SuaraPantura.com - Gemerlap pembangunan mustinya tak memakan korban. Apalagi memangsa orang-orang miskin demi syahwat membangun yang berlebihan.
Pada Pedagang Kakilima (PKL) yang sudah puluhan tahun mencari nafkah seketika terkoyak koyak dan hilang mata pencahariannya akibat pembangunan yang gencar dilakukan Pemerintah.
Kota Tegal menjadi saksi ketika hampir ratusan pedagang kehilangan lapak dagangannya di lokasi eks-taman poci (sekarang taman pancasila) dan sekitaran Alun-alun Kota Tegal.
Pedagang yang terlunta tersebut hilang mata pecahariannya karena tempat relokasi yang dijanjikan Pemerintah tidak layak dan tak mampu mengakomodir manfaat ekonomi yang harusnya bisa dinikmati Pedagang Kaki Lima.
Para pedagang yang sudah kadung pinjam modal di Bank setelah lapaknya tergusur mengakibatkan angsuran kewajibannya macet. Beberapa aset aset yang diagunkan bahkan mulai terancam disita.
Salah satu pedagang, Miko bahkan menceritakan nasib kawan sejawatnya sampai ada yang terkena serangan Stroke setelah mengalami penggusuran.
Ada lagi yang paling miris, salah satu teman PKL nya setelah mengalami penggusuran psikisnya terganggu. Bahkan sekarang statusnya sudah ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa).
Kisah ini juga dibenarkan oleh ketua irganisasi PKL Orpeta, Edy Bongkar. Kedepan kisahnya akan kami rangkum dalam reportase khusus.
Uforia pembangunan yang kita nikmati hari ini keindahannya rupanya telah menginjak-injak kemanusiaan dan menindas Rakyat miskin yang kini tengah mengais harap.
Pujasera yang telah dijanjikan tak kunjung teralisasi, bertahun tahun kini mereka menanti dengan ketersiksaan batin dan ekonomi atas kebijakan yang dinilai tak manusiawi.
Ke depan jika kebijakan kebijakan busuk terus ditumbuh kembangkan, maka malapetaka akan terus menghantui. Rakyatnya mati, ekonominya juga turut mati.
***