Oleh : Aristianto Zamzami
SuaraPantura.com - Belakangan ini Brebes seperti berubah jadi alam semesta sinetron: heboh, dramatis, dan penuh plot twist. Tiba-tiba muncul isu bahwa sejumlah instansi pemerintah, termasuk sekolah SD dan SMP, diduga “dirayu dengan penuh Cinta Gila” untuk membeli tiket konser Dewa 19. Bahkan disebut-sebut ada yang pakai dana BOS dan anggaran Unit Organisasi Berbasis Fungsional (UOBF).
Dana BOS, saudara-saudara. Uang yang biasa dipakai buat beli buku tulis, simsalabim dipake beli meet & greet Ahmad Dhani.
Sebagai mahasiswa yang punya hobi cosplay, saya biasanya beli tiket event pakai uang pribadi. Pun demikian adanya ketika dulu mba Melody masih jadi Oshi saya di JKT48. Tiap ada kesempatan nge-WOTA otomatis dana dari kantong sendiri yang keluar. Lah ini saya tersentak, apakah kita sedang hidup dalam lagu “Mistikus Cinta”? Bagaimana mungkin dana sekolah bisa tiba-tiba berubah wujud jadi tiket konser? Apakah ini sihir? Atau cuma kreativitas pejabat yang overdosis improvisasi?
Pihak Dinas Pendidikan juga sudah bilang: dana BOS itu bukan “Persembahan Dari Surga” yang bebas dipakai untuk hiburan. Jadi kalau benar ada oknum yang maksa beli tiket, itu bukan kebijakan—itu fanbase pribadi yang kebablasan.
Saya juga fans Dewa 19. Kalau dinyanyikan “Kangen”, saya ikut nyanyi. Tapi kalau yang hilang bukan cinta, melainkan anggaran pendidikan, saya auto berubah jadi karakter anime yang matanya menyala merah, dan ingin nge Rider Kick pelaku kebijakan ngawur ini
Mari kita jujur kalau guru diminta beli tiket, pegawai dinas diminta setor, dan sekolah diminta memakai dana BOS, itu bukan promosi budaya. Itu side quest yang tidak pernah kita klik. Dan rakyat punya hak untuk berkata, “Cukup Siti Nurbaya! Jangan teruskan drama tragis yang sudah sering terjadi.”
Kalau benar mau memajukan seni, buat konser GRATIS untuk siswa dan masyarakat umun. Selesaikan itu RTH (Ruang Terbuka Hijau) di Kecamatan Bumiayu sebagai ruang berkesenian dan berkebudayaan. Jangan libatkan dana BOS, dana dinas, atau dana rahasia yang konon “tersimpan di lemari belakang ruang kepala sekolah”.
Sebab dana BOS itu punya tujuan mulia. Ia bukan “Elang” yang bisa terbang ke konser mana saja. Ia adalah pondasi pendidikan. Dan pondasi itu tidak boleh digoyang hanya karena ingin berjoget semalam bersama nostalgia 90-an.
***
Penulis merupakan Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Muhadi Setia Budi | Pengusaha Muda | Aktivis HMI-KAHMI | Cosplayer | Pencinta Pop Culture