Oleh: Noer Sidik
Disaat pemerintah pusat membatalkan PPKM Level 3, namun di episentrum atau pusat kota Tegal, yang sejak dahulu kala sebagai tempat berkumpulnya orang banyak atau disebut juga ruang publik tanpa syarat (apalagi hanya untuk pejalan kaki) begitu sangat dibatasi pergerakan kehidupan masyarakat setempat maupun warga kota Tegal umumnya yang akan lalu lalang ditempat tersebut.
Pemerintah terkesan mengambil keputusan sepihak tanpa memperhatikan kepentingan warga disitu khususnya yang berjualan dan berdagang, baik yang mempunyai toko maupun pedagang kaki lima yang lainnya.
Beberapa waktu yang lalu, warga menggelar doa bersama sebagai bentuk keprihatinan dan meneruskan kegiatan protes tersebut dengan membuat bendera kuning ditiap-tiap depan rumah dan toko sebagai simbol matinya perekonomian rakyat dan matinya nurani dan empati pemerintah kota terhadap nasib rakyatnya.
Protes warga jg didukung oleh kajian-kajian yang dilakukan beberapa ahli. Abdullah Sungkar, yg biasa penulis panggil dengan nama akrab "ami" Sungkar, seorang ahli tata kota dan juga mantan anggota DPRD Kota Tegal, dalam laman sosial medianya, yakni facebook sudah menghimbau sedikit menyarankan, "Design ini mungkin bisa jadi win-win solution di jalan Pancasila Kota Tegal. Shared street design ini memungkinkan pedestrian, mobil, dan bisnis bisa berjalan berdampingan. Mobil aman dengan on street parking (plus parking lot) karena geometrik jalan yang memungkinkan untuk itu.
Dan lebar jalan Pancasila sangat memungkinkan. Sebetulnya pemkot Tegal juga gunakan design on street parking semacam ini di jalan Ahmad Yani, hanya pemanfaatannya untuk food truck. Dan masih banyak street calming device yang lain untuk melambatkan laju kendaraan. Kalau serius untuk pedestrian way, maka aspal tidak digunakan, paving sebagai gantinya." Demikian saran ami abdullah Sungkar.
Masyarakat juga sudah banyak yang tahu, bahwa digunakannya aspal di jalan sebesar itu untuk kegiatan tahunan (dan mungkin bulanan, hehe) seperti balap mobil, event pertemuan komunitas moge, dan lain sebagainya.
Budayawan Tegal Teguh Puji Harsono, yg biasa penulis panggil dengan sebutan Kangmas TPH dalam laman facebooknya jg memposting sesuatu hal, walaupun tidak nyambung dengan permasalahan Alun-alun dan sekitarnya, karena yang beliau tulis berkaitan dengan Guci yang dikapitalisasikan, tapi saya bisa menarik korelasinya, bahwa ini ada kearifan lokal yang "dilanggar" pemerintah daerah.
Kangmas TPH mengatakan dalam bahasa kearifan lokal "Sithik Eding" atau "Satitik Edhang" yang berkonsep membawa pesan kesadaran Empati atau 'tepo sliro' bagi yang besar kepada yang kecil, bagi yang berkuasa kepada yang tidak berkuasa dan bagi yang kaya kepada yang miskin sehingga tidak muncul rasa 'dumeh' apalagi 'adigang-adigung'.
Kemudian postingan itupun saya komentari, "men pada bombonge nggeh kangmas", yang langsung juga beliau jawab, "Yaul um sengsong. Enyong tah rada katon mrekitik kye. Ana sing dolanan gunung, ana sing dolanan alun-alun. Loro2'ne simbol budaya kabeh." Dalam hatipun saya menjawab, "Tunggu bae apa kena tulah'e".
*Penulis dikenal dengan nama panggung teater, Senksonk; pegiat seni budaya di kota Tegal