Oleh : Aristianto Zamzami
SuaraPantura.com - 31 Oktober 2025, Di banyak tempat dengan tradisi dan budayanya dirayakan sebagai hari hallowen. Suatu perayaan yang menampilkan parade anak-anak (dan kadang kala beserta orang dewasanya) memakai kostum bertema menyeramkan seperti hantu, penyihir, vampir dll. Berkeliling dari rumah ke rumah, meneriakkan kalimat "Treat or Trick" yang berarti beri kami sesuatu atau kami kerjai, dan si empunya rumah akan membalas dengan memberikan makanan manis sebagai ganti agar tidak dikerjai.
Tradisi hallowen ini dipercaya sebagai upaya untuk menolak bala / keburukan (penyihir pada awalnya-penulis). Menggunakan simbol costum mahluk kegelapan untuk mengusir kegelapan itu sendiri, unik bukan? Seakan menyiratkan pesan, bahwa fitrah manusia untuk senantiasa kembali kepada kebenaran.
Ironisnya ditanggal yang sama, Sebuah tragedi terjadi di Sibolga Sumatra Utara. Seorang musafir yang hendak singgah di sebuah masjid dikabarkan meninggal setelah diduga terjadi penolakan dan berlanjut pada pengeroyokan. Kasus ini masih dalam proses investigasi, namun publik sudah terlanjur tersentuh (bahkan terguncang) oleh kenyataan bahwa seseorang yang mencari perlindungan di rumah ibadah justru kehilangan nyawanya.Tragedi ini menyita perhatian karena terjadi di tempat yang seharusnya menjadi pusat kasih sayang dan perlindungan
Padahal sejarah mencatat, di masa Rasulullah SAW, masjid adalah pusat kemanusiaan—ruang diskusi, tempat istirahat musafir, hingga tempat merawat mereka yang terluka.Dalam tradisi Islam, memuliakan tamu dan membantu musafir bukan sekadar nilai moral, melainkan bagian dari ajaran yang sangat dijunjung tinggi. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari).
Tentu kita perlu jujur: masjid kini menghadapi tantangan baru. Ada potensi gangguan keamanan, penyalahgunaan fasilitas, hingga masalah sosial seperti gelandangan dan orang dengan gangguan jiwa yang kadang hadir tanpa kontrol. Takmir masjid sering berada dalam posisi dilematis. Banyak takmir yang bekerja berdasarkan kebiasaan, bukan panduan. Mereka bukan tenaga kemanusiaan terlatih. Dan di situlah akar persoalan: kita memperlakukan masjid hanya sebagai tempat ibadah ritual, bukan lembaga sosial-keagamaan.
Ketika musibah terjadi, banyak yang menyalahkan individu atau kelompok tertentu. Namun masalah ini tampaknya lebih sistemik. Hingga kini, mayoritas masjid di Indonesia belum memiliki standar operasional tertulis untuk menerima musafir, menolong orang asing, atau menangani situasi sosial rentan. Kiranya kita umat muslim semua perlu berbenah dan belajar untuk menjadikan masjid & mushola kita, bukan hanya sekedar bangunan suci, melainkan ruang amanah sosial.
Tragedi musafir di Sibolga bukan sekadar peristiwa. Ia adalah cermin.
Pertanyaannya: apa yang kita lihat dalam pantulannya? Apakah masyarakat yang penuh empati? Ataukah umat yang perlahan kehilangan rasa belas kasih karena rasa curiga menguasai hati?
Rumah Allah seharusnya menjadi tempat paling aman di bumi. Tempat di mana seseorang dapat mengetuk dalam kesusahan (dan yakin akan diterima). Semoga kita bisa merenungkan, seperti hallowen yang mengajarkan pesan: dibalik kegelapan manusia bisa menemukan cahaya dan kebenaran. Niscaya ditempat dimana cahaya dan kebenaran berada (Rumah Ibadah), kegelapan akan sirna.
Penulis adalah mahasiswa pascasarjana Univ. Muhadi Setiabudi Brebes. Pemerhati masalah sosial dan Cosplayer amatir sejak 2004.