝕏 / TwitterWhatsApp

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tulis Komentar

Memuat verifikasi keamanan…