Oleh: Nur Sidik, S.Pd
SuaraPantura.com - Sesungguhnya, tulisan ini adalah sebuah bentuk pidato atau orasi yang akan dibacakan penulis (Nur Sidik, S.Pd) pada upacara hari Senin ini. Namun karena suatu hal, upacara yang sedianya dilaksanakan tadi pagi ditiadakan dan diganti pembinaan langsung oleh Kepala SMP Al Khairiyyah; Aziz Aminuddin, S.pd.I.
Akan menjadi suatu hal yang mubadzir jika tulisan ini hanya akan terendap dan teronggok "mubadzir" begitu saja jika tidak ada yang mendengarkan atau membacanya.
Puji syukur kita semua masih diberi kesehatan, nikmat iman dan islam, serta nikmat Kemerdekaan dari Allaah SWT, sesuai UUD'45;
"Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya." Sholawat serta salam pada Kanjeng Nabi Sang Manusia Revolusioner dan Aktivis Kemanusiaan yang sangat luar biasa.
Masih dalam Hari-hari Kemerdekaan Indonesia marilah kita semua sebagai generasi penerus bangsa untuk selalu mensyukuri nikmat kemerdekaan dengan melakukan tindakan-tindakan dan perbuatan positif.
Buatlah beliau-beliau para pejuang bangsa yang telah sudi berkorban nyawa merasa tenang di alam kuburnya dan membuat mereka bangga pada kita sebagai generasi pembangunan bangsa.
Kita, kalian (pelajar) semua adalah para pemuda generasi penerus bangsa yang berpotensi dan sudah seharusnya memiliki potensi agar bisa membangkitkan semangat mereka para pejuang bangsa untuk tetap mengisi kemerdekaan.
Saya bacakan sebuah puisi yang sangat apik dan dahsyat dari Sutardji Calzoum Bachri, Presiden Penyair Indonesia. Karya beliau yang ini memang khusus diciptakan untuk menyambut HUT RI.
"Wahai Pemuda Mana Telurmu?"
Apa gunanya merdeka
Kalau tak bertelur?
Apa gunanya bebas
Kalau tak menetas?
Wahai bangsaku.. Wahai Pemuda.. Mana telurmu?
Burung, jika tak bertelur,
Tak menetas
Sia-sia saja terbang bebas
Kepompong menetaskan kupu-kupu
Kuntum membawa bunga
Putik jadi buah
Buah menyimpan biji.. Menyimpan mimpi.. Menyimpan pohon
dan bunga-bunga
Uap terbang menetas awan
Mimpi jadi, sungaipun jadi
menetas jadi Hakekat lautan
Setelah kupikir-pikir, Manusia ternyata burung berpikir
Setelah ku renung-renung Manusia adalah burung merenung
Setelah bertafakur, Tahulah aku.. Manusia harus bertelur
Burung membuahkan telur
Telur menjadi burung
Ayah menciptakan anak
Anak melahirkan ayah
Wahai pemuda.. Wahai Garuda..
Menetaslah
Lahirkan lagi
Bapak bagi bangsa ini!!!
Menetaslah seperti dulu
Para pemuda bertelur emas
Menetas kau
Dalam sumpah mereka
(7 Agustus 2010)
Puisi “Wahai Pemuda mana telurmu?” karya Sutardji Calzoum Bachri ini harus menjadi penggugah dan semangat pelajar dan pemuda untuk menemukan identitas mereka dan berperan aktif dalam membangun masa depan yang gemilang. Puisi ini menyampaikan pesan bahwa Kebebasan Merdeka harus melahirkan kembali semangat perjuangan, dan berkontribusi nyata bagi kemajuan bangsa dan negara, harus menjadi penyemangat pelajar dan pemuda di Indonesia yang sekarang menjadi generasi penerus bagi bangsa. Hendaknya kalian, para pelajar dan pemuda Indonesia untuk siap bertelur dan menetas sebagai tanda bahwa kita sudah menetas. Bertelur artinya adalah ketika bangsa Indonesia telah merdeka seharusnya ada kehidupan baru yang lahir dari diri bangsa Indonesia lewat pemuda seperti kalian ini. Perumpamaan yang digunakan yang lainnya adalah putik memangil buah. Dan menetas artinya ialah ketika bangsa Indonesia telah bebas dari penjajahan seharusnya lahir kalian-kalian sebagai pribadi yang baru untuk memajukan bangsa ini seperti perumpamaan kepompong yang kemudian menetas menjadi kupu-kupu.
Pemuda Indonesia diibaratkan sebagai burung berpikir yang maksudnya ia memiliki pikiran dan harus bertelur atau melahirkan generasi-generasi baru bagi bangsa Indonesia.
Naah lewat bait yg lain, "Ayo garuda mana telurmu. Menetaslah seperti dulu Para pemuda bertelur emas". Jelas kita ketahui bahwa pemuda Indonesia sangat berpotensi besar dalam meneruskan perjuangan bangsa Indonesia dan melahirkan generasi emas, seperti kalian.
Melalui perumpamaan burung, kupu-kupu, dan uap yang menetas, kalian harus mengerti betapa pentingnya transformasi dan perubahan sebagai bagian dari kehidupan. Misal, burung yang tak bertelur dan kupu-kupu yang tak menetas itu akan dianggap sia-sia meski mereka memiliki kebebasan. Telur yang menetas menjadi burung, dan burung yang bertelur melahirkan generasi baru, mencerminkan siklus kehidupan yang berkelanjutan dan pembaharuan yang diperlukan untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Puisi tadi juga seharusnya menjadi pengingat kalian para pelajar pemuda bahwa kalian harus berani menghadapi masa depan dengan hati yang berani, semangat yang teguh dan kuat, dan dedikasi yang kuat serta bisa melahirkan ide-ide yang cemerlang dan harus menghasilkan kontribusi yang berarti bagi bangsa dan negara tercinta kita ini.
Puisi tadi juga mengajak para pelajar pemuda untuk mengenal diri mereka sendiri dan untuk menemukan jati diri mereka sebagai pemuda yang berdedikasi untuk mewujudkan cita-cita bangsanya.
Dalam bait-bait terakhir, puisi diatas juga membangkitkan semangat nasionalisme dengan memanggil pemuda, yang diibaratkan sebagai Garuda, untuk menetas dan melahirkan kembali semangat perjuangan para pendahulu kita.
Penulis hendak menekankan pada para pelajar pemuda, betapa pentingnya kalian dalam melanjutkan dan meneruskan cita-cita bangsa, sebagaimana disebutkan dalam sumpah pemuda.
Inti dari Amanat puisi diatas, kesimpulannya adalah kalian para pelajar dan pemuda Indonesia, haruslah meneruskan perjuangan pejuang dan pendiri bangsa Indonesia dan membangkitkan semangat yang tak kenal menyerah dari apa yang ditinggalkan oleh para pejuang dan pendiri bangsa tercinta ini.
Akhir kalimat, penulis mengambil kutipan dari tokoh dunia, Mantan Presiden Amerika John F Kennedy, "Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang kamu berikan kepada negara".***
Nur Sidik, S.Pd
(Guru Bahasa Indonesia SMP Al Khairiyyah - Pengurus Dewan Kesenian (Komite Sastra) - Pengurus Lesbumi PCNU Kota Tegal)